SURAH AL-A'RAAF: 85-87

AL-A'RAAF (27)

AL-A'RAAF: 85-87

KISAH NABI SYU'AIB

Sorotan Sejarah:

Ini adalah kisah kelima dari kisah-kisah para nabi setelah *Nuh, Hud, Shalih, dan Luth*, yaitu kisah *Syu'aib* bersama kaumnya, penduduk Madyan. *Syu'aib* adalah bin *Maikil bin Yasyjar*. Dia adalah salah seorang nabi dari Arab. Nama *Syu'aib* tersebut sepuluh kali dalam Al-Qur’an: dalam al-A'raaf: 85, 88, 90, 93; Huud: 84, 87, 90, 95; asy-Syu'araa’: 177; al-'Ankabuut: 36. Nabi Syu'aib diutus sebelum zaman Nabi Musa, sebab Allah SWT setelah menyebutkan kisah-kisah para nabi yang lima, berfirman:

_“Setelah mereka, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari bukti-bukti itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang berbuat kerusakan."_ *(al-A'raaf: 103)*

Madyan (dalam bahasa Arab: Madyan atau Madyaan), mereka adalah keturunan Madyan bin Ibrahim mereka tinggal di kota Madyan dekat dengan Ma’an, arah tenggara Yordania, sejalan Hijaz. Mereka menyembah selain Allah, curang dalam takaran dan timbangan. Syu'aib melarang mereka melakukan itu semua, mengancam mereka akan siksa Allah dengan kekuatan sastra dan kepandaian menyampai¬ kan argumentasi kepada mereka yang diberikan Allah kepada Syu'aib. Sehingga dia dinamakan _Khatibul Anbiya'_ (juru khutbah para nabi). Madyan adalah penduduk Aikah menurut pendapat *Ibnu Katsir*. Mereka duduk menghalangi jalan-jalan, menghalangi manusia dari agama Allah. *Ibnu Abbas* mengatakan mereka duduk-duduk di jalam, lalu mengatakan kepada orang yang mendatangi mereka bahwa *Syu'aib* adalah pendusta. Karena itu, janganlah dia menjadi fitnah bagi kalian tentang agama kalian. Mereka juga mengatakan:

_"Dan pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu'aib) yang kafir berkata, (kepada sesamanya), “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi."_ *(al-A'raaf: 90)*

Mereka telah berusaha membatalkan dakwahnya, mengganggu, meremehkan keadaannya dan mengancamnya,

_“Mereka berkata, “Wahai Syu'aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu, tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami."_ *(Huud: 91)*

Mereka justru mencela shalat Nabi Syu'aib yang shalatnya memerintahkannya untuk melarang mereka menyembah selain Allah, bersikap adil dalam takaran dan timbangan.

_“Mereka berkata, “Wahai Syu'aib! Apakah agamamu yang menyuruhmu agar kami meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami atau melarang kami mengelola harta kami menurut cara yang kami kehendaki? Sesungguhnya engkau benar-benar orang yang sangat penyantun dan pandai."_ *(Huud: 87)*

Ketika Nabi Syu'aib telah membuat mereka tidak bisa membantah ajaran terhadap mereka untuk mengimani Allah dan muamalah yang baik, para pemuka dari kaumnya, mengancam untuk mengusirnya dan orang-orang Mukmin bersamanya dari desa itu jika mereka tidak memeluk agama kaum itu. Nabi Syu'aib pun mencela mereka dengan ucapannya,

_"Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syu'aib berkata, "Wahai Syu'aib! Pasti kami usir engkau bersama orangorang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami. "Syu'aib berkata, "Apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak suka?"_ *(al-A'raaf: 88 )*

Ketika mereka terus-menerus kufur, melampaui batas dalam mendebat Nabi Syu'aib dan menyakitinya dengan ucapan dan perbuatan, Allah membinasakan mereka dengan gempa seperti kabilah Tsamud sehingga mereka semua binasa.

_"Mereka mendustakannya (Syu'aib), maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka."_ *(al-'Ankabuut: 37)*

Setelah Allah menyelamatkan Syu'aib dan orang-orang Mukmin bersamanya. Dia mengutusnya kepada penduduk Aikah. Aikah adalah hutan di dekat Madyan. Mereka mengikuti jalan penduduk Madyam. Ketika Nabi Syu'aib melarang mereka atas kelakukan mereka, mereka menuduhnya bohong dan mempunyai sihir. Mereka tidak membenarkan kenabiannya sebab dia adalah manusia seperti mereka.

_"Mereka berkata, "Engkau tidak lain hanyalah orang-orang yang kena sihir, dan engkau hanyalah manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang yang berdusta."_ *(asy-Syu'araa': 185-186)*

Kemudian mereka meminta kepada Syu'aib agar menjatuhkan kepada mereka sepotong langit jika dia termasuk orangorang yang benar. Mereka terus saja berpaling dari kebenaran, maka mereka ditimpa adzab naungan awan. Yakni Allah menguasakan rasa panas kepada mereka selama tujuh hari sampai air mereka mendidih, kemudian Dia menggiring awan hitam. Lalu mereka berkumpul untuk berteduh dari panasnya matahari. Lalu mereka dihujani api, terbakarlah mereka.

_"Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib), lalu mereka ditimpa adzab pada hari yang gelap. Sungguh, itulah adzab pada hari yang dahsyat."_ *(asy-Syu'araa': 189)*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Apa yang dilakukan para nabi? Mereka hanya memiliki dakwah kepada Allah dengan ucapan yang bagus, meyakinkan, mendatangkan bukti-bukti alam dan akal, kemudian melarang kerusakan dan tindak pengrusakan, kemudian mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada manusia, lalu membawa mereka untuk taat, tunduk kepada perintah-perintah Allah dengan mengajak mereka mengambil pelajaran, menjadikan nasihat dari penghancuran umat-umat dan bangsa-bangsa yang berbuat kerusakan serta menanti hukum yang memutuskan secara final dari Allah Tuhan semesta alam. Hukum Allah adalah benar dan adil, tidak ada kezaliman di dalamnya.

Inilah yang dilakukan Syu'aib dan para nabi yang bersama kaum mereka. Nabi Syu'aib mengajak mereka dua pokok: pengagungan urusan Allah, mencakup pengakuan tauhid, pembenaran kenabian, menyayangi makhluk Allah. Sebagaimana juga mencakup meninggalkan kecurangan, meninggalkan tindak pengrusakan dan semua tindak gangguan.

Itu adalah kewajiban yang lima.

*Nabi Syu'aib* disebut juru khutbah para nabi karena selalu mengoreksi kaumnya dengan baik. Kaumnya adalah orang-orang yang mengufuri Allah, mengurangi takaran dan timbangan. Kufur adalah dosa besar yang tidak sesuai dengan pemberian nikmat Allah.

Kata (البخس) artinya mengurangi alat takar dan timbangan adalah dosa sosial yang mencakup pencacatan barang, saling curang dalam harga, mengelabuhi penambahan takaran dan menguranginya. Semua itu termasuk makan harta dengan batil. Ini dilarang pada umatumat semua melalui lisan para rasul. Berbuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaiki adalah dosa sosial lain pada hak kemanusiaan. Sebab kebaikan bumi dengan aqidah dan akhiak memberi kebaikan untuk semua. Berbuat kerusakan di bumi adalah permusuhan kepada manusia.

*Ibnu Abbas* mengatakan sebelum Allah mengutus Syu'aib sebagai rasul, bumi digunakan untuk maksiat, perkara haram dihalalkan, darah-darah ditumpahkan. Itulah kerusakan bumi. Ketika Allah mengutus Nabi Syu'aib dan dia mengajak kaumnya ke jalan Allah, bumi menjadi baik. Setiap nabi yang diutus kepada kaumnya adalah demi kebaikan mereka. Nabi Syu'aib mengharamkan mereka duduk-duduk di jalan-jalan untuk mengambil harta manusia dengan batil. Mereka adalah tukang pungut. Mereka sekarang ini sama seperti para pegawai pajak yang mengambil dari manusia pajakpajak yang tidak diwajibkan kepaa mereka dalam syara’ dengan paksaan dan tekanan. Ini adalah ghasab, zalim dan penindasan kepada manusia dan perbuatan kemungkaran. Ini mirip dengan perbuatan penyamun dan orangorang yang memerangi.

Nabi Syu'aib melarang mereka untuk berupaya membelokkan manusia menerima dakwah Nabi Syu'aib dengan ancaman, intimidasi, peringatan keras berupa pembunuhan kepada orang yang mengimaninya, melempar kan keraguan dan syubhat-syubhat dalam dakwahnya dan mengada-adakan kedustaan kepada Nabi Syu'aib.

Nabi Syu'aib mengingatkan mereka nikmat-nikmat Allah kepada mereka ketika mereka sedikit lalu menjadi banyak, fakir lalu menjadi kaya, lemah lalu menjadi kuat, mengalihkan pandangan mereka kepada keharusan mengambil nasihat dari keadaan orang sebelum mereka atau yang bertetangga dengan mereka, yakni umat-umat dan bangsabangsa yang telah lenyap. Mereka ketika mendustakan para rasul, mengufuri Allah, Dia menghancurkan mereka, membinasakan dan menumpas mereka. Kemudian Nabi Sjm'aib memastikan sikap dengan menunggu hukum Allah, mengancam dengan hukum ini. Sebab terbaginya manusia sebab dakwahnya kepada dua kelompok: kelompok Mukmin dan kelompok kafir, menghendaki hukum Allah yang memutuskan secara final dari dua pihak. Allah adalah sebaik-baik yang memutuskan, paling adil yang memberikan hukum.

Hukum Allah kepada hamba-hamba-nya ada dua macam: hukum yang diwahjmkan kepada para rasul-Nya, sebagaimana *firman Allah di awal surah al-Maa’idah*

_"Sesungguhnya Allah menetapkan hukum sesuai dengan yang Dia kehendaki."_ *(al-Maa'idah: 1)*

Sesungguhnya Allah menghukumi apa yang dikehendaki. Kedua, hukum yang memutuskan perkara antara makhluk, di dunia atau di akhirat. Sebagaimana *firman Allah SWT di akhir surah Yuunus:*

_“Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan. Dialah hakim yang terbaik."_ *(Yuunus: 109)*

Maksud dari perintah-perintah dan larangan-larangan dengan bentuk _targhib_ (membuat suka melakukan kebaikan) dan _tarhib_ (membuat takut melakukan dosa), adalah membawa kaum untuk beriman, taat, dan beramal saleh. Manusia semuanya yang mendengar kisah ini dituntut sebagaimana mereka dituntut. Orang yang berakal mengambil pelajaran dari padanan-padanan, yang mirip-mirip dan yang serupa-serupa. Ini bisa dijangkau dengan sempurna bahwa apa yang berlangsung pada padanan berlaku pula pada padanannya. Orang Mukmin diberi kekhususan oleh Allah dengan derajat-derajat yang tinggi. Orang kafir yang celaka dengan berbagai hukuman. *Allah SWT berfirman:*

_"Pantaskah Kami memperlakukan orangorang yang beriman dan mengerjakan kebajikan sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat?"_ *(Shaad: 28)* =====

*ALHAMDULILLAH, JUZ DELAPAN SELESAI*

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login