*AL-A'RAAF (39)*
*AL-A'RAAF: 138-141*
*KEINGKARAN BANI ISRAIL TERHADAP NIKMAT ALLAH*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat 138 menunjukkan kebodohan Bani Israil tentang hakikat tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Mereka malah meminta padanya untuk menentukan patung-patung dan berhala-berhala yang akan mereka sembah, untuk mendekatkan mereka kepada Allah SWT. Ini persis sekali dengan perbuatan para penyembah berhala ketika mereka berkata,
_"Kami tidak menyembah mereka, melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya."_ *(az-Zumar: 3)*
*Qatadah* mengatakan, "Kaum tersebut berasal dari suku Lakhm lalu mereka bermukim di daerah Riqqah.'’ Ada yang mengatakan, bahwa patung-patung mereka menyerupai sapi. Oleh karena itulah, Samiri membuat patung sapi untuk Bani Israil.
Hal yang sama dengan sikap Bani Israil ini adalah ucapan orang-orang Arab badui yang bodoh di masa Nabi saw. ketika mereka melihat sebuah pohon besar sangat hijau milik orang-orang kafir yang dinamakan _Zat Anwath_ (tempat mereka menggantungkan senjata-senjata mereka) yang mereka, agungkan satu hari dalam setiap tahun.
Orang-orang Arab badui yang bodoh itu berkata, "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami _Zat Anwath_ yang serupa sebagaimana mereka mempunyai _Zat Anwath"_ Rasulullah saw. bersabda, _"Allahu Akbar, demi Zat yang diriku dalam genggaman-Nya, kalian berkata persis seperti kaum Musa berkata padanya, ‘Jadikanlah untuk kami suatu tuhan, sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan."_’ Musa berkata kepada mereka, "Sesungguhnya kalian kaum yang bodoh." Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian, jengkal demi jengkal. Bahkan, kalau mereka masuk ke dalam lobang biawak pun, tentu kalian juga akan masuk ke sana."
Dialog ini terjadi sebelum Nabi berangkat ke Hunain. Sesungguhnya meminta tuhan yang lain, adalah puncak kebodohan dan kedunguan, karena Tuhan yang berhak disembah dan diagungkan itu hanyalah Zat yang Mahakuasa untuk menciptakan jasad, kehidupan, kemampuan, akal pikiran, dan menciptakan segala sesuatu yang bermanfaat. Tidak ada yang mampu melakukan semua itu selain Allah SWT. Dengan demikian, tidak pantas disembah kecuali Dia.
Sementara itu, ayat (إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٌۭ) menunjukkan bahwa para penyembah berhala itu terancam dimusnahkan. Ini mengindikasikan bahwa amal mereka akan sirna. Masa paganisme di muka bumi akan berakhir karena keyakinan ini bertentangan dengan akal dan fitrah manusia.
Nabi Musa menjawab permintaan Bani Israil itu dari empat sisi. Pertama, ia memvonis mereka sebagai orang-orang yang bodoh, Ia berkata (إِنَّكُمْ قَوْمٌۭ تَجْهَلُونَ) Kedua, ia berkata (إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ مُتَبَّرٌۭ مَّا هُمْ فِيهِ). Maksud semua itu adalah penyebab kerugian dan kebinasaan. Ketiga, ia berkata (وَبَـٰطِلٌۭ مَّا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ) Artinya, kesusahan yang mereka rasakan dari pekerjaan itu, tidak akan bermanfaat untuk mereka sama sekali baik untuk dunia maupun agama. Keempat, Nabi Musa sangat heran dan aneh dengan sikap mereka, yang menyebabkan timbulnya kemarahan dari Musa. Ia berkata, (أَغَيْرَ ٱللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَـٰهًۭا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ) Artinya, tuhan itu bukan sesuatu yang dicari lalu dinobatkan. Tuhan hanya Allah yang Mahakuasa untuk memberi nikmat, menciptakan, mengaruniakan kehidupan, dan seluruh nikmat yang lainnya. Itulah yang dimaksud dari ucapannya ( وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ) Maksudnya, dari orang-orang yang ada di dunia di masa mereka.
Sudah dijelaskan bahwa Bani Israil mengingkari nikmat-nikmat Allah terhadap mereka. Allah SWT telah memberi nikmat kepada mereka dengan melebihkan dan mengutamakan mereka dari semua makhluk di masa mereka. Ini adalah sebuah nikmat yang sangat besar, namun mengapa mereka mereka masih mencari penyembahan kepada selain Allah?
Allah telah memberi mereka nikmat berupa kemuliaan setelah kehinaan, kekuasaan dan kekhilafahan di muka bumi setelah penghambaan dan penindasan, selamat dari kezaliman Fir'aun yang telah membunuh anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka.
Ayat ini meskipun diarahkan kepada kaum Yahudi di masa Nabi saw., menjadi peringatan bagi mereka bahwa para pendahulu atau nenek moyang mereka telah diselamatkan oleh Allah dari kekejaman Fir'aun.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
