SURAH AL-ANFAAL: 24-26

AL-ANFAAL (6)

AL-ANFAAL: 24-26

MEMENUHI SERUAN UNTUK KEHIDUPAN YANG ABADI

SEBAB TURUNNYA AYAT

Sebab turunnya ayat 25, disebutkan oleh *Zubair bin Awwam, Hasan al-Bashri dan as-Sudiy* dan yang lain bahwa ia turun berkenaan dengan Perang Jamal tahun 36 H. Zubair berkata, "Ayat ini turun tentang kami. Kami telah membacanya beberapa lama dan kami tidak menyangka bahwa kami yang dimaksud, ternyata memang kami yang dimaksud ayat tersebut." Hasan berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Ammar, Thalhah dan Zubair yaitu khususnya tentang Perang Jamal." As-Sudiy berkata, "Ayat tersebut turun tentang para ahli Badar namun mereka berperang pada saat Perang Jamal. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Zubair berjalan bersama Nabi saw, tiba-tiba datanglah Ali. Zubair tersenyum padanya. Kemudian Rasulullah saw. bertanya kepada Zubair, "Bagaimana cintamu kepada Ali?" Ia menjawab, "Wahai Rasulullah, ibu dan ayahku menjadi tebusanmu, sesungguhnya aku mencintainya seperti cintaku kepada anakku atau bahkan lebih lagi." *Rasulullah saw. bersabda,* _"Bagaimana nanti kalau seandainya engkau malah datang untuk memeranginya?"_

*Ibnu Abbas* berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan para sahabat Rasulullah saw., Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk tidak mengakui kemungkaran yang terjadi antara mereka karena Allah akan meratakan adzab-Nya pada mereka seluruhnya.

Dari *Hudzaifah bin al-Yaman*, ia berkata, *"Rasulullah saw. bersabda:*

_“Akan terjadi fitnah di antara beberapa kelompok sahabatku, Allah akan mengampuni mereka berkat persabahatan mereka denganku. Orang-orang sesudah mereka akan mencontoh mereka dalam hal itu, namun mereka akan masuk ke neraka karena hal itu.”_

Penafsiran-penafsiran ini didukung oleh banyak hadits shahih. Dalam _Shahih Muslim_ dari *Zainab bin Jahsy*, ia bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, apakah kita mungkin akan dibinasakan sementara di antara kita ada orang-orang yang saleh?" Rasulullah saw. menjawab, "Ya, kalau sudah banyak kekotoran (maksiat)."

*Dalam shahih at-Tirmidzi:* 

إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوُا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ، أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ

_“Sesungguhnya ketika manusia melihat ada seorang yang berlaku zalim, lalu mereka tidak mencegahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan adzab-Nya kepada mereka secara merata.”_ *(HR at-Tirmidzi)*

Dalam shahih Bukhari dan Tirmidzi dari Nu’man bin Basyir, Nabi saw. bersabda:

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا، وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا، إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ، مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

_“Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti sekelompok orang yang berundi untuk naik sebuah kapal. Sebagian mendapat tempat di atas sementara yang lain di bawah. Orang-orang yang berada di bawah, kalau mereka ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang yang di atas. Akhirnya mereka berkata sesama mereka, “Sebaiknya kita lobangi saja di bawah tempat ini sedikit sehingga kita tidak perlu mengganggu orang-orang yang di atas kita.” Jika mereka membiarkan saja apa yang diinginkan oleh orang-orang di bawah tersebut maka mereka semua akan tenggelam. Tapi kalau mereka mencegahnya, maka mereka semua akan selamat!’_ *(HR Bukhari dan at-Tirmidzi)*

Dapat disimpulkan dari hadits ini bahwa orang banyak juga akan mendapat siksa disebabkan dosa orang-orang tertentu. Di samping itu, sebuah adzab berhak ditimpakan ketika amar ma’ruf dan nahi munkar sudah ditinggalkan.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Dari ayat-ayat di atas banyak pelajaran yang dapat diambil, di samping beberapa hukum pokok dalam Islam yang juga dikandungnya, di antaranya berikut ini.

_Pertama_, wajibnya memenuhi seruan Allah dan Rasul serta menaati keduanya sebagai penegasan dari ayat-ayat sebelumnya, karena hal tersebut mengandung kebaikan dan kehidupan yang baik dan bahagia di dunia dan akhirat. Cara untuk mencapai semua itu adalah iman. Islam, Al-Qur'an, jihad dan petunjuk Allah.

*Al-Hafizh Ibnu Katsir dan Imam al-Bukhari* meriwayatkan dari *Abu Sa’id bin al-Mu’alla ra,* ia berkata, "Suatu kali aku sedang shalat di masjid. Tiba-tiba Nabi saw. lewat dan memanggilku, namun aku tidak menjawabnya. Setelah shalat aku datang menemuinya. Aku berkata, "Wahai Rasulullah, aku tadi sedang shalat." Ia bersabda, _"Bukankah Allah SWT telah berfirman, "Penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila keduanya menyerumu untuk sesuatu yang memberimu kehidupan...”_ Kemudian *Rasulullah bersabda*, _"Aku akan ajarkan padamu surah yang paling agung dalam Al-Qur'an sebelum aku keluar nanti."_ Setelah itu Rasulullah saw. hendak keluar, lalu aku sebutkan hal itu padanya, *ia bersabda*, _"(Surah yang paling agung itu) al-Hamdulillahi Rabbil 'alamin (Surah al-Fatihaah] Itu tujuh ayat-ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung yang telah diberikan padaku."_

*Imam Syafi'i* berkata, "Ini merupakan dalil bahwa sebuah perbuatan atau perkataan yang bersifat wajib, kalau dilakukan atau diucapkan dalam shalat, ia tidak membatalkan shalat karena perintah Rasulullah saw. untuk menjawab seruannya meskipun seseorang sedang shalat."

_Kedua,_ sesungguhnya Allah sangat menguasai hati para hamba-Nya daripada mereka sendiri. Dia yang berkuasa mengendalikan segala sesuatu, baik dalam bentuk bisikan hati, pikiran maupun perbuatan anggota tubuh.

_Ketiga,_ wajib menjauhi hal-hal yang akan mendatangkan fitnah, bala dan adzab, dengan cara menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, menegakkan persatuan, memerangi bid’ah dan perpecahan, seruan kepada seluruh umat untuk bersatu baik pemerintah maupun rakyat, karena dampak dari fitnah itu tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja, melainkan semua akan terkena. Namun tidak boleh terlalu mendalami perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan sahabat.

_Keempat,_ dorongan untuk selalu istiqamah agar selamat dari adzab Allah SWT.

_Kelima,_ mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada orang-orang beriman dan segera mensyukurinya serta mengambil pelajaran dari setiap nikmat tersebut. Allah SWT akan memberikan kebahagiaan di dunia, kekuatan, kekuasaan, rasa aman dari segala ketakutan, dan kemenangan atas musuh bagi orang yang melaksanakan segala perintah-Nya. Dia juga akan memberikan kemenangan, keselamatan dan keridhaan-Nya di akhirat nanti untuk mereka. Namun, jika mereka mengingkari perintah-perintah Allah dan tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, sebagaimana kondisi umat Islam saat ini, maka mereka akan menjadi hina dan lemah. Sunnah (ketentuan) Allah SWT dalam hal ini adalah

_"Sesungguhnya bumi itu milik Allah, Dia wariskan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya dari para hamba-Nya, dan akhir yang baik itu milik orang-orang bertakwa."_ *(al-A'raaf: 128)*.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login