AL-A'RAAF (45)
AL-A'RAAF: 154
AKHIR KISAH PEMBUATAN PATUNG ANAK SAPI SEBAGAI TUHAN
وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلْغَضَبُ أَخَذَ ٱلْأَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ ١٥٤
*Artinya:* _“Dan setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.”_ *(al-A'raaf: 154)*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Sifat santun adalah puncak semua akhlak. Ketika jiwa Musa telah tenang dan ia kembali menjadi santun, ia mulai mempelajari lauhlauh yang berisi Taurat tersebut. Di dalamnya, ia mendapati penjelasan tentang mana yang benar dan mana yang sesat, mana hidayah dan mana penyimpangan, serta mana rahmat dan mana adzab, dengan adanya penjelasan jalan yang lurus dan baik bagi orang yang takut terhadap Allah dan adzab-Nya.
AL-A'RAAF (44)
AL-A'RAAF: 152-153
BALASAN ORANG-ORANG YANG ZALIM KETIKA MEMBUAT PATUNG ANAK SAPI DAN DITERIMANYA TOBAT MEREKA
*Artinya:* _Orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian bertobat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu sesudah tobat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang._
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dua ayat di atas mengandung dua prinsip penting. Adil dalam menghukum dan menyayangi para pelaku maksiat yang bertobat.
AL-A'RAAF (43)
AL-A'RAAF: 150-151
KEMARAHAN NABI MUSA TERHADAP NABI HARUN KARENA KASUS PENUHANAN ANAK SAPI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Karakteristik manusia berbeda-beda dalam mengorganisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Ada yang keras serta cepat emosi, seperti Musa yang marah demi kebenaran dan sikapnya ini adalah benar. Ada juga yang tenang, lunak, dan santun seperti Harun yang meskipun berusaha sekuat tenaga menegur kaumnya, tapi mereka tidak mendengar nasihatnya dan bahkan berniat untuk membunuhnya.
AL-A'RAAF (42)
AL-A'RAAF: 148-149
KISAH SAMIRI YANG MEMBUAT PATUNG ANAK SAPI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Dari ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa sulit sekali bagi Bani Israil untuk tetap dan bertahan dalam satu kondisi meskipun kondisi itu adalah kondisi yang paling baik dan sempurna. Jadi, mereka adalah kaum yang kontradiktif, ragu-ragu, bingung, tidak tahu apa yang mereka lakukan, banyak mengeluh, kurang bersyukur terhadap nikmat, pandangan mereka terkadang dangkal dan polos, dan pemikiran mereka masih primitif dan mudah untuk _taklid_ (meniru) orang lain. Penyakit _taklid_ ini bisa menjalar pada sebuah umat sebagaimana halnya pada personal tanpa disadari. Mereka ingin meniru orang-orang Mesir yang hidup bersama mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, dan kerinduan mereka terhadap keyakinan paganisme semakin menguat. Hal ini semakin menguat ketika mereka melihat ada beberapa kaum di Palestina yang menyembah berhala.
Halaman 84 dari 186