AL-AN'AAM (24)
AL-AN'AAM: 74-79
DIALOG ANTARA NABI IBRAHIM DENGAN BAPAKNYA, AAZAR, DAN SEBAB-SEBAB MENINGGALKAN KEMUSYRIKAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Demi mengukuhkan ketuhanan Allah SWT, Ibrahim melakukan dialog dan perdebatan serta bantahan dengan argumentasi dan bukti yang nyata. Dialog tersebut meliputi empat hal.
_Pertama,_ dialog Ibrahim dengan ayahnya yang ia berkata kepada ayahnya, _"Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?"_ *(Maryam: 42)*
Al-Qur’an menceritakan kisah perdebatan ini dalam *firman-Nya (۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ)*
AL-AN'AAM (23)
AL-AN'AAM: 71-73
KEISTIMEWAAN BERIMAN KEPADA ALLAH SWT DAN KEHINAAN KEMUSYRIKAN
SEBAB TURUNNYA AYAT
*As-Siddi* mengatakan bahwa orang-orang musyrik berkata kepada orang-orang Muslim; Ikutilah jalan kita dan tinggalkanlah agama Muhammad saw.. Dengan demikian, *Allah SWT menurunkan ayat (قُلْ أَنَدْعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلَىٰٓ أَعْقَابِنَا).*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ada beberapa pelajaran dari ayat di atas, di antaranya sebagai berikut.
1. Tetap teguh di atas jalan kebenaran dan hidayah setelah mengetahui hakikat keduanya dan menjauhkan diri dari kesesatan dan kemusyrikan setelah mengingkari kedustaan dan penyimpangan yang ada dalam di dalamnya.
2. Petunjuk Allah yang ada di dalam Al-Qur’an merupakan petunjuk yang benar. Seorang Muslim diperintahkan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT Sang Pemilik hidayah dan Tuhan semesta alam, baik jin maupun manusia. Ia juga diperintahkan untuk mendirikan shalat secara sempurna dan diperintahkan untuk bertakwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
AL-AN'AAM (22)
AL-AN'AAM: 68-70
BERPALING DARI MAJELIS-MAJELIS YANG MENCEMOOH AL-QUR’AN DAN ADZAB MEREKA
SEBAB TURUNNYA AYAT
*1. Ayat 68:*
*Ath-Thabari* meriwayatkan dalam ayat (وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ) dari as-Siddi mengatakan bahwa setiap kali orang-orang musyrik duduk bersama orang-orang Muslim, mereka membicarakan keburukan Nabi saw. dan Al-Qur’an, bahkan mereka mencaci dan menghinanya. Lalu, Allah SWT memerintahkan kaum Muslimin untuk tidak duduk bersama orang-orang musyrik sampai mereka membicarakan hal yang lainnya. Keterangan di atas diriwayatkan pula oleh *Said bin Jubair, Ibnu Juraij, Qatadah, dan Muqatal.*
AL-AN'AAM (21)
AL-AN'AAM: 65-67
KUASA ALLAH DALAM MENGADZAB ORANG YANG MAKSIAT
SEBAB TURUNNYA AYAT
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan hadits dari *Zaid bin Aslam* ia berkata, "Pada saat turun (قُلْ هُوَ ٱلْقَادِرُ عَلَىٰٓ أَن يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًۭا ). *Rasulullah saw. bersabda:*
لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
_“Sepeninggalku janganlah kalian kembali menjadi seperti orang-orang kafir yang saling menyerang diantara kalian dengan menghunus pedang.”_
Lalu, para sahabat berkata, ‘Kami bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bahwa anda adalah Rasulullah.' Lalu sebagian yang lain berkata, 'Hal ini tak akan pernah terjadi karena kita adalah orang Muslim.’ Kemudian turunlah ayat 65 sampai 67 surah al-An'aam.
Halaman 102 dari 186