AL-A'RAAF (48)
AL-A'RAAF: 158
UNIVERSALITAS RISALAH ISLAM
قُلْ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَـٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٥٨
*Artinya:* _Katakanlah, "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk"._
AL-A'RAAF (47)
AL-A'RAAF: 156-157
DOA MUSA LAINNYA KETIKA MENYAKSIKAN GEMPA DAN KAITAN RISALAH MUSA DENGAN RISALAH NABI MUHAMMAD SAW.
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Setelah Musa menyatakan bahwa tiada Tuhan selain Allah, ia lalu menyatakan bahwa _“Allah adalah Pelindung kami yang mengatur segala urusan kami.”_ Sebagai pelindung, tentu mampu menghindarkan bahaya dan mendatangkan manfaat. Oleh karena itu, Musa memohon ampunan dan rahmat untuk menghindarkan bahaya yang biasanya didahulukan daripada mengejar manfaat. Kemudian, ia meminta untuk diberikan manfaat yaitu ketika ia meminta kebaikan di dunia dan di akhirat. Ini semua sangat sesuai dengan tobat dan ketundukan yang dilakukan oleh seorang hamba, sehingga Musa mengatakan, _"Sesungguhnya kami bertobat,"_ maksudnya, kembali kepada-Mu.
AL-A'RAAF (46)
AL-A'RAAF: 155
MUSA MEMILIH TUJUH PULUH ORANG UNTUK BERCAKAP-CAKAP, MELIHAT, DAN BERMUNAJAT KEPADA TUHAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Seorang Mukmin harus beradab terhadap Allah dan tidak boleh menempuh cara-cara menentang. Permintaan mereka (Bani Israil) untuk melihat Allah SWT karena mereka membandingkannya dengan mendengar firman-Nya menyebabkan diturunkannya gempa yang hebat di bukit tempat mereka berada. Kalau hal ini saja menyebabkan diturunkannya adzab gempa, penyembahan terhadap patung anak sapi lebih pantas lagi mendapatkan adzab yang lebih keras dan dahsyat.
AL-A'RAAF (45)
AL-A'RAAF: 154
AKHIR KISAH PEMBUATAN PATUNG ANAK SAPI SEBAGAI TUHAN
وَلَمَّا سَكَتَ عَن مُّوسَى ٱلْغَضَبُ أَخَذَ ٱلْأَلْوَاحَ ۖ وَفِى نُسْخَتِهَا هُدًۭى وَرَحْمَةٌۭ لِّلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ ١٥٤
*Artinya:* _“Dan setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya.”_ *(al-A'raaf: 154)*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Sifat santun adalah puncak semua akhlak. Ketika jiwa Musa telah tenang dan ia kembali menjadi santun, ia mulai mempelajari lauhlauh yang berisi Taurat tersebut. Di dalamnya, ia mendapati penjelasan tentang mana yang benar dan mana yang sesat, mana hidayah dan mana penyimpangan, serta mana rahmat dan mana adzab, dengan adanya penjelasan jalan yang lurus dan baik bagi orang yang takut terhadap Allah dan adzab-Nya.
Inspirasi Qur'ani
Halaman 126 dari 248