AL-ANFAAL (2)
AL-ANFAAL: 5-8
KEENGGANAN SEBAGIAN ORANG BERIMAN UNTUK MEMERANGI KAUM QURAISY DI PERANG BADAR
SEBAB TURUNNYA AYAT (5)
*Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawiyah* meriwayatkan dari *Abu Ayyub al-Anshari*, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda pada kami—saat itu kami berada di Madinah dan sampai berita kepadanya bahwa kafilah *Abu Sufyan* sedang menuju ke arah Madinah—, "Bagaimana pendapat kalian tentang hal ini? Semoga saja Allah memberikan kita harta rampasan dan menyelamatkan kita. Kita keluar dari Madinah, lalu kita berjalan selama satu atau dua hari. Bagaimana pendapat kalian?” Kami berkata, "Wahai Rasulullah, kita tidak akan mampu memerangi mereka. Kita keluar hanya untuk menghadang kafilah dagang." Al-Miqdad berkata, "Janganlah kalian berkata sebagaimana kaum Nabi Musa berkata, "Pergilah engkau dan Tuhan engkau dan berperanglah kalian, sesungguhnya kami akan menunggu saja." Kemudian Allah menurunkan ayat (كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًۭا مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ لَكَـٰرِهُونَ).
*PETIKAN SEJARAH TENTANG PERANG BADAR*
Nabi saw. melaksanakan hijrah bersama para sahabatnya yang beriman dari Mekah ke Madinah disebabkan kerasnya siksaan kaum Quraisy terhadap mereka. Kaum Muslimin meninggalkan harta, tanah, dan rumah mereka untuk orang-orang musyrik di Mekah.
Ketika Rasulullah saw. mendengar bahwa ada kafilah Quraisy yang penuh dengan barang dan harta di bawah pimpinan Abu Sufyan datang dari daerah Syam dengan hanya dikawal oleh empat puluh orang kaum Quraisy, Rasulullah saw. menyemangati kaum Muslimin untuk menghadang mereka. Rasul berkata, "Kafilah dagang Quraisy bersama harta mereka sedang menuju kemari. Keluar dan hadanglah mereka. Semoga Allah memberikan harta rampasan pada kalian." Berangkatlah sekitar tiga ratus orang menuju arah pantai dekat daerah Badar.
Ketika rombongan Abu Sufyan sudah mendekati Hijaz, ia mengirim orang untuk mencari berbagai informasi. Ia sadar bahwa Rasulullah saw. sedang membuntutinya dari Madinah untuk menghadangnya.
Kemudian, ia mengutus *Dhamdham bin Amru al-Ghifari* ke Mekah untuk meminta bantuan dan menghasut penduduk Mekah untuk menyelamatkan harta mereka dan memberitahu mereka bahwa Muhammad bersama para sahabatnya sedang mengintai kafilah dagang mereka.
Akibatnya, tidak kurang dari seribu kaum Quraisy menjawab seruan Abu Sufyan. Abu Sufyan sendiri yang langsung mengarahkan kafilahnya ke arah kanan pantai untuk menyelamatkan kafilah dagangnya. Tidak lama setelah itu, pasukan penolong (an-Nafir) pun sampai. Mereka singgah di Badar setelah mereka mengumpulkan pasukan yang sangat banyak. Abu Jahal menghasut penduduk Mekah dari atas Ka'bah seraya berteriak, "Selamatkan harta kalian... selamatkan harta kalian... tempuhlah segala kesulitan dan rintangan. Selamatkan kafilah dan perdagangan kalian. Jika sempat Muhammad berhasil mengambilnya, kalian akan rugi untuk selamanya.”
Abu Jahal memimpin an-Nafir yang terdiri dari penduduk Mekah. Akan tetapi, ada berita yang sampai kepadanya bahwa kafilah telah mengambil jalan pantai dan selamat. Oleh sebab itu, (ada seruan untuk) kembali lagi ke Mekah, namun dengan lantang Abu Jahal berkata, "Tidak, demi Tuhan, hal itu tidak mungkin (maksudnya kembali ke Mekah) sampai kita membantai unta, meminum khamr, dan para biduanita menyanyi di daerah Badar, agar semua kalangan Arab mendengar tentang kita, tentang jumlah kita dan bahwa Muhammad tidak berhasil menguasai kafilah dagang kita."
Rasulullah saw. menyampaikan kepada para sahabatnya apa yang terjadi dan ia meminta pendapat mereka. Diawali dari Abu Bakar dan Umar yang berbicara sangat bagus dan berisi. Kemudian, al-Miqdad bin Amru, ia berkata, "Wahai Rasulullah, teruslah lakukan apa yang diperintahkan Allah padamu, kami akan senantiasa bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan padamu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Israil kepada Nabi Musa,
_"Mereka berkata, “Wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya, karena itu pergilah engkau bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.”_ *(al-Maa'idah: 24)*
Akan tetapi pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan sebenarnya, seandainya engkau membawa kami untuk pergi ke *Bark Ghamad* (sebuah kota yang terletak di Yaman dan sangat jauh) niscaya kami akan berjuang bersamamu sampai kita mencapai kota tersebut.”
Mendengar ucapan tersebut Rasulullah saw. memujinya dan mendoakan kebaikan untuknya. Orang-orang Anshar berkata, "Kami orang-orang Anshar berharap agar kami yang mengatakan seperti yang dikatakan al-Miqdad, dan hal itu lebih kami sukai daripada mendapatkan harta yang banyak." Kemudian Rasulullah saw. bersabda, "Berilah pendapat wahai manusia.” Rasulullah saw. sepertinya menunggu pendapat kaum Anshar karena sesuai dengan Baiat Aqabah dengan mereka, mereka hanya diharuskan membantu dan membela Rasulullah saw. di negeri mereka, yaitu Madinah. Rasulullah saw. khawatir kalau mereka tidak mau menolongnya di luar Madinah sebagaimana yang mereka syaratkan dalam perjanjian Aqabah.
Akhirnya, *Sa'ad bin Muadz* angkat bicara: ia berkata, "Demi Allah, sepertinya yang engkau maksudkan adalah kami wahai Rasulullah." Rasulullah saw. bersabda, "Benar.” Sa'ad lalu berkata, "Kami telah beriman padamu dan membenarkan ajaranmu. Kami juga telah bersaksi bahwa semua yang engkau bawa adalah benar, dan kami telah berikan janji dan kesepakatan kami untuk setia mendengarkan dan menaati. Dengan demikian, lakukanlah apa yang telah diperintahkan Allah padamu wahai Rasulullah. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan sebenarnya, jika engkau mengarungi laut, niscaya kami akan ikut mengarunginya bersamamu, tak ada seorang pun yang akan mundur dari kami, dan kami tidak akan berpaling jika besok engkau berhadapan dengan musuhmu.
Sungguh, kami adalah kaum yang bertahan dalam setiap peperangan, tegar setiap bertemu musuh, dan semoga Allah SWT memperlihatkan dari kami padamu apa yang akan menyenangkan hatimu, teruslah maju wahai Rasulullah saw., kami selalu menyertaimu." Rasulullah saw. sangat gembira mendengar ucapan Sa'ad, dan itu membuatnya semakin bersemangat.
Kemudian, Rasulullah saw. bersabda, ganti _“Majulah dengan berkah dari Allah dan bergembiralah karena sesungguhnya Allah telah menjanjikan padaku satu dari dua hal; kafilah dagang yang datang dari Syam yang dipimpin oleh Abu Sufyan an-Nafir (pasukan) yang datang dari Mekah untuk menolong mereka yang dipimpin oleh Abu Jahal. Demi Allah aku saat ini seolah-olah sudah melihat tempat terbunuhnya mereka semua.”_ Inilah yang diriwayatkan oleh *Muhammad bin Ishaq* dalam sirah-nya dari *Ibnu Abbas*.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa hal berikut ini.
1. Kebaikan dan kemaslahatan terkandung dalam apa yang diperintahkan oleh Allah, bukan pada apa yang dipandang oleh manusia. Manusia melihat sesuatu yang berbahaya sebagai sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang bermanfaat sebagai sesuatu yang berbahaya.
2. Perbuatan seorang hamba merupakan ciptaan Allah menurut pendapat Ahlus Sunnah, dengan dalil firman Allah SWT (كَمَآ أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنۢ بَيْتِكَ بِٱلْحَقِّ ), karena diriwayatkan bahwa Nabi saw. keluar dari rumahnya adalah berdasarkan pilihannya sendiri, namun kemudian Allah SWT menisbahkan keluar kepada Zat-Nya untuk menjelaskan bahwa Dia yang menciptakan semua perbuatan para hamba. Akan tetapi menurut kalangan Muktazilah, ayat ini bermakna keluar itu terjadi dengan perintah dan pengharusan dari Allah, ka rena itu dinisbahkan kepada-Nya. Namun, ini adalah _majaz_ (kiasan) sementara seharusnya sebuah ucapan dipahami secara hakikatnya dan bukan _majaz._
Kalangan _Ahlus Sunnah_ dalam masalah penciptaan perbuatan hamba, melandaskan dalil dengan ayat, artinya, agar Dia ciptakan dan adakan kebenaran, sementara yang haq adalah agama dan keyakinan. Jadi, ini menunjukkan bahwa keyakinan yang benar tidak terjadi kecuali dengan penciptaan dan pengadaan dari Allah SWT.
Kalangan Muktazilah juga menggunakan ayat yang sama untuk menunjukkan kebenaran madzhab mereka. Mereka berkata, ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT selamanya menginginkan untuk menampakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan, dan tidak benar jika dikatakan bahwa tidak ada kebatilan atau kekafiran melainkan Allah yang menghendaki semua itu. Hal ini dibantah oleh _Ahlus Sunnah_, dalam ushul fiqih sudah diketahui bahwa kata _mufrad_ yang memiliki _alif lam_ dipahami sesuai apa yang telah diketahui sebelumnya, artinya, Allah SWT menginginkan untuk mewujudkan kebenaran dan menghapus kebatilan dalam bentuk ini.
3. Kebenaran selamanya adalah benar. Namun, memunculkannya berarti mewujudkannya karena jika ia tidak dimunculkan, akan bercampur dan mirip dengan yang batil. Islam adalah benar dan itulah yang ingin dimunculkan dan dimuliakan oleh Allah, sebagaimana *Dia berfirman:*
_"Untuk memenangkannya di atas segala agama..."_ *(ash-Shaff: 9)*
*Allah SWT juga berfirman:*
_"Sebenarnya Kami melemparkan yang haq (kebenaran kepada yang batil (tidak benar) lalu yang haq itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap..."_ *(al-Anbiyaa': 18)*
4. Yang batil itu tidak akan abadi. Namun, ia mesti dimusnahkan dan dihancurkan sebagaimana halnya mewujudkan yang haq, yang berarti harus memunculkannya. Kekafiran dan kesyirikan adalah batil dan Allah SWT hendak memusnahkan orang-orang kafir.
5. Dalam Perang Badar, Allah SWT ingin mempertemukan antara orang-orang beriman yang jumlahnya sedikit dengan orang-orang kafir yang jumlahnya banyak dan kuat agar Allah menangkan orang-orang yang beriman atas orang-orang kafir untuk Dia munculkan agama-Nya, meninggikan kalimat Islam, dan memenangkannya atas segala agama, dan Dia yang lebih mengetahui akhir dari segala sesuatu.
Dia yang paling mengetahui mengatur para hamba-Nya yang beriman meskipun mereka terkadang lebih menyukai yang sebaliknya sesuai dengan yang tampak bagi mereka sebagaimana *firman Allah SWT:*
_"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh Jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."_ *(al-Baqarah: 216)*
6. Keluarnya Nabi saw. untuk menghadang _al’ier_ sebelum Perang Badar menunjukkan diperbolehkannya berperang dengan tujuan mendapatkan rampasan perang, karena itu merupakan usaha yang halal dan Allah SWT telah menjanjikan orang-orang beriman (pada waktu itu) dengan satu dari dua kelompok; kafilah dagang atau pasukan dari Mekah.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
