AL-AN'AAM (20)
AL-AN'AAM: 63-64
KEKUASAAN ILAHI MENYELAMATKAN DARI KEZALIMAN
قُلْ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَـٰتِ ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ تَدْعُونَهُۥ تَضَرُّعًۭا وَخُفْيَةًۭ لَّئِنْ أَنجَىٰنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ ٦٣
*Artinya:* _"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, ketika kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah hati dan dengan suara yang lembut?' (Dengan mengatakan), 'Sekiranya Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur._
قُلِ ٱللَّهُ يُنَجِّيكُم مِّنْهَا وَمِن كُلِّ كَرْبٍۢ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ ٦٤
*Artinya:* _Katakanlah (Muhammad), 'Allah yang menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, namun kemudian kamu (kembali) mempersekutukan-Nya”_
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Manusia seringkah tidak menepati kesepakatan dan janji dan tidak tetap dalam kondisi istiqamah. jadi, tidak jarang manusia berkhianat dan tidak jujur. Mereka mengadu kepada Allah SWT hanya pada saat tertimpa musibah dan penderitaan, lalu ia melupakanNya setelah ia selamat darinya dan kembali masuk dalam kesesatan dan kebodohannya. Seharusnya, manusia bisa mengisi pikirannya dengan hal-hal yang terpuji dan dengan ketulusan untuk selalu menapaki prinsip aqidah yang benar dan keimanan yang bersih, serta beribadah kepada Zat yang telah memberikan kenikmatan kepadanya dengan karunia yang besar dan banyak, terutama pada saat tertimpa krisis dan bencana.
Inilah beberapa kondisi yang disebutkan dalam ayat di atas. Di saat kalian tersesat di jalan dan takut binasa, kalian mengadu kepada Allah SWT, bahkan berjanji, "Jika Allah menyelamatkan kami dari penderitaan ini, kami akan menjadi orang yang taat dan selalu istiqamah di jalan-Nya.”
Hal ini merupakan sindiran dari Allah SWT kepada orang-orang musyrik yang hanya berdoa kepada Allah SWT di saat tertimpa musibah saja, kemudian kembali menyekutukan-Nya di saat lapang, seperti firman-Nya (كَرْبٍۢ ثُمَّ أَنتُمْ تُشْرِكُونَ).
Contoh yang dipaparkan oleh Allah SWT ini merupakan kecaman dan teguran keras bagi orang yang telah berjanji untuk beriman dan menjauhi kemusyrikan. Pasalnya, sebuah janji hanya berlaku apabila ada bukti dan ada keikhlasan. Adapun orang musyrik, mereka menjadikan kemusyrikan sebagai pengganti dari janji mereka sehingga mereka layak mendapat kecaman dan teguran keras atas tindakan mereka meskipun sebelumnya mereka adalah orang-orang musyrik. Ayat ini memberi isyarat bahwa orang yang menyekutukan Aliah dalam beribadah kepada-Nya, sejatinya dia tidak menyembah-Nya karena syarat dari ibadah ialah keikhlasan dan tauhid merupakan prinsip dasar dalam beribadah.
Dalam ayat ini, diterangkan secara jelas bahwa manakala manusia tertimpa musibah, lalu tabiat dasar dan fitrahnya yang bersih mengakui bahwa tempat berlindung hanya Allah SWT dan tidak ada harapan, kecuali pada karunia-Nya semata. Hendaknya perasaan seperti ini tetap dijaga dalam setiap kesempatan dan kondisi apa pun. Apabila manusia hanya berdoa, memasrahkan diri, bersikap ikhlas, dan bersyukur pada-Nya di saat sulit saja, namun kemudian ia kembali kufur setelah mendapat keselamatan dan penjagaan dari Allah SWT dan melakukan tindakan yang bertolak belakang dengan perbuatan yang mengantarkannya pada keselamatan ataupun setelah mendapat limpahan anugerah dan kasih sayang-Nya, sikap ini termasuk perbuatan yang tercela.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA 3
*Tim Kurikulum Evaluasi*
*2024/2025*
