AL-A'RAAF (28)
AL-A'RAAF: 88-93
DIALOG NABI SYU'AIB DENGAN TOKOH-TOKOH KAUMNYA DAN ADZAB YANG DITIMPAKAN KEPADA MEREKA BERUPA GEMPA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Di antara reaksi yang timbul dari dakwah Nabi Syu'aib yang dijuluki sebagai khatib (orator) kepada kaumnya untuk menyembah Allah semata dan tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengajukan padanya dua pilihan yang sangat berbahaya: diusir dan diasingkan atau kembali ke agama mereka.
AL-A'RAAF (27)
AL-A'RAAF: 85-87
KISAH NABI SYU'AIB
Sorotan Sejarah:
Ini adalah kisah kelima dari kisah-kisah para nabi setelah *Nuh, Hud, Shalih, dan Luth*, yaitu kisah *Syu'aib* bersama kaumnya, penduduk Madyan. *Syu'aib* adalah bin *Maikil bin Yasyjar*. Dia adalah salah seorang nabi dari Arab. Nama *Syu'aib* tersebut sepuluh kali dalam Al-Qur’an: dalam al-A'raaf: 85, 88, 90, 93; Huud: 84, 87, 90, 95; asy-Syu'araa’: 177; al-'Ankabuut: 36. Nabi Syu'aib diutus sebelum zaman Nabi Musa, sebab Allah SWT setelah menyebutkan kisah-kisah para nabi yang lima, berfirman:
AL-A'RAAF (26)
AL-A'RAAF: 80-84
KISAH NABI LUTH
Sorotan Sejarah:
*Luth* adalah anak *Haran*, saudara *Nabi Ibrahim bin Tarih*. Dia mengimani Nabi Ibrahim dan mendapatkan hidayah dengan hidayah Nabi Ibrahim. Sebagaimana *firman Allah SWT:*
_"Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, "Sesungguhnya aku harus berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku; sungguh. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."_ *(al-'Ankabuut: 26)*
AL-A'RAAF (25)
AL-A'RAAF: 73-79
KISAH NABI SHALIH
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Tsamud, sebagaimana Ad adalah dari kabilah Arab asli. Allah mengutus kepada mereka Shalih sebagai nabi. Mereka adalah kaum Nabi Shalih. Dia adalah termasuk orang yang nasab dan kedudukannya mulia di kaumnya. Dia mengajak mereka ke jalan Allah sampai beruban. Tidak ada yang mengikutinya kecuali kelompok kecil dari orang-orang yang dianggap lemah. Orang-orang yang sombong berkata, "Kami mengufuri apa yang dibawa oleh Shalih." Ar-Razi mengatakan ayat ini adalah termasuk hujjah yang paling besar dalam menjelaskan bahwa kefakiran adalah lebih baik daripada kekayaan. Hal itu karena sombong hanya muncul dari banyaknya harta dan kedudukan. Penganggapan lemah hanya terjadi karena sedikit harta dan kedudukan. Allah pun menjelaskan bahwa banyaknya harta dan kedudukan membuat mereka membangkang, enggan, ingkar dan kufur. Sedikitnya harta dan kedudukan membuat mereka beriman, percaya dan tunduk. Ini menunjukkan bahwa kefakiran lebih baik dari kekayaan. Firman Allah: - ٱلْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِن سُهُولِهَا قُصُورًۭا - maksudnya di semua tempat, juga firmanNya, (وَتَنْحِتُونَ ٱلْجِبَالَ بُيُوتًۭا ۖ) .
Inspirasi Qur'ani
Halaman 131 dari 248