Surah Thaahaa Ayat 115-127

*THAAHAA (17)*
 
*KISAH NABI ADAM KETIKA DI SURGA, KISAH DIKELUARKANNYA DIA DARI DALAMNYA DAN HIDAYAH ALLAH KEPADANYA*

*Surah Thaahaa Ayat 115-127*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Kisah Adam menunjukkan beberapa hal berikut:

1. Terkadang seseorang melakukan kemaksiatan dan menyalahi perintah Allah dalam kondisi khilaf dan lalai untuk selalu taat kepada-Nya. Namun, dosa dari kesalahan yang kita lakukan di saat kita lupa adalah diampuni. Ibnu Zaid berkata, "Nabi Adam lupa dengan apa yang ditetapkan oleh Allah terhadapnya pada hari itu. Seandainya ia benar-benar memiliki keinginan untuk melakukan kesalahan itu, tentu ia tidak perlu menaati musuhnya, iblis."

2. Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai ungkapan dari salam hormat dan pemuliaan, bukan sujud ibadah, sedangkan iblis tidak mau sujud bersama para malaikat karena kesombongan, keangkuhan, dan kedengkiannya.

3 . Tidak diragukan lagi bahwa di dalam surga terdapat kenikmatan yang mutlak. Tidak perlu lelah dan letih untuk mendapatkan kenikmatan dan semua yang diinginkan di dalamnya. Di antara kenikmatan tersebut adalah rasa kenyang, pakaian, minuman, dan tempat tinggal. Berbeda dengan kondisi di dunia, yang semua kebutuhan pokok terkait erat dengan kerja keras dan kesulitan.

4. Bisikan setan terhadap Nabi Adam agar memakan buah dari pohon terlarang tersebut merupakan sebab dari pelanggaran yang dia lakukan dan dikeluarkannya dia dari surga serta turun ke bumi.

5. Tidak boleh membicarakan dosa para nabi kecuali dengan kadar yang disebutkan di dalam Al-Qur'an atau Sunnah yang shahih. Sebagian ulama Madzhab Maliki mengatakan, "Allah SWT telah menyebutkan tentang terjadinya dosa dari beberapa nabi.

Dia menisbahkan dosa tersebut kepada mereka, menegur mereka karenanya, dan mereka pun menyatakan bahwa hal itu memang mereka lakukan, namun mereka telah meninggalkannya. Mereka telah memohon ampun dan bertobat. Semua ini disebutkan di banyak tempat yang secara umum tidak dapat ditakwilkan, walaupun satu per satunya dapat ditakwilkan. Semua ini tidak mencemarkan nama baik dan kedudukan mereka. Akan tetapi, hal itu sangat jarang terjadi pada mereka. Dan jika terjadi, itu pun karena ketidaksengajaan dan karena lupa, atau karena penakwilan yang membuat mereka melakukannya. Jadi perbuatan tersebut bagi orang lain termasuk dalam kebaikan, sedangkan bagi mereka karena kedudukan mereka dan tingginya derajat mereka, hal itu termasuk dalam kategori keburukan. Karena seorang menteri terkadang dihukum karena perbuatan yang jika dilakukan oleh seorang pelayan, pelayan itu mendapatkan imbalan, jadi, para nabi takut dari kondisi mereka kelak pada hari Kiamat karena apa yang telah mereka lakukan, padahal mereka tahu bahwa mereka telah mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan.

Bagus sekali ungkapan al-Junaid ketika mengatakan, "Kebaikan orang-orang yang _abraar_ (orang-orang yang berbakti) adalah keburukan bagi orang-orang _muqarrabiin_ (orang-orang yang dekat)."

Jadi, bagi para nabi — shalawat dan salam dari Allah semoga tercurah kepada Nabi kita dan mereka — , walaupun terdapat nash-nash yang menyatakan bahwa mereka melakukan perbuatan dosa, maka hal itu tidak mencemarkan derajat dan kedudukan mereka. Bahkan Allah telah mengampuni, memilih, memberi petunjuk, memuji, dan menyucikan mereka. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita dan mereka."

6. Adapun orang yang melakukan banyak dosa dan dia tidak mendapatkan ampunan, maka para ulama berijma bahwa dia tidak boleh berhujjah dengan hujjah Nabi Adam dengan berkata, "Kamu mencelaku karena aku membunuh, berzina atau mencuri, sedangkan Allah telah menakdirkan hal itu padaku." Dan umat ini sepakat tentang kebolehan memuji orang yang baik karena kebaikannya dan mencela orang yang jahat karena kejahatannya serta menyebut dosa-dosanya.

7. Allah SWT telah memilih Nabi Adam dan memberinya petunjuk setelah ia berbuat maksiat. Jika perbuatan dosa ini terjadi dari seorang nabi sebelum diangkat menjadi nabi, perbuatan dosa merupakan hal yang mungkin terjadi padanya. Karena tidak ada kewajiban bagi kita untuk membenarkan para nabi sebelum mereka diangkat menjadi nabi. Setelah Allah mengangkat mereka menjadi nabi dan mengutus mereka kepada para makhluk-Nya, maka dosa yang telah mereka lakukan sebelumnya tidak akan berpengaruh sama sekali.

8. Allah SWT memerintahkan Nabi Adam dan istrinya. Hawa, untuk turun ke dunia. Dunia adalah tempat pembebanan, persaingan dan permusuhan. Cara untuk berada di jalan yang benar dan unggul adalah konsisten dengan petunjuk Allah, sehingga barangsiapa mengikuti petunjuk para rasul dan Kitab-kitab Suci Allah, maka ia telah mendapatkan petunjuk dan tidak tersesat dari kebenaran serta tidak akan sengsara di akhirat.

Orang yang berpaling dari agama Allah, tidak mau membaca Kitab-Nya dan tidak mau mengamalkan isinya, maka ia akan hidup dalam kehidupan yang sempit dan penuh dengan siksaan fisik, psikis, dan akal. Kelak, pada hari Kiamat ia akan digiring dalam kondisi buta matanya dan buta hatinya. Ia tidak tahu jalan keselamatan dan ia akan dimasukkan ke dalam adzab Jahannam.

9. Tidak ada alasan bagi orang kafir pada hari Kiamat setelah datang ayat-ayat dan bukti-bukti tentang keesaan dan kekuasaan Allah, serta kewajiban melaksanakan syari'atNya. Karena jika ia mengabaikan dan tidak memikirkannya, maka ia akan dibiarkan di dalam siksa Jahannam. Demikianlah, semua orang yang berpaling dari Al-Qur'an serta tidak memerhatikan dan tidak memikirkan ciptaan Allah, melampaui batas dalam bermaksiat, dan tidak beriman dengan tanda-tanda kekuasaan Allah, maka mereka akan disiksa. Adzab akhirat lebih berat daripada siksa dunia ketika masih hidup atau ketika berada di dalam kubur. Adzab Akhirat juga lebih abadi dan akan terus terjadi karena tidak akan terputus dan tidak akan berakhir.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login