SURAH AL-A'RAAF: 88-93

AL-A'RAAF (28)

AL-A'RAAF: 88-93

DIALOG NABI SYU'AIB DENGAN TOKOH-TOKOH KAUMNYA DAN ADZAB YANG DITIMPAKAN KEPADA MEREKA BERUPA GEMPA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Di antara reaksi yang timbul dari dakwah Nabi Syu'aib yang dijuluki sebagai khatib (orator) kepada kaumnya untuk menyembah Allah semata dan tidak memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Mereka mengajukan padanya dua pilihan yang sangat berbahaya: diusir dan diasingkan atau kembali ke agama mereka.

Inilah yang dimaksud dari perkataan mereka, ( أَوْ لَتَعُودُنَّ فِى مِلَّتِنَا ۚ) "Kembali" disini artinya memulai. Orang Arab biasa mengatakan (قَدْ عَا دَ إِليَّ مِنْ فُلَانِ مَكْرُوهُ) "Aku mulai mendapatkan perlakuan tidak baik dari fulan." Maksudnya, terjadi sesuatu yang tidak baik kepadaku dari pihaknya. Ini artinya, ungkapan mereka tidak berarti sebelum menjadi nabi, Syu'aib berada dalam agama mereka karena seorang nabi terpelihara dari kekafiran. Dengan demikian, ucapan yang mereka arahkan kepada Nabi Syu'aib adalah dalam bentuk _taghlib_ (mengumumkan yang sedikit terhadap yang banyak). Mereka berbicara dengannya, padahal maksudnya adalah kepada para pengikutnya. Namun, mereka anggap Nabi Syu'aib sama dengan mereka.

Ketegasan dari mereka harus dibalas dengan ketegasan yang sama. Dengan demikian, balasan dari Nabi Syu'aib sangattegas dan pasti, bahwa ia sekali-kali tidak akan melakukan apa yang mereka inginkan, begitu pula dengan para pengikutnya yang juga tegas dan teguh, jawaban nabi mereka juga adalah jawaban mereka. Ungkapan seperti ini muncul dari akar kenabian dan kerasulan yang di antara karakteristiknya adalah benar dalam berucap dan bebas dari kebohongan karena kembali ke agama mereka berarti membatalkan kenabian dan menghapus kerasulan.

Nabi Syu'aib memasukkan dirinya ke dalam barisan kaumnya ketika ia berkata ( إِذْ نَجَّىٰنَا ٱللَّهُ مِنْهَا ۚ). Maksudnya, dari agama kekafiran itu meskipun ia sendiri suci dan bersih dari hal itu. Hal ini sebagai bentuk taghliib dalam ucapan, sebagaimana mereka juga mengatakan dalam ucapan mereka (أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا).

Kalangan _Asy'ariah_ menjadikan *firman Allah (إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ  ۚ),* sebagai dalil bahwa Allah bisa saja menghendaki kekafiran karena pengertian kalimat ini adalah kecuali jika Allah berkehendak untuk mengembalikan kami ke dalam agama kalian dan agama itu adalah agama kekafiran. Sementara itu, kalangan _Muktazilah_ mengatakan, "Allah tidak akan menghendaki kecuali kebaikan karena istitsna (pengecualian) yang terdapat dalam kalimat. Kecuali jika Allah berkehendak untuk mengembalikan kami ke agama kalian adalah _qadhiyyah syarthiyyah_ (kalimat yang mengandung syarat). Namun, tidak ada penjelasan apakah Allah menghendaki hal itu atau tidak. Di samping itu, kalimat ini diucapkan dalam konteks sebuah ibadah (menuruti perintah agama), sebagaimana seseorang misalnya mengatakan, "Aku tidak akan melakukan itu, kecuali kalau aspal berwarna putih dan burung gagak beruban."

Bentuk keterikatan *firman Allah (وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۚ)* dengan kalimat sebelumnya, boleh jadi dalam ilmu Allah akan terjadi hal yang ketiga selain pengusiran atau kembali kepada kekafiran. Misalnya, tetap berada di kampung tapi kami tidak mesti kembali ke dalam agamamu ketika Allah membuat kalian tunduk di bawah perintah kami dan patuh kepada keputusan dan hukum-hukum kami.

*Firman Allah (وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَىْءٍ عِلْمًا ۚ)* menunjukkan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali (sebelum alam tercipta) karena kata kerja (وَسِعَ) adalah _fi'il madhi_ sehingga ia mencakup semua masa yang telah berlalu. Bahkan, ilmu Allah juga mencakup masa sekarang dan yang akan datang, serta mengetahui segala yang bersifat _ma'dum_ (tidak ada), pengungkapan dengan menggunakan _fi'il madhi_ mengandung makna bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara pasti.

*Firman Allah (عَلَى ٱللَّهِ تَوَكَّلْنَا ۚ رَبَّنَا)* menunjukkan bahwa seorang Nabi dan seluruh kaum Mukmin mesti selalu menjaga hubungan dengan Allah dan menyerahkan segala sesuatu secara sempurna kepada-Nya. Jadi, ungkapan, "Kepada Allah kami bertawakal" mengandung makna _al-hashr_. Artinya, hanya kepada Allah semata kami bertawakal, bukan kepada yang lain.

*Firman Allah (رَبَّنَا ٱفْتَحْ )* maknanya adalah penyerahan segala keputusan kepada Allah, berdoa hanya kepada-Nya dan mengadu juga hanya kepada-Nya. Firman Allah, maknanya adalah pujian dan sanjungan terhadap Allah. Kalangan Asya'irah menjadikan firman Allah, menjadikan dalil bahwa Allah yang menciptakan keimanan dalam diri seorang hamba.

*Firman Allah (وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْفَـٰتِحِينَ)* menunjukkan bahwa kaum Nabi Syu'aib berhak mendapat adzab berupa pembinasaan, disebabkan oleh dua hal, yaitu kekafiran atau kesesatan dan menyesatkan orang lain atau meracuni pikiran mereka.

Adzab yang ditimpakan kepada mereka adalah gempa yang sangat dahsyat yang meluluhlantakkan semuanya serta suara guntur yang membinasakan yang datang bersamaan dengan gempa. Adzab tersebut hanya ditujukan kepada orang-orang yang mendustakan kerasulan Nabi Syu'aib saja. Sementara itu, orang-orang yang beriman diselamatkan oleh Allah. Hal ini mengindikasikan tiga hal.

Pertama, adzab hanya terjadi karena diciptakan oleh Zat Yang Maha Melakukan dan Berkuasa untuk melakukannya, bukan karena pengaruh dari bintang atau alam. Seandainya demikian, tentu adzab tersebut juga akan menimpa pengikut Nabi Syu'aib. Kedua, Zat Yang Maha Melakukan dan Berkuasa mengetahui segala sesuatu sampai hal-hal yang sangat detail sehingga Dia bisa membedakan yang taat dan yang durhaka. Ketiga, adzab yang hanya mengenai sebagian orang, namun tidak mengenai yang lain merupakan mukjizat yang terbesar pada Nabi Syu'aib a.s.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login