AL-A'RAAF (43)
AL-A'RAAF: 150-151
KEMARAHAN NABI MUSA TERHADAP NABI HARUN KARENA KASUS PENUHANAN ANAK SAPI
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Karakteristik manusia berbeda-beda dalam mengorganisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Ada yang keras serta cepat emosi, seperti Musa yang marah demi kebenaran dan sikapnya ini adalah benar. Ada juga yang tenang, lunak, dan santun seperti Harun yang meskipun berusaha sekuat tenaga menegur kaumnya, tapi mereka tidak mendengar nasihatnya dan bahkan berniat untuk membunuhnya.
Kemarahan Musa ketika mendapat informasi dari Tuhannya, tidak sama dengan kemarahannya ketika menyaksikan langsung realitas yang ada di depan matanya karena informasi berbeda dengan melihat secara langsung. Biasanya, orang yang langsung menyaksikan akan lebih merasa pedih daripada orang yang tidak menyaksikan karena orang yang menyaksikan melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang yang tidak menyaksikan.
Semua ini merupakan kondisi-kondisi psikologis yang alami ketika manusia tidak mampu mengubahnya. Kita tidak dibebankan dalam hal-hal yang merupakan sifat-sifat dasar manusia seperti marah, sedih, dan sebagainya. Adapun Musa melempar lauh-lauh Taurat, hal itu disebabkan oleh ketercengangan dan emosionalnya, tanpa ia sadari sebagai reaksi atas apa yang ia lihat sehingga ia pun melakukan hal itu tanpa pemikiran yang matang, la tidak sengaja memecahkan lauh-lauh itu. Ia berada dalam kondisi tidak sadar dan emosi yang memuncak. Bahkan, kalau seandainya di depannya ada lautan api, tentu akan ia seberangi.
Tentang ia menarik rambut dan janggut saudaranya, hal ini tidak bertentangan dengan kemaksuman seorang nabi karena ia melakukannya bukan untuk menghina atau merendahkan Harun, melainkan untuk memuliakannya seperti yang dilakukan orang Arab ketika seseorang memegang janggut saudaranya sebagai tanda memuliakan. Namun, Harun tidak menyukai hal tersebut agar Bani Israil tidak menyangka bahwa hal itu adalah sebuah penghinaan terhadapnya.
Harun lebih tua tiga tahun dari Musa, la lebih disukai oleh Bani Israil daripada Musa karena ia lebih lunak dan lembut. Musa melakukan hal itu terhadap Harun juga karena ia mengira bahwa Harun berpihak kepada Bani Israil tentang apa yang mereka lakukan dengan membuat patung anak sapi. Keberpihakan seperti ini, tidak boleh untuk seorang nabi.
Namun semuanya berakhir ketika Harun minta maaf kepada Musa bahwa para penyembah anak sapi memandangnya seorang yang lemah sehingga mereka hampir saja mau membunuhnya.
Musa pun menerima alasan Harun dan mendoakan pengampunan dan kasih sayang untuk dirinya dan saudaranya pengampunan untuk kemarahannya yang mengakibatkan dirinya melempar lauh-lauh dan pengampunan untuk saudaranya karena ia mengira bahwa saudaranya tidak bersungguhsunguh untuk menegur mereka meskipun ia telah berusaha. Dalam kata lain, Musa meminta ampun dan seolah-olah berkata, "Ampunilah aku karena telah melemparkan lauh-Iauh dan ampuni juga saudaraku karena ia tidak bersungguh-sungguh."
*Hasan al-Bashri* berkata, "Seluruh Bani Israil menyembah patung anak sapi, kecuali Harun karena seandainya di sana ada orang yang beriman selain Musa dan Harun, tentu Musa tidak hanya berdoa, Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku’. Maksudnya, tentu ia juga akan mendoakan orang beriman itu juga.
Harun tetap tinggal dan tidak menyusul saudaranya ke Bukit Thur karena khawatir dibunuh oleh Bani Israil. Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang khawatir terhadap dirinya akan dibunuh ketika ia mengubah yang mungkar maka ia boleh diam.
*Ibnu al-Arabi* berkata, "Ini menunjukkan bahwa kemarahan tidak akan mengubah hukum, seperti pendapat sebagian orang karena kemarahan Musa tidak mengubah sedikit pun apa yang dilakukannya, bahkan semua berlaku secara alami seperti melemparkan lauh-lauh, memarahi saudara dan menampar malaikat. *Al-Mahdawi* berkata, "Hal itu karena kemarahannya adalah karena Allah SWT dan diamnya terhadap Bani Israil, karena khawatir mereka akan saling bertikai dan bercerai-berai."
Seperti yang diriwayatkan oleh *Bukhari* dan yang lain dari *Abu Hurairah* bahwa karena pribadi Nabi Musa sangat keras sampai-sampai ketika malaikat maut diutus padanya, ia menampar malaikat itu sampai mata malaikat itu menjadi buta. Malaikat kembali kepada Tuhan lalu berkata, _"Engkau telah mengutusku pada seorang hamba yang tidak menginginkan kematian."_ *Allah berfirman,* _"Kembalilah padanya dan katakan padanya untuk meletakkan tangannya pada punggung seekor lembu. Untuk setiap helai kulit lembu yang dipegangnya itu ia mendapat jatah usia satu tahun."_ Setelah mendengar itu Musa bertanya, _"Wahai Tuhanku, setelah itu bagaimana?"_ *Allah berfirman,* _"(Setelah itu) kematian." Musa berkata, "(Kalau demikian adanya) sekarang saja."_===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
