AL-ANFAAL (3)
AL-ANFAAL: 9-14
BANTUAN PARA MALAIKAT DALAM PERANG BADAR, DIBERIKANNYA RASA KANTUK DAN TURUNNYA HUJAN
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Umar bin Khattab*, ia berkata, "Di saat Perang Badar, Nabi saw. memandangi para sahabatnya. Jumlah mereka hanya tiga ratus beberapa belas orang saja. Lalu ia melihat ke arah orang-orang musyrik. Ternyata jumlah mereka lebih dari seribu orang. Kemudian Nabi saw. menghadap kiblat sambil memakai jubbah dan sorbannya. Beliau lalu berdoa.
اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِي، اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الْإِسْلَامِ لَا تُعْبَدْ فِي الْأَرْضِ
_“Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika engkau binasakan kelompok kaum Muslimin ini niscaya Engkau tidak akan pernah disembah lagi di bumi ini.”_
*Umar* melanjutkan, "Nabi saw. terus berdoa dan memohon pertolongan kepada Tuhannya sampai-sampai sorbannya jatuh dari bahunya. Kemudian datang *Abu Bakar* lalu ia mengambil sorban tersebut dan mengembalikannya ke tempatnya (meletakkan ke atas bahunya). Kemudian ia berdiri di belakang Nabi saw. dan berkata, "Wahai Nabi Allah, cukuplah engkau memohon pada Tuhanmu, sesungguhnya Dia pasti akan menepati janji-Nya padamu." Setelah itu Allah SWT menurunkan firman-Nya: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَٱسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلْفٍۢ مِّنَ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةِ مُرْدِفِينَ
Di hari itu juga kedua pasukan saling berhadapan dan Allah SWT mengalahkan pasukan musyrik. Dari mereka terbunuh sebanyak tujuh puluh orang dan tertawan sebanyak tujuh puluh orang juga.
*Imam Bukhari* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, _"Pada Perang Badar Nabi saw. berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku menagih janji-Mu. Ya Allah, kalau Engkau mau Engkau tidak akan disembah lagi."_ *Abu Bakar* memegang tangan Nabi dan berkata, "Cukup ya Rasulullah." Lalu Nabi keluar dan berkata,
_“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang."_ *(al-Qamar: 45)*
Inilah bentuk permohonan Nabi saw. kepada Allah SWT dan inilah yang masyhur. Ketika kedua pasukan sudah berhadapan *Abu Jahal* berkata, "Wahai Tuhan, mana di antara kami yang berada dalam kebenaran, maka bantulah." Rasulullah saw. mengangkat tangannya dan juga berdoa seperti yang disebutkan di atas.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa meminta bantuan kepada Allah dilakukan oleh beberapa orang beriman karena rasa takut mereka lebih hebat daripada rasa takut Rasul. Namun, pendapat yang lebih tepat adalah Nabi saw. berdoa dan bermohon seperti yang diriwayatkan sementara orang-orang beriman lainnya mengaminkan doanya dan berdoa juga di dalam diri mereka, tapi yang dinukilkan adalah doa Rasul dan bukan doa mereka.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan tiga hal; mengingatkan beberapa nikmat, mengajarkan cara membunuh, dan adzab bagi orang yang mendurhakai atau memusuhi Allah SWT dan Rasul-Nya.
Nikmat-nikmat yang disebutkan dan yang ingin Allah SWT ingatkan dalam Perang Badar ada tujuh;
_Pertama,_ pertolongan ketika diminta, yaitu dengan turunnya malaikat yang membantu mereka dalam peperangan. Tidak ada kontradiksi antara penyebutan jumlah malaikat dalam surah ini (seribu malaikat) dan dalam surah Aali 'Imraan (tiga ribu sampai lima ribu malaikat), karena Allah SWT mengirimkan bantuan itu secara berturut-turut. Dia mengirimkan pertama kali seribu malaikat, kemudian tiga ribu, lalu lima ribu ketika kaum Muslimin berperisaikan dengan kesabaran dan ketakwaan.
_Kedua_, memberikan rasa kantuk dan tidur di malam sebelum terjadi peperangan. _Ketiga_, hujan diturunkan dari langit untuk bersuci secara lahir dengan cara membersihkan badan, berwudhu, dan mandi dari junub, serta bersuci secara batin dengan dihilangkannya kecemasan setan dari dalam diri orang-orang beriman. _Keempat_, mengikat hati orang-orang beriman. Artinya, menguatkannya dan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran dari mereka, memenuhi jiwa mereka dengan rasa sabar, dan menyemangati mereka untuk menghadapi dan memerangi musuh-musuh mereka.
_Kelima,_ mengukuhkan kaki di atas pasir yang telah saling menyatu akibat hujan. Dari hal ini bisa dipahami bahwa kondisi para musuh berbeda dengan hal itu. _Keenam,_ wahyu kepada malaikat bahwa Allah SWT bersama orang-orang beriman, bantu dan kukuhkanlah mereka.
_Ketujuh_, memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Ini merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan Allah SWT kepada orang-orang beriman.
Sementara itu, cara untuk membunuh, Allah SWT memerintahkan kaum Mukminin untuk membunuh orang-orang kafir tepat pada bagian tubuh mereka yang mematikan dengan cara memukul ubun-ubun dan kepala mereka yang terletak di atas leher serta memukul bagian tubuh yang tidak mematikan dengan memotong jari-jari tangan dan kaki karena jari adalah alat untuk memegang pedang, tombak, dan senjata-senjata lainnya. Jadi, apabila jari-jari mereka telah dipotong, mereka tidak bisa untuk berperang lagi.
Adzab bagi orang yang mendurhakai dan menentang Allah dan Rasul-Nya adalah kehinaan dan kekalahan di dunia serta adzab yang sangat berat di neraka Jahannam di hari Kiamat kelak. Tujuan penyebutan adzab ini adalah sebagai ancaman terhadap kekafiran dan pencelaan orang-orang kafir karena siksaan terhadap kekafiran itu dua macam; ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan di akhirat.
Keutamaan dan kelebihan pejuang Badar bukan karena tubuh mereka, melainkan karena perbuatan mereka. *Imam Malik* berkata, "Ada riwayat yang sampai padaku bahwa Jibril a.s. berkata kepada Nabi saw. Bagaimana posisi pejuang Badar di kalangan kalian? Nabi saw. bersabda, _"Mereka adalah orang-orang terbaik di antara kami."_ Jibril berkata, "Mereka juga demikian dalam pandangan kami." Jadi, hal itu adalah karena jihad mereka dan jihad yang paling utama adalah Perang Badar karena bangunan Islam seluruhnya bergantung kepada perang tersebut.
Islam mewajibkan untuk menguburkan jasad orang-orang yang terbunuh meskipun mereka adalah para musuh. Nabi saw. memerintahkan para sahabat untuk menguburkan orang-orang musyrik yang mati di Perang Badar sejumlah tujuh puluh orang di dalam sebuah telaga kuno yang ada di sekitar Badar.
*Imam Muslim* meriwayatkan dari *Anas bin Malik* bahwa Rasulullah saw. membiarkan korban Perang Badar dari kalangan musuh selama tiga hari. Setelah itu ia berdiri di dekat bangkai mereka dan menyeru, _"Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Khalaf, wahai Utbah bin Rabi’ah, wahai Syaibah bin Rabi’ah, tidakkah telah kalian dapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian sesuatu yang benar? Aku sudah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku sebagai sesuatu yang benar."_
*Umar* mendengar seruan Nabi saw. kepada mereka, lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin mereka akan mendengar, bagaimana mungkin mereka akan menjawab sementara mereka telah menjadi bangkai dan membusuk (Umar mengatakan hal ini karena sesuai hukum adat kebiasaan hal tersebut sangat tidak mungkin. Nabi saw. menjawab, mereka bisa mendengar sebagaimana halnya orang hidup)?" Nabi saw. menjawab, _"Demi Zat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar apa yang aku serukan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawabnya."_ Kemudian, Nabi saw. memerintahkan untuk menarik jasad mereka lalu dilemparkan ke dalam sebuah parit di Badar.
*Al-Qurthubi* berkata, "Ini menunjukkan bahwa kematian itu tidak berarti ketiadaan atau fana. Ia hanya terputus dan terpisahnya hubungan ruh dengan badan dan berganti kondisi serta perpindahan dari sebuah alam ke alam yang lain. *Rasulullah saw. bersabda,*
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ
_“Sesungguhnya ketika mayat diletakkan di kuburnya dan orang-orang yang mengantarnya telah pulang ia akan mendengar suara sandal mereka."_ *(Hadits shahih Bukhari dan Muslim)*.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
