AN-NISAA' (51)
AN-NISAA': 80-82
TAAT KEPADA RASUL BERARTI TAAT KEPADA ALLAH DAN PERINTAH MENTADABBURI AL-QUR'AN YANG MERUPAKAN WAHYU ALLAH
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Muqati*l meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ أَحَبَّنِي فَقَدْ أَحَبَّ اللَّهَ، وَمَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
_"Barangsiapa mencintaiku berarti dia mencintai Allah, dan barangsiapa taat kepadaku, maka dia taat kepada Allah."_
Mendengar perkataan Nabi seperti ini, orang-orang munafik berkata, "Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu? Dia telah mendekati kemusyrikan. Dia melarang kita menyembah selain Allah, namun dia mengharapkan kita untuk menganggapnya sebagai Tuhan, sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang Nasrani terhadap Isa." Kemudian Allah menurunkan ayat ini.
AN-NISAA' (50)
AN-NISAA': 77-79
SIKAP-SIKAP MANUSIA KETIKA DIWAJIBKAN BERPERANG
Sebab Turunnya Ayat 77:
*An-Nasa'i dan al-Hakim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas* yang bercerita bahwa *Abdurrahman bin Auf* dan kawan-kawannya datang menghadap Rasul dan berkata kepada beliau, "Wahai Nabi Allah. Dulu ketika musyrik kami mulia, namun setelah masuk Islam kami menjadi orang yang lemah." Nabi menjawab, _"Saya diperintahkan untuk memaafkan (orang-orang kafir), maka janganlah kalian memerangi mereka."_ Namun setelah Allah memindahkan mereka ke Madinah, Allah memerintahkan Nabi untuk berperang, namun mereka malah menahan diri tidak mau berperang. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat (أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوٓا۟ أَيْدِيَكُمْ) *Hasan al-Bashri* berkata, "Ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap orang-orang Mukmin." *Mujahid* berkata, "Ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap Yahudi." Ada juga yang mengatakan bahwa ayat itu turun berkenaan dengan sikap orang-orang munafik. Maksudnya adalah mereka takut berperang melawan kaum musyrikin sebagaimana mereka takut diambil nyawanya oleh Allah.
AN-NISAA' (49)
AN-NISAA': 71-76
TATA CARA PERANG DALAM ISLAM
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Rangkaian ayat di atas menerangkan tentang sikap tegas kaum Muslimin dalam masalah hubungan luar negeri terutama sewaktu terjadi perang.
_Pertama_, rangkaian ayat tersebut ditujukan kepada kaum Mukminin umat Nabi Muhammad yang ikhlas supaya mereka selalu siap menghadapi peperangan dan selalu waspada. Allah memerintahkan mereka untuk memerangi musuh dengan berjuang di jalan Allah, melindungi ajaran syari'at, menjaga negara-negara Muslim dan membebaskan kaum mustadh'afin dari belenggu kezaliman. Allah juga memerintahkan kaum Muslimin supaya berperang dengan menggunakan strategi yang jitu, sehingga pihak musuh tidak mengetahui kekuatan dan jumlah pasukan yang dimiliki umat Islam. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah (خُذُوا۟ حِذْرَكُمْ) sehingga ia merupakan pelajaran berharga dalam masalah strategi menghadapi perang terbuka.
AN-NISAA' (48)
AN-NISAA': 69-70
PAHALA TAAT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih* meriwayatkan dengan jalur sanad yang cukup baik _(laa ba'sa bih)_ hingga ke Aisyah, di mana dia berkata, "Ada seorang laki-laki dating kepada Nabi saw. dan bekata, Ya Rasulullah, sesungguhnya kamu lebih saya cintai ketimbang diriku sendiri, dan kamu lebih saya cintai ketimbang anakku. Saya tadi berada di rumah dan teringat dirimu, lalu saya tidak sabar ingin berjumpa dan melihatmu. Namun apabila aku mengingat bahwa nanti saya akan mati dan kamu juga akan mati, saya tahu bahwa kamu nanti akan berada di surga bersama para nabi. Sementara itu jika saya memang nanti masuk ke surga, saya khawatir tidak dapat melihatmu (karena tempatnya berbeda)". Nabi tidak membalas ucapan orang tersebut hingga turunlah Malaikat Jibril dengan membawa ayat ini."
Inspirasi Qur'ani
Halaman 171 dari 248