Surah Thaahaa Ayat 128-132

*THAAHAA (18)*
 
*MENGAMBIL PELAJARAN DARI KEHANCURAN UMAT-UMAT TERDAHULU, BERSABAR TERHADAP GANGGUAN ORANG-ORANG MUSYRIK, TIDAK MELIHAT KENIKMATAN DUNIA YANG MEREKA MILIKI DAN MEMERINTAHKAN KELUARGA UNTUK MELAKUKAN SHALAT*

*Surah Thaahaa Ayat 128-132*

*Sebab Turunnya Ayat 131*

Turun ayat *(...وَلَا تَمُدَّنَّ)* ketika seorang Yahudi ingin menguasai gandum Nabi saw, kecuali dengan digadai, maka Nabi saw. berkata, "Sesungguhnya, saya adalah orang yang tepercaya di langit dan di bumi." Maka turunglah ayat tersebut.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas memberi petunjuk kepada kita kepada hal-hal berikut.

1. Allah SWT menasihati orang-orang kafir agar mengambil pelajaran dari kondisi umat-umat terdahulu yang telah Dia binasakan karena mendustakan para rasul. Karena bisa saja orang-orang kafir tersebut akan tertimpa adzab, seperti yang terjadi pada orang-orang kafir dari umat-umat terdahulu.

2. Seandainya, bukan karena ketetapan Allah sejak azali bahwa adzab bagi umat Muhammad saw. ditangguhkan hingga hari Kiamat, tentu adzab akan langsung menimpa orang kafir dan orang yang berpaling dari ayat-ayat Allah SWT, tanpa ditunda hingga hari Kiamat kelak.

3. Sabar merupakan obat paling jitu untuk menghadapi gangguan orang-orang kafir yang menentang dakwah. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw. untuk bersabar mendengar tuduhan mereka yang mengatakan bahwa beliau ada seorang penyihir, dukun, pendusta dan sebagainya. Juga agar beliau tidak terlalu terbebani oleh kejahatan mereka karena adzab bagi mereka pasti akan datang pada waktu yang telah ditentukan, tidak akan maju dan tidak akan mundur sedikit pun.

4. Firman Allah SWT, jui Menurut pendapat mayoritas ulama, yang dimaksud ayat ini adalah shalat fardhu lima waktu; karena shalat Shubuh adalah sebelum terbitnya matahati, shalat Ashar sebelum tenggelamnya matahari, demikian juga shalat Zhuhur karena ia dapat dijamak dengan shalat Ashar, dan Shalat Isya di waktu malam, demikian juga shalat Maghrib. Sebagian ulama lainnya berpen¬ dapat bahwa firman Allah SWT,

Adalah isyarat untuk shalat Maghrib dan Zhuhur karena Zhuhur berada di ujung akhir siang yang awal dan di ujung awal siang yang akhir, sehingga posisinya berada di antara dua ujung siang (pagi dan sore). Sedangkan, ujung yang ketiga adalah ketika tenggelamnya matahari, yaitu waktu Maghrib.

5. Melaksanakan shalat fardhu pada waktunya merupakan perkara yang diridhai oleh Allah. Hal ini juga merupakan sebab bagi diperolehnya pahala yang besar. Allah SWT telah menjadikan pahala dari shalat fardhu ini sangat luas dan tidak terbatas. Allah berfirman kepada Nabi-Nya, demikian juga umat beliau *(لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ)*, supaya kamu merasa senang, maksudnya, semoga kamu diberi pahala berkat ibadah ini dengan pahala yang kamu ridhai.

6. Perkara yang selalu dipikirkan seorang Mukmin pada dasarnya adalah beramal untuk akhirat. Sedangkan, dunia, ia hanya mengikuti tujuan yang asli ini. Hal ini berbeda dengan kondisi orang-orang kafir; tidak ada yang mereka pikirkan kecuali dunia. Oleh karena itu, Allah melarang Nabi-Nya menginginkan perhiasan kehidupan dunia berupa harta, bangunan, perabot, kendaraan dan lain sebagainya yang dimiliki oleh orang-orang kafir. Semua itu merupakan cobaan dan ujian bagi mereka agar pengingkaran mereka terhadap nikmat Allah menjadi sebab bagi mereka ditimpa dengan siksa di akhirat kelak.

Dapat diamati adanya hubungan logis antara hukum-hukum tertentu dengan ayat-ayat yang menunjukkan hukumhukum tersebut. Karena Allah mengecam orang-orang kafir yang tidak mengambil pelajaran dari kondisi umat sebelumnya, kemudian Allah mengancam mereka dengan siksa yang ditangguhkan. Allah lalu memerintahkan Nabi-Nya untuk mengabaikan mereka, bersabar terhadap ucapan mereka, dan berpaling dari harta dan berbagai perhiasan dunia yang mereka miliki karena semua itu akan hilang dari mereka dan akan dihinakan.

Paparan ini ditutup dengan pelipur lara untuk Nabi saw., yaitu dengan firman-Nya, *(وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌۭ وَأَبْقَىٰ)* pahala dari Allah karena kesabaran dan sedikit perhatian terhadap dunia adalah lebih baik karena pahala itu abadi, sedangkan dunia itu fana.

Allah memerintahkan Nabi-Nya agar memerintahkan keluarga beliau melakukan shalat dan senantiasa menjaganya. Perintah yang ditujukan kepada Nabi saw. ini juga mencakup umat beliau dan secara khusus ahlul bait beliau. Rasulullah saw., setelah turunnya ayat ini, setiap Shubuh mendatangi rumah Fathimah r.a. dan Ali r.a., lalu berkata kepada mereka, "Lakukanlah shalat."

Urwah bin Zubair, jika melihat kemewahan para penguasa, ia segera masuk ke dalam rumah sembari membaca, *(...وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ)* _"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu..."_ (dan seterusnya), kemudian dia menyeru orang-orang agar meiakukan shalat, dengan berkata, "Lakukanlah shalat, semoga Allah mengasihi kalian."

8. Allah SWT melarang Nabi-Nya lalai melaksanakan shalat karena sibuk mencari rezeki. Allah telah menjamin rezeki beliau dan rezeki keluarga beliau. Sehingga, ketika keluarga Rasulullah saw. ditimpa kesulitan, maka beliau memerintahkan mereka untuk melakukan shalat. Dan Allah SWT berfirman,:

_“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kukuh."_ *(adz-Dzaariyaat: 56-58)*

9. Akhir yang indah dan terpuji adalah surga. Surga adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Sedangkan, selain mereka, maka kesudahannya sangatlah buruk, seperti tiada sama sekali.===
 
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login