SURAH AL-A'RAAF: 142-145

*AL-A'RAAF (40)*
*AL-A'RAAF: 142-145*

*MUNAJAT ATAU PERBINCANGAN MUSA DENGAN TUHANNYA DAN PERMINTAAN MUSA UNTUK MELIHAT ALLAH SERTA DITURUNKANNYA TAURAT KEPADANYA*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas menjelaskan beberapa hal, di antaranya sebagai berikut:

1. Pengagungan terhadap janji untuk berbicara dengan Allah SWT. Allah SWT memerintahkan Musa untuk berpuasa selama tiga puluh hari dan mengerjakan segala amalan untuk mendekatkan diri kepadaNya pada hari-hari tersebut. Kemudian, Allah menurunkan Taurat kepada Musa pada sepuluh hari terakhir menurut satu pendapat atau ketika Musa menghilangkan bau mulutnya di akhir hari ketiga puluh, yaitu di bulan Dzulqa’dah menurut pendapat yang lain, kemudian, Allah memerintahkan padanya untuk menambah sepuluh hari lagi sampai bulan Dzulhijjah. Inilah faedah dirincikannya bilangan hari di sini, dari empat puluh kemudian tiga puluh dan terakhir sepuluh.



2. Sesungguhnya Allah berbicara dengan Musa a.s.. Pembicaraan atau firman Allah itu menurut pendapat mayoritas Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sifat yang Azali dan Qadiim, berbeda dengan huruf dan suara. Jadi, firman Allah itu bukan huruf dan bukan juga suara. Musa a.s. telah mendengar sifat hakiki yang azali dan bukan huruf atau suara karena kalau bukan demikian berarti firman Allah bersifat muhdats (lawan dari qadiim, dan hal itu mustahil bagi Allah SWT. pent).

3. Tujuh puluh orang yang dipilih Musa untuk hadir pada saat itu, juga mendengarkan firman Allah, karena tujuan menghadirkan mereka adalah agar mereka menyampaikan kepada kaumnya apa yang terjadi di sana. Tujuan ini tidak akan tercapai kecuali dengan mendengarkan firman Allah SWT. Di samping itu, peristiwa berbicaranya Allah dengan Musa adalah sebuah mukjizat bagi Musa sehingga mesti ada orang lain yang juga mendengar firman tersebut.

4. Dalam pembicaraan tersebut, Allah SWT menurunkan lauh-lauh yang berisi Taurat pada Musa. Lauh-lauh tersebut mengandung pokok-pokok aqidah, akhlak, etika, syari'at, dan hukum-hukum yang menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram. Muqatil berkata, "Dalam lauh-lauh itu dituliskan, ‘Sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jangan persekutukan sesuatu pun dengan-Ku. Jangan merampok dan jangan berdusta palsu dengan nama-Ku karena sesungguhnya orang yang berdusta palsu dengan nama-Ku, niscaya Aku tidak akan menyucikannya. Jangan membunuh, jangan berzina, dan jangan durhaka kepada kedua orang tua."

5. Syari'at mesti diterima dengan penuh kesungguhan, ketegasan, keseriusan untuk menaati dan mengaplikasikan seluruh substansinya yang berisi kebaikan dan perbaikan, mencegah kerusakan dan perusakan, serta membentuk umat dalam formasi yang baru. Mengambil segala hal terbaik yang ada di dalam Taurat, padahal semuanya adalah baik, maksudnya adalah mengambil hal-hal yang fardhu dan sunnah, bukan hal-hal yang mubah yang tidak ada pujian dan pahalanya jika dilakukan.

6. Bangsa Israil bangga sekali ketika mereka bisa melaksanakan syari'atnya. Namun, ketika kebanggaan itu berubah menjadi kesombongan dan mereka mengira bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah, lalu mereka berlaku zalim dan fasiq, Allah pun menguasakan bangsa Babilon terhadap mereka yang kemudian menghancurkan kekuasaan mereka. Setelah itu mereka bertobat sehingga beberapa daerah kekuasaan mereka pun kembali pada mereka. Namun, kemudian mereka berlaku zalim dan berbuat kerusakan lagi, sehingga Allah menguasakan bangsa Nasrani terhadap mereka, yang akhirnya mengalahkan dan mencerai-beraikan mereka. Hal ini juga berlaku bagi kaum Muslimin ketika mereka mendurhakai Allah dan menyianyiakan-Nya. Ketika terjadi demikian, saat itu Allah akan menguasakan para musuh dari segala penjuru terhadap mereka sehingga mereka (para musuh itu) akan merusak pemikiran, aqidah, dan akhlak kaum Muslimin serta membuat perpecahan dan silang sengketa di dalam barisan kaum Muslimin.

Kesimpulannya, suatu umat akan tetap mulia dan disegani selama ia berpegang teguh dengan agamanya. Jika ia sudah mengabaikan agamanya, ia akan runtuh dan sirna. Tidak perlu terpukau dengan kebesaran negara-negara Eropa, Amerika, Rusia, dan Yahudi, karena semua itu ada batasnya dan berlaku sesuai dengan hikmah yang diketahui oleh Allah SWT.

7. Berbagai pendapat tentang kemungkinan melihat Allah SWT. Kalangan Muktazilah berdalilkan dengan ayat,

_"Engkau tidak akan bisa melihatku" dan ayat, "Dia tidak dapat dicapai oleh pandangan."_ *(al-An'aam: 103)*

Allah SWT tidak bisa dilihat baik di dunia maupun di akhirat. Permintaan Musa untuk bisa melihat Allah sebenarnya hanyalah untuk membungkam orang-orang bodoh yang ingin melihat Allah SWT. Jadi, Musa ingin mendengarkan langsung kepada mereka nash yang tegas dari Allah bahwa hal tersebut tidak mungkin. Sementara itu, kalangan Ahlus Sunnah menetapkan bahwa melihat Allah SWT di akhirat adalah mungkin berdasarkan *firman Allah SWT:*

_"Wajah-wajah (orang Mukmin] pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya."_ *(al-Qiyamah: 22-23)*

Berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan mutawatir dari Rasulullah saw. di antaranya:

1) Hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Ahmad dan asy-Syaikhani* (*Bukhari* dan *Muslim*) serta pengarang Kitab as-Sunan yang empat (*Tirmidzi, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah*), dari *Jarir, Rasulullah saw. bersabda:*

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْقَمَرَ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ

_“Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian, sebagaimana kalian melihat bulan, tak ada yang menghalangi kalian untuk melihatnya.”_ *(HR Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, an-Nasa'i dan Ibnu Majah)*

2) Hadits yang diriwayatkan oleh *Ahmad, asy-Syaikhani, Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. bersabda:*

(قال الله تعالى)
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ.

_“Allah SWT berfirman, “Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam benak seorang manusia pun.”_ *(HR Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah)*

Inilah yang diungkapkan oleh para ulama, sebagai "melihat tanpa cara."

Adapun ayat ( لَن تَرَىٰنِى) sebenarnya mengindikasikan bahwa Allah SWT bisa dilihat. Seandainya kalau Dia mustahil untuk dilihat, tentu Dia akan berfirman, "Aku tidak dapat dilihat." Di samping itu, Allah SWT mengaitkan kemungkinan untuk melihat-Nya kepada sesuatu yang secara logika bisa terjadi, yaitu tetap berdirinya gunung. Sesuatu yang digantungkan kepada sesuatu yang mungkin terjadi secara logika berarti mungkin. Di samping itu, Musa sendiri telah mengajukan permintaan untuk bisa melihat Allah SWT dan ia tidak akan mungkin meminta, kecuali sesuatu yang mungkin terjadi. Jika melihat Allah adalah sesuatu yang terlarang atau tidak mungkin, tentu Musa tidak akan memintanya. Jadi, ketika ia memintanya kita pun tahu bahwa melihat Allah SWT adalah mungkin secara logika.

Kata (تَجَلَّىٰ) yang terdapat dalam ayat (فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّۭا وَخَرَّ) Hal ini bisa berarti muncul dengan penglihatan atau dengan indikasi karena melihat Allah SWT tidak mampu dilakukan oleh manusia. Dengan demikian, maksud (تَجَلَّىٰ) dalam ayat ini adalah munculnya ayat-ayat Allah yang ditampakkan-Nya kepada gunung. Maksud dari semua itu adalah untuk menegaskan bahwa manusia tidak sanggup melihat Allah SWT. Sebagai buktinya, gunung saja yang besar dan kuat, ketika melihat Allah SWT menjadi hancur dan terpecah-pecah.

Di penghujung kisah, Allah menghibur Musa karena tidak bisa melihat-Nya, seolah-olah Allah berfirman, "Meskipun Aku tidak memungkinkanmu untuk melihat-Ku, tapi Aku sudah berikan padamu nikmat-nikmat yang besar, yaitu ini dan itu. Jadi, engkau jangan sampai berkecil hati karena tidak bisa melihat-Ku." Ini juga menjadi bukti bahwa sebenarnya melihat Allah SWT adalah mungkin.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login