AN-NISAA' (47)
AN-NISAA': 66-68
CINTA NEGARA DAN DISIPLIN MENJALANKAN PERINTAH ALLAH DAN RASULNYA
SEBAB TURUNNYA AYAT
Suatu hari *Tsabitbin Qaisbin Syammas* dan seorang Yahudi saling membangga-banggakan dirinya. Orang Yahudi tersebut berkata, "Demi Allah. Kalau Allah menyuruh kami bunuh diri, maka kami akan melakukannya." Tsabit pun berkata, "Demi Allah. Kalau Allah menyuruh kami bunuh diri, maka kami akan melakukannya." Kemudian turunlah ayat (مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًۭا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًۭا) yang artinya, _"dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka)"._
*TAFSIR DAN PENJELASAN*
Allah SWT menginformasikan bahwa sebagian besar manusia apabila dilarang melakukan sesuatu, dia justru melanggarnya karena manusia mempunyai sifat buruk, yaitu cenderung menentang aturan. Kebiasaan manusia yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi seperti ini diketahui oleh Allah SWT.
Seandainya Allah mewajibkan kepada manusia untuk membunuh diri mereka sendiri-sebagaimana yang pernah diperintahkan kepada Bani Isra'il karena mereka melakukan dosa menyembah anak lembu sehingga tobat mereka adalah dengan cara bunuh diri- kebanyakan manusia tidak akan mau melakukannya. Begitu juga apabila Allah memerintahkan manusia untuk keluar dari negaranya dan berhijrah ke negara lain demi memperjuangkan agama Allah, orang yang mau melaksanakan perintah tersebut hanya sedikit.
Seandainya mereka mau mematuhi perintah dan larangan Allah -yang tentunya ada sebab, alasan, hikmah, janji dan ancaman di sebaliknya- kepatuhan mereka lebih baik untuk diri mereka dan akan menambah kuat keimanan mereka.
Seandainya mereka mau melaksanakan kebaikan yang agung ini dan mau menjalankan perintah-perintah Allah, Allah akan menganugerahkan pahala yang besar kepada mereka, yaitu surga yang sifat-sifatnya _"tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di hati seseorang."_ *(hadits riwayat al-Bazzar dan ath-Thabrani dalam al-Ausath dari Abu Sa'id al-Khudri).*
Selain itu, Allah juga akan memberi petunjuk kepada mereka supaya selalu berada di jalan yang benar baik di dunia maupun akhirat, yaitu mereka dimudahkan untuk melakukan amal-amal yang dapat membahagiakannya baik di dunia maupun di akhirat.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Untuk menaati perintah-perintah Allah memang diperlukan keimanan yang kuat dan kukuh. Maksud taat _(ath-thaa'ah)_ adalah mendorong nafsu untuk melakukan perbuatan yang tidak ia sukai, bukannya melakukan perbuatan yang ia sukai. Orang yang mau Untuk menaati perintah-perintah Allah memang diperlukan keimanan yang kuat dan kukuh. Maksud taat _(ath-thaa'ah)_ adalah mendorong nafsu untuk melakukan perbuatan yang tidak ia sukai, bukannya melakukan perbuatan yang ia sukai. Orang yang mau mereka akan mendapatkan keuntungan yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Sikap seperti itu juga menunjukkan sikap tegar di atas kebenaran dan akan mendatangkan pahala yang agung di akhirat nanti.
Surga memang dikelilingi dengan perkara-perkara yang dibenci hawa nafsu, sedangkan neraka dikelilingi dengan kesenangan-kesenangan nafsu syahwat, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah hadits.
Ketika ayat ini turun, sekumpulan kaum Muslimin menyatakan diri bersiap sedia untuk melaksanakan perintah-perintah Allah. Abu Ishaq as-Sabi'i berkata, "Ketika ayat (وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ) turun, ada seorang Muslim yang berkata, "Kalau kami diperintah untuk melakukan sesuatu, kami akan melaksanakannya. Segala puji bagi Allah yang menganugerahkan ampunan kepada kami." Berita itu sampai kepada *Rasulullah,* dan beliau pun bersabda:
إِنَّ مِنْ أُمَّتِي لَرِجَالًا الإِيمَانُ فِي قُلُوبِهِمْ أَثْبَتُ مِنَ الْجِبَالِ الرَّوَاسِي
_"Sesungguhnya di antara umatku ada orang yang imannya sangat kuat di hati laksana gunung yang kukuh."_
*Ibnu Wahb* meriwayatkan bahwa *Imam Malik* berkata, "Seorang Muslim yang berkata (dalam hadits di atas) adalah Abu Bakar ash-Shiddiiq)" *Imam an-Naqqasy* mengatakan bahwa orang tersebut adalah Umar bin Khaththab.. *Abi al-Laits as-Samarqandi* mengatakan bahwa di antara orang yang mengucapkan hal senada adalah *Ammar bin Yasif, Ibnu Mas'ud dan Tsabit bin Qais.* Mereka berkata, "Kalau Allah memerintahkan kami untuk bunuh diri atau keluar dari negeri kami, kami akan melaksanakannya." *Nabi pun bersabda:* _"Iman yang berada di hati seseorang lebih kuat dari pada gunung yang kukuh."_
*Amir bin Abdullah Zubair* berkata, "Ketika ayat (وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ) turun, *Rasulullah saw. bersabda*, Kalau perintah itu benar-benar turun, maka *Ibnu Mas'ud* termasuk di antara orang sedikit (yang mau melaksanakan perintah) tersebut."
*Syuraih bin Ubaid* berkata, "Ketika Rasulullah saw membaca ayat (وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ), beliau mengarahkan tangannya ke *Abdullah bin Rawahah* dan bersabda, _"Kalau Allah memerintahkan hal tersebut, dia termasuk sebagian yang sedikit tersebut."_
*Firman Allah* (أَوِ ٱخْرُجُوا۟ مِن دِيَـٰرِكُم) mengisyaratkan kecintaan manusia terhadap tanah airnya. Beratnya meninggalkan tanah air pada ayat tersebut disandingkan dengan beratnya melakukan bunuh diri.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
