SURAH AN-NISAA': 69-70

AN-NISAA' (48)

AN-NISAA': 69-70

PAHALA TAAT KEPADA ALLAH DAN RASULNYA

SEBAB TURUNNYA AYAT

*Ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih* meriwayatkan dengan jalur sanad yang cukup baik _(laa ba'sa bih)_ hingga ke Aisyah, di mana dia berkata, "Ada seorang laki-laki dating kepada Nabi saw. dan bekata, Ya Rasulullah, sesungguhnya kamu lebih saya cintai ketimbang diriku sendiri, dan kamu lebih saya cintai ketimbang anakku. Saya tadi berada di rumah dan teringat dirimu, lalu saya tidak sabar ingin berjumpa dan melihatmu. Namun apabila aku mengingat bahwa nanti saya akan mati dan kamu juga akan mati, saya tahu bahwa kamu nanti akan berada di surga bersama para nabi. Sementara itu jika saya memang nanti masuk ke surga, saya khawatir tidak dapat melihatmu (karena tempatnya berbeda)". Nabi tidak membalas ucapan orang tersebut hingga turunlah Malaikat Jibril dengan membawa ayat ini."

*Imam al-Kalbi* berkata, "Ayat ini turun berkenaan dengan Tsauban, salah seorang hamba sahaya Rasulullah saw.. Dia sangat mencintai Rasul dan sering tidak sabar ingin melihat wajah Rasul. Suatu hari dia menghadap Rasul dengan bermuka sedih dan tubuhnya lemas. Kesedihan sangat tampak dari raut wajahnya, dia khawatir tidak dapat melihat Rasul lagi setelah dia meninggal dunia. Kemudian dia menceritakan hal itu kepada Rasulullah saw., lalu Allah menurunkan ayat ini.

*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan bahwa *Masruq* berkata, "Sahabat-sahabat Nabi bertanya, 'Wahai Rasulullah, kami tidak patut berpisah darimu. Apabila kamu lebih dulu (masuk surga), tempatmu lebih tinggi dari tempat kami, dan kami tidak dapat melihatmu lagi." Kemudian Allah menurunkan ayat ini."

*Ibnu Abi Hatim* juga meriwayatkan bahwa *Ikrimah* berkata, "Datang seorang pemuda kepada Rasulullah saw. dan berkata, "Wahai Nabi, di dunia ini kami dapat melihatmu, namun di akhirat nanti kami tidak dapat melihatmu. Sesungguhnya kamu di akhirat nanti berada di tingkatan surga yang tinggi." Kemudian Allah menurunkan ayat ini, dan Rasul berkata kepada pemuda tersebut, "Kamu akan bersamaku di surga, in syaa Allah."

*TAFSIR DAN PENJELASAN*

Barangsiapa mau melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, serta mau meninggalkan larangan-larangan-Nya, Allah akan menempatkannya di tempat yang mulia bersama orang-orang yang mempunyai derajat tinggi yang telah dipilih oleh Allah. Mereka berada dalam tingkatan tempat, yaitu tingkatan para nabi, _ash-shiddiiquun,_ syuhada dan orang-orang beriman yang salih lahir dan batinnya.

Orang yang taat akan bersama mereka dalam satu tempat yang penuh kenikmatan. Mereka akan merasa senang karena dapat berkumpul, berjumpa dan berbincang dengan yang lain. Meskipun berada pada tingkatan yang berbeda, mereka akan saling menziarahi karena mereka ada ikatan dan masing-masing merasa puas dengan apa yang didapati.

Kemudian Allah memuji mereka semua. Keempat golongan tersebut akan menjadi kawan akrab orang yang taat tersebut karena mereka sangat mencintainya dan sangat senang berjumpa dengannya. Penggunaan bentuk tunggal (رَفِيقًۭا) mengandung arti bahwa setiap orang yang termasuk dalam empat golongan tersebut akan menjadi kawan akrab orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hal ini sama dengan penggunaan kata tunggal (طِفْلًا) pada ayat (ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا) yang maksudnya adalah kemudian kami kami keluarkan setiap orang dari kalian sebagai seorang bayi.

Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh *Imam ath-Thabrani* juga menegaskan ayat di atas. Pada hadits tersebut *Rasulullah saw. bersabda:*

_"Barangsiapa mencintai suatu kaum, maka dia akan dihimpun oleh Allah bersama mereka."_ *(HR ath-Thabrani)*

Begitu juga dengan hadits yang diriwayatkan oleh *Bukhari dan Muslim* dari *Anas:*

_"(Di akhirat nanti) seseorang akan bersama orang yang dicintainya."_ *(HR Bukhari dan Muslim)*

Kecintaan menuntut ketaatan, sebagaimana yang ditegaskan oleh *Allah dalam firman-Nya,*

_"Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu."_ *(Aali 'Imraan: 31)*

Pahala bagi orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya ini merupakan anugerah yang sangat agung. Allah Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkan anugerah tersebut. Dia mengetahui siapakah orang yang bertakwa dan cukuplah hanya Allah yang mengetahui mana orang-orang yang bertakwa dan taat kepada-Nya, mana yang menentang-Nya dan mana yang munafik.

Ayat ini juga menegaskan bahwa orang-orang yang taat mendapatkan pahala bukan karena ketaatan-Nya melainkan berkat anugerah dan kemurahan Allah semata.

Dengan itu, orang-orang munafik hendaknya waspada dengan tempat kembali yang sangat menyakitkan jika mereka tidak mau membenahi diri. Orang-orang beriman yang taat hendaklah berbahagia dengan anugerah dan kenikmatan Allah ini.

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Pada ayat sebelumnya Allah menerangkan bahwa apabila orang munafik mau melaksanakan apa yang dinasihatkan kepada mereka, mereka akan mendapatkan kenikmatan. Pada ayat ini, Allah menerangkan kenikmatan dan pahala bagi orang yang mau melaksanakannya.

Ayat ini merupakan penafsiran *firman Allah:*

_"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."_ *(al-Faatihah: 6-7)*

Ayat ini juga merupakan yang dimaksudkan oleh Nabi dalam doanya ketika beliau hendak meninggal dunia,

_"Ya Allah, anugerahkan kepadaku kawan-kawan yang tinggi derajatnya (di sisimu)"._

Dalam *Shahih Bukhari* disebutkan bahwa *Aisyah* berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Setiap Nabi yang sakit, pasti ditawari untuk memilih kenikmatan dunia atau akhirat'. Ketika beliau mengeluh sewaktu sakit, saya mendengar beliau berkata: "Bersama orang-orang yang Allah memberi kenikmatan kepadanya, yaitu para nabi, shiddiquun, syuhada dan orang-orang salih." Saya pun tahu bahwa beliau sedang disuruh untuk memilih." 

*Imam al-Qurthubi* berkata, "Ayat ini juga menunjukkan kekhalifahan Abu Bakar, sebab ketika Allah menyebut kekasih-kekasihnya dalam Al-Qur'an, Dia memulainya dari yang paling tinggi derajatnya yaitu para nabi, kemudian yang kedua adalah para shiddiiquun dan di antara keduanya tidak ada yang menyela-nyelai. Pada sisi lain umat Islam sepakat untuk menjuluki Abu Bakar dengan julukan _ash-shiddiiq_, sama seperti kesepakatan umat Islam untuk menyebut Muhammad sebagai Rasul. Jika memang *Abu Bakar* adalah _ash shiddiiq_ dan dia adalah orang kedua setelah Rasulullah, tidak ada seorang pun yang berhak mendahuluinya."===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login