AL-BAQARAH (36)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 168 - 171]
PENGHALALAN BARANG-BARANG YANG BAIK, DAN SUMBER PENGHARAMAN BENDA-BENDA YANG HARAM
Allah Ta'ala membolehkan manusia memakan apa-apa yang ada di bumi asalkan yang halal dan _thayyib_ (baik), yakni yang lezat rasanya dan tidak berbahaya bagi badan maupun akal. Oleh karena itu, dilarang memakan hewan yang kotor (menjijikkan).
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa suatu ketika ayat ini (يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَـٰلًۭا طَيِّبًۭا) dibaca seseorang sementara Rasulullah saw. hadir, lalu Sa'd bin Abi Waqqash bangkit dan berkata, "Wahai Rasulullah, doakan kepada Allah agar saya menjadi orang yang terkabul doanya." Maka beliau bersabda:
AL-BAQARAH (35)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 165 - 167]
KEADAAN KAUM MUSYRIKIN BERSAMA TUHAN-TUHAN MEREKA
Sesungguhnya kejahatan paling besar di mata Allah adalah penyekutuan sesuatu dengan-Nya. Dia berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukannya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki..." (an-Nisaa': 48). Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, katanya:
AL-BAQARAH (34)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 163 - 164]
KEESAAN TUHAN, KASIH SAYANG-NYA, DAN TANDA-TANDA KEKUASAAN-NYA
Setelah memperingatkan manusia agar tidak menyembunyikan kebenaran, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa perkara pertama yang wajib ditampakkan dan tidak boleh disembunyikan adalah soal tauhid. Selanjutnya Dia menyebutkan bukti dan pentingnya memikirkan keajaiban-keajaiban alam agar manusia tahu bahwa penciptaan alam ini pasti ada pelakunya yang tidak serupa dengan sesuatu pun. Dalam ayat (وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ) Allah menyatakan bahwa hanya diri-Nya-lah yang memiliki sifat uluhiyah (ketuhanan) dan bahwa tiada sekutu bagi-Nya: Dialah Allah Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang menjadi tempat bergantungnya segala sesuatu, Yang tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Asma' binti Yazid ibnus Sakan, Rasulullah saw. bersabda:
AL-BAQARAH (33)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 158 - 162]
SA'I ANTARA SHAFA DAN MARWAH, DAN SANKSI ATAS PENYEMBUNYIAN AYAT-AYAT ALLAH
Ayat ini menunjukkan bahwa sa'i antara Shafa dan Marwah termasuk bagian dari rangkaian amal-amal haji dan umrah. Akan tetapi para ulama kita berbeda pendapat dalam menentukan sifat syar'inya.
Menurut jumhur (Malik, Syafi'i, dan Ahmad), ia adalah rukun. Barangsiapa tidak melakukan sa'i, ia harus menunaikan haji lagi pada tahun depan. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Shafiyyah binti Syaibah:
"Laksanakanlah sa'i sebab Allah telah mewajibkan sa'i atas kalian."
Inspirasi Qur'ani
Halaman 216 dari 248