SURAH AL-ANFAAL: 27-28

AL-ANFAAL (7)

AL-ANFAAL: 27-28

KHIANAT TERHADAP ALLAH DAN RASUL SERTA KHIANAT TERHADAP AMANAH

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Sa'id bin Manshur* dan yang lain meriwayatkan dari *Abdullah bin Abi Qatadah*, ia berkata, "Ayat (لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ) turun berkenaan dengan *Abu Lubabah bin Abdul Mundzir*. Ketika Perang Bani Quraizhah, Bani Quraizhah bertanya padanya, "Apa maksud semua ini?" Lalu ia menunjuk ke lehernya. Ia ingin mengatakan, "Pembantaian." Dengan demikian, turunlah ayat ini. Abu Lubabah berkata, "Belum beranjak kedua kakiku hingga aku tahu bahwa aku telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya."

Jadi ayat ini turun berkenaan dengan Abu Lubabah Marwdn bin Abdul Mundzir. Ia adalah seorang sekutu Bani Quraizhah, suatu suku dalam kalangan Yahudi. Ia diutus oleh Rasulullah saw. kepada Bani Quraizhah untuk menerima hukum yang diputuskannya. Mereka meminta pendapatnya tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan. Lalu ia memberi isyarat bahwa mereka akan dibantai (oleh Rasulullah dan kaum Muslimin) Hal itu dilakukannya karena harta dan anak-anaknya masih berada bersama Bani Quraizhah. Itu terjadi setelah Nabi saw. mengepung Bani Quraizhah selama 21 hari.

*Az-Zuhri* berkata, "Ketika ayat ini turun. Abu Lubabah mengikat dirinya pada sebuah tonggak di Masjid Nabawi. Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati atau Allah memberikan tobat-Nya padaku." Ia melakukan hal itu selama sembilan hari, ada yang mengatakan selama tujuh hari. Selama itu ia tidak makan sesuatu pun sampai akhirnya ia pingsan. Kemudian Allah memberikan tobat kepadanya. Lalu disampaikan padanya, "Wahai Abu Lubabah, tobatmu sudah diterima." Tapi ia berkata, "Tidak demi Allah, aku tidak akan melepaskan diriku sampai Rasulullah saw. sendiri yang datang melepaskannya." Akhirnya Rasul datang dan melepaskannya.

Kemudian Abu Lubabah berkata, "Sebagai bentuk kesempurnaan tobatku, aku akan meninggalkan kampung kaumku tempat aku mendapatkan dosa dan aku akan melepaskan diri dari semua hartaku." Rasulullah saw. bersabda, "Cukup sepertiga saja yang engkau sedekahkan."

*Ibnu Jarir* dan yang lain meriwayatkan dari Jarir bin Abdullah, bahwa Abu Sufyan keluar dari Mekah. Lalu Jibril datang kepada Nabi saw. dan berkata, "Sesungguhnya Abu Sufyan berada di tempat anu." Kemudian Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabat, "Sesungguhnya Abu Sufyan berada di tempat anu, pergilah ke sana (untuk menghadangnya) dan rahasiakanlah." Namun, ada seorang laki-laki munafik yang menulis surah kepada Abu Sufyan, "Sesungguhnya Muhammad sedang membuntunti kalian, waspadalah." Kemudian Allah menurunkan ayat ini, (لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ).

Namun hadits ini _gharib jiddan_ (asing sekali) Ini menunjukkan bahwa yang paling shahih adalah bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Abu Lubabah.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat ini menegaskan kembali substansi dua kelompok ayat sebelumnya yang menuntut untuk taat kepada Allah dan taat kepada Rasul serta memenuhi seruan Allah dan Rasul. Penegasan tentang hal ini berlanjut pada ayat sesudahnya yang menuntut untuk bertakwa kepada Allah dengan mengamalkan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Ayat-ayat ini menunjukkan beberapa hal:

_Pertama_, keharaman khianat yang disengaja secara mutlak dan kewajiban menunaikan amanah yaitu menunaikan semua beban-beban syari'at dan semua amalan yang diperintahkan oleh Allah kepada para hamba yang berupa fardhu dan hudud (hukum-hukum) Khianat adalah mengabaikan kewajiban, lengah dan lalai dalam menunaikan yang fardhu, menyebarkan rahasia, tidak mengembalikan titipan dan amanah kepada si pemiliknya, dan menyia-nyiakan haq-haq orang lain.

_Kedua_, harta dan anak-anak adalah fitnah dan cobaan untuk menguji seorang yang beriman secara benar. Jika harta yang dicarinya adalah dari cara yang halal lalu dibelanjakannya dalam jalan-jalan kebaikan, ia akan selamat dari dampak negatif dari harta tersebut. Jika seorang ayah mendidik anaknya dengan pendidikan agama, memberinya makanan yang halal dan baik, ia akan terlepas dari hisab di hari akhir nanti. Namun, kalau sebaliknya ia telah menyerahkan dirinya pada dosa dan siksa. Dari sebab turunnya ayat ini, sudah diketahui bahwa harta dan anak-anak Abu Lubabah yang berada bersama Bani Quraizhah yang membuatnya bersikap lembut kepada mereka dan mengkhianati Rasulullah saw.

_Ketiga,_ firman Allah (وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌۭ), adalah peringatan bahwa kebahagiaan di akhirat jauh lebih baik dari kebahagiaan di dunia karena akhirat lebih mulia, kemenangannya lebih sempurna dan kenikmatannya lebih kekal karena ia akan selalu ada sampai tiada batas. Oleh karena itu Allah menyifati pahalaNya sebagai sesuatu yang besar.

_Keempat,_ ar-Razi mengatakan, "Ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil bahwa menyibukkan diri dengan amalan-amalan sunnah lebih utama daripada menikah karena amalan-amalan yang sunnah itu mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah, sementara menikah mendatangkan anak dan mengharuskan kebutuhan kepada harta, sementara harta dan anak adalah fitnah." Namun hal ini dalam perkiraan saya adalah kalau seseorang dalam kondisi stabil (tidak ada hasrat yang hebat untuk menikah, pent). Jelas bahwa menikah dapat membantu untuk mencapai takwa dan kesucian diri.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login