AL-AN'AAM (40)
AL-AN'AAM: 133- 135
ANCAMAN ADZAB YANG MEMBINASAKAN DAN PERINGATAN MENGENAI SIKSA HARI KIAMAT
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat tersebut menunjukkan sifat-sifat agung milik Allah SWT, yaitu bahwa Allah SWT sama sekali tidak butuh pada hamba-Nya dan amal mereka. Ayat-ayat tersebut juga menunjukkan rahmat-Nya yang meliputi hamba-hamba-Nya terutama kepada para wali-Nya dan orang-orang yang taat kepada-Nya. Begitu juga dengan kekuasaan-Nya untuk mematikan, membinasakan dengan adzab-Nya, menghidupkan, menciptakan dan mengganti makhluknya dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih taat.
Kaum *Muktazilah* berkata, "Dalam ayat ini terdapat petunjuk yang menerangkan bahwa Allah Mahaadil, jauh dari tindakan buruk, dan juga menunjukkan bahwa Dia Maha Penyayang dan pemurah kepada hamba-hamba-Nya."
AL-AN'AAM (39)
AL-AN'AAM: 129- 132
PENGUASAAN ORANG-ORANG ZALIM ATAS SEBAGIAN YANG LAIN DAN HARDIKAN ORANG-ORANG KAFIR KARENA KETIDAKIMANAN MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
(وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّـٰلِمِينَ بَعْضًۢا) ayat ini menunjukkan bahwa manakala ada rakyat yang melakukan kezaliman, Allah SWT akan menguasakan kepada mereka orang yang zalim seperti mereka. Jika mereka ingin melepaskan dari pemimpin yang zalim, hendaklah mereka meninggalkan kezaliman. Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia harus mempunyai pemimpin dan pemerintah. Pasalnya, manakala Allah tidak membiarkan masyarakat yang zalim tanpa pemimpin yang zalim, apalagi dengan masyarakat yang saleh, ia lebih pantas untuk diberikan pemimpin yang dapat menambah kesalehannya.
Ali r.a. berkata, “Manusia hanya pantas dipimpin oleh pemimpin yang adil atau yang zalim.” Ketika orang-orang mempertanyakan ucapan Ali "atau yang zalim," dia berkata, “Ya, dia yang bisa memberi rasa aman di jalan dan memberi keleluasaan untuk melaksanakan shalat dan haji."
AL-AN'AAM (38)
AL-AN'AAM: 125- 128
SUNNAH ALLAH TERHADAP ORANG-ORANG YANG SIAP MENDAPATKAN KEIMANAN DAN ORANG-ORANG YANG TIDAK SIAP, JUGA BALASAN KEDUA KELOMPOK SETELAH PENJELASAN MENGENAI KEBENARAN DAN JALAN KEBENARAN ITU
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
(فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهْدِيَهُۥ) menunjukkan bahwa hidayah dan taufik kepada keimanan, kebaikan, dan kebenaran begantung pada kehendak Allah SWT. Berdasarkan ayat ini, Ahlus Sunnah berpendapat bahwa kesesatan dan hidayah berada di tangan Allah SWT. Dialah yang menciptakan dan mewujudkannya. Maksudnya ialah bahwa hamba berpotensi untuk beriman dan kufur. Kedua potensi ini memiliki peluang yang sama. Hanya saja, ia bergantung pada faktor pendorong dalam diri dan hati yang mengarahkan manusia kepada keimanan atau kekufuran. Faktor pendorong ini adalah berupa pengetahuan, keyakinan atau dugaan bahwa perbuatannya itu mengandung kemaslahatan atau bahaya. Jika dalam hatinya cenderung pada sebuah kemaslahatan atau kebaikan, dia akan melakukan hal itu. Jika dalam hatinya terbentuk kecenderungan kepada bahaya atau kerusakan, dia akan meninggalkannya. Munculnya kecenderungan ini berasal dari Allah SWT. Gabungan antara kemampuan manusia dengan faktor pendorong Ilahi menghasilkan sebuah perbuatan.
AL-AN'AAM (37)
AL-AN'AAM: 124
KEANGKUHAN ORANG-ORANG MUSYRIK DAN TUNTUTAN MEREKA ATAS KENABIAN
Sebab Turunnya Ayat
Ayat ini turun kepada *Walid bin Mughirah*. Dia berkata, "Kalau saja kenabian itu benar, aku lebih berhak mendapatkannya daripada Muhammad sebab aku lebih tua dan lebih banyak harta dan anak.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Kenabian atau risalah diberikan kepada orang yang bisa dipercaya dan berhak juga paling mampu menanggung beban risalah. Risalah tidaklah seperti kedudukan dunia yang bersandarkan pada pengaruh, kekuasaan, harta, kedudukan, nasab, banyaknya pendukung, dan anak keturunan. Manusia tidak lain hanyalah diperintahkan untuk beriman kepada apa yang dibawa para nabi sebab kenabian mereka telah dilegitimasi dengan dalil yang jelas dan dengan mukjizat yang luar biasa. Jika mereka tidak beriman, mereka akan mendapatkan dua perkara: kehinaan dan kenistaan serta siksa yang pedih di akhirat karena dosa, tipu daya, rasa iri, dan kedengkian mereka. Ini adalah sesuatu yang haq dan adil sebagai pembeda antara orang-orang yang taat dan orang-orang yang maksiat. Ancaman kehinaan didahulukan daripada siksa karena pembangkangan yang dilakukan oleh kaum tersebut disebabkan keinginan mereka untuk mendapatkan kejayaan dan kemuliaan. Oleh sebab itu, Allah pun membalas mereka dengan kebalikan dari yang mereka inginkan.
Halaman 98 dari 186