AL-ANFAAL (8)
AL-ANFAAL: 29
TAKWA KEPADA ALLAH DAN KEUTAMAANNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Perintah untuk bertakwa sangat banyak terdapat dalam Al-Qur'an. Namun, di sini perintah itu disampaikan dengan lafal syarat karena Allah SWT berbicara dengan para hamba sesuai dengan kebiasaan para hamba berbicara dan berkomunikasi sesama mereka. Apabila seorang hamba bertakwa kepada Tuhannya, yaitu dengan mengikuti segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, meninggalkan segala yang syubuhat karena khawatir jatuh pada hal yang haram, memenuhi hatinya dengan niat yang ikhlas dan anggota tubuhnya dengan amal yang saleh, mewaspadai segala bentuk kemusyrikan baik yang tersembunyi maupun yang tampak jelas (yang tersembunyi yaitu dengan memerhatikan selain Allah dalam beramal) dan hidup di dunia dengan harta yang bersih, niscaya Allah akan karuniakan untuknya pembeda antara yang haq dengan yang batil. *Ibnu Ishaq* berkata ( الفُرْقَانَ) adalah pembeda antara yang haq dengan yang batil." *As-Sudiy* berkata ( الفُرْقَانَ), "Makna adalah keselamatan." *Al-Farra'* berkata, "Maknanya adalah kemenangan." Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah di akhirat nanti Allah akan memasukkanmu ke dalam surga dan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka."
AL-ANFAAL (7)
AL-ANFAAL: 27-28
KHIANAT TERHADAP ALLAH DAN RASUL SERTA KHIANAT TERHADAP AMANAH
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Sa'id bin Manshur* dan yang lain meriwayatkan dari *Abdullah bin Abi Qatadah*, ia berkata, "Ayat (لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ) turun berkenaan dengan *Abu Lubabah bin Abdul Mundzir*. Ketika Perang Bani Quraizhah, Bani Quraizhah bertanya padanya, "Apa maksud semua ini?" Lalu ia menunjuk ke lehernya. Ia ingin mengatakan, "Pembantaian." Dengan demikian, turunlah ayat ini. Abu Lubabah berkata, "Belum beranjak kedua kakiku hingga aku tahu bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya."
AL-ANFAAL (6)
AL-ANFAAL: 24-26
MEMENUHI SERUAN UNTUK KEHIDUPAN YANG ABADI
SEBAB TURUNNYA AYAT
Sebab turunnya ayat 25, disebutkan oleh *Zubair bin Awwam, Hasan al-Bashri dan as-Sudiy* dan yang lain bahwa ia turun berkenaan dengan Perang Jamal tahun 36 H. Zubair berkata, "Ayat ini turun tentang kami. Kami telah membacanya beberapa lama dan kami tidak menyangka bahwa kami yang dimaksud, ternyata memang kami yang dimaksud ayat tersebut." Hasan berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Ammar, Thalhah dan Zubair yaitu khususnya tentang Perang Jamal." As-Sudiy berkata, "Ayat tersebut turun tentang para ahli Badar namun mereka berperang pada saat Perang Jamal. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Zubair berjalan bersama Nabi saw, tiba-tiba datanglah Ali. Zubair tersenyum padanya. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada Zubair, "Bagaimana cintamu kepada Ali?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ibu dan ayahku menjadi tebusanmu, sesungguhnya aku mencintainya seperti cintaku kepada anakku atau bahkan lebih lagi." *Rasulullah saw. bersabda,* _"Bagaimana nanti kalau seandainya engkau malah datang untuk memeranginya?"_
AL-ANFAAL (5)
AL-ANFAAL: 20-23
PERINTAH UNTUK MENAATI ALLAH DAN RASUL SERTA ANCAMAN MENENTANG KEDUANYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menjelaskan dua hal: perintah untuk menaati Allah dan Rasul serta ancaman kalau menentang perintah dan larangan keduanya. Orang-orang beriman sifatnya adalah selalu mendengarkan kebenaran, menjadikannya sebagai cahaya petunjuk, menaati segala perintah, dan menjauhi segala larangan. Mereka inilah orang-orang beriman yang sebenarnya dan manusia-manusia yang paling cerdas dan sempurna.
Taat pada Allah dan Rasul itu sebenarnya adalah satu. Taat pada Rasul berarti taat pada Allah. Hal ini sama dengan *firman Allah SWT*,
_“Mereka bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu, padahal Allah dan rasul-Nya lebih pantas mereka mencari keridaan-Nya jika mereka orang Mukmin."_ *(at-Taubah: 62)*
Halaman 77 dari 186