AL-AN'AAM (39)
AL-AN'AAM: 129- 132
PENGUASAAN ORANG-ORANG ZALIM ATAS SEBAGIAN YANG LAIN DAN HARDIKAN ORANG-ORANG KAFIR KARENA KETIDAKIMANAN MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
(وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّى بَعْضَ ٱلظَّـٰلِمِينَ بَعْضًۢا) ayat ini menunjukkan bahwa manakala ada rakyat yang melakukan kezaliman, Allah SWT akan menguasakan kepada mereka orang yang zalim seperti mereka. Jika mereka ingin melepaskan dari pemimpin yang zalim, hendaklah mereka meninggalkan kezaliman. Ayat ini juga menunjukkan bahwa manusia harus mempunyai pemimpin dan pemerintah. Pasalnya, manakala Allah tidak membiarkan masyarakat yang zalim tanpa pemimpin yang zalim, apalagi dengan masyarakat yang saleh, ia lebih pantas untuk diberikan pemimpin yang dapat menambah kesalehannya.
Ali r.a. berkata, “Manusia hanya pantas dipimpin oleh pemimpin yang adil atau yang zalim.” Ketika orang-orang mempertanyakan ucapan Ali "atau yang zalim," dia berkata, “Ya, dia yang bisa memberi rasa aman di jalan dan memberi keleluasaan untuk melaksanakan shalat dan haji."
Ayat ini menunjukkan salah satu sunnatullah terhadap manusia, yaitu ketika Allah SWT menjadi pelindung, penjaga, dan penolong bagi orang-orang yang beriman dan mereka akan mendapatkan surga. Allah menjelaskan juga bahwa penduduk neraka adalah pembela atas sebagian yang lain. Yang menjadi penolong bagi mereka adalah orangorang yang serupa dengan mereka dalam kezaliman, kehinaan, dan keburukan perilaku mereka. Tugas para rasul adalah membacakan ayat-ayat Allah, menafsirkan dan menjelaskannya serta memperingatkan manusia dan mengancam mereka akan siksa pada hari Kiamat.
Orang-orang kafir sama sekali tidak mengakui hal itu. Kehidupan dunia telah menipu mereka. Mereka menduga bahwa dunia ini akan kekal. Mereka takut kehidupan dunia akan hilang dari mereka jika mereka beriman dan mengakui kekufuran mereka.
Allah Mahaadil, Zat yang paling sempurna keadilan-Nya. Oleh karena itu, mengadzab orang-orang kafir adalah bagian dari keadilan, hak dan kewajiban-Nya. Allah tidak mengadzab mereka kecuali setelah adanya penjelasan dan peringatan. Allah tidak akan menghukum mereka kecuali setelah para nabi dan rasul diutus kepada mereka. Pengutusan para rasul adalah perkara yang pasti dan wajib sebab di antara sifat dan ketentuan-Nya ialah bahwa Dia tidak membinasakan penduduk negeri sebelum diutus para rasul kepada mereka. Jika tidak, mereka bisa berdalih dengan mengatakan “Tidak ada yang datang kepada kami seorang pemberi kabar gembira atau pemberi peringatan."
Tiap-tiap jin dan manusia akan mendapatkan kedudukan sesuai amal perbuatan mereka. Orang yang taat kepada Allah akan mendapatkan pahala, sedangkan orang yang melakukan maksiat akan mendapatkan siksa. Allah SWT tidak lalai, lengah, dan tidak pula lupa terhadap amal perbuatan mereka, baik yang sedikit maupun banyak.
(ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ ٱلْقُرَىٰ بِظُلْمٍۢ وَأَهْلُهَا غَـٰفِلُونَ) ayat ini menunjukkan, bahwa tidak ada pembebanan dan kewajiban sebelum datangnya syari'at Islam. Akal saja tidak bisa dijadikan sebagai penentu adanya kewajiban.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
