*THAAHAA (5)*
*KISAH NABI MUSA*
*DELAPAN NIKMAT ALLAH SWT KEPADA MUSA SEBELUM DIANGKAT SEBAGAI NABI*
*Surah Thaahaa Ayat 36-41*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan beberapa hal berikut:
1. Ketika Nabi Musa meminta kepada Allah delapan hal, maka Allah mengabulkan dan memenuhi permintaannya, sebagai sebuah anugerah, nikmat, rahmat dan kemurahan dari-Nya.
2. Setelah mengabulkan doa Nabi Musa, Allah SWT menyebutkan delapan anugerah yang diberikan kepada Nabi Musa sebelum ia meminta, dan kedelapan anugerah tersebut terangkum dalam perlindungan Allah SWT terhadapnya dari kejahatan para musuh-Nya dan dari pembunuhan ketika baru dilahirkan dan ketika ia masih muda.
*THAAHAA (4)*
*KISAH NABI MUSA*
*TANGAN YANG BERCAHAYA (MUKJIZAT KEDUA)*
*Surah Thaahaa Ayat 22-35*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan kepada
beberapa hal berikut:
1. Bersinarnya tangan Nabi Musa seperti sinar matahari dan bulan bahkan lebih terang lagi, setelah dia keluarkan dari lubang bajunya. Ini merupakan mukjizatnya yang kedua setelah mukjizat tongkat.
2. Allah mengutus Nabi Musa sebagai seorang rasul kepada Fir'aun yang zalim yang mengaku sebagai tuhan dan pengakuan tersebut didukung oleh kaumnya yang zalim juga. Allah mendukung Nabi Musa dengan mukjizat tongkat dan mukjizat tangan yang bersinar, serta memperlihatkan kepadanya hal-hal yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang rasul.
3. Doa Nabi Musa kepada Allah — dan doa adalah salah satu bentuk ibadah — untuk kemudahan misinya dan agar dapat merealisasikannya sebaik mungkin. Dan Allah menjawab semua doa Nabi Musa ini, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,
*THAAHAA (3)*
*KISAH NABI MUSA*
*BERUBAHNYA TONGKAT NABI MUSA MENAJDI ULAR (MUKJIZAT PERTAMA)*
*Surah Thaahaa Ayat 17-21*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas mengarahkan kepada beberapa hal berikut.
1. Firman Allah SWT *(وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَـٰمُوسَىٰ)* Ini adalah firman Allah SWT kepada Musa sebagai wahyu karena Allah berfirman *(فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ)*
Di dalam diri seorang nabi harus terdapat mukjizat yang dengannya diketahui kebenaran kenabiannya. Oleh karena itu, Allah memperlihatkan kepada Nabi Musa mukjizat pada tongkatnya dan pada dirinya yang membuatnya tahu akan kenabiannya.
2. Di dalam jawaban Nabi Musa dalam ayat di atas, terdapat dalil tentang dibolehkannya memberikan jawaban melebihi pertanyaan yang diajukan. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh para penyusun empat Kitab Sunan dan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. ditanya tentang boleh atau tidaknya menggunakan air laut untuk berwudhu. Beliau menjawab,
*THAAHAA (2)*
*KISAH NABI MUSA*
*PEMBICARAAN ALLAH DENGAN NABI MUSA (ATAU MUNAJAT NABI MUSA) DAN AWAL WAHYU YANG DISAMPAIKAN KEPADANYA DI LEMBAH YANG SUCI*
*Surah Thaahaa Ayat 9-16*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:
1. Keharusan mempelajari dan membaca kisah-kisah para nabi untuk mengambil pelajaran. Al-Qur'an mendorong umat ini untuk melakukan hal tersebut di awal pemaparan kisah Nabi Musa dengan pertanyaan yang berfungsi untuk penegasan dan pengharusan. Pertanyaan *(وَهَلْ أَتَىٰكَ)* walaupun tidak boleh untuk Allah SWT karena memang Dia tidak perlu bertanya, namun tujuannya adalah, untuk mengukuhkan jawabannya di dalam hati Muhammad saw.. Bentuk pertanyaan lebih kuat dalam hal ini. Seperti seseorang yang bertanya kepada temannya untuk menarik perhatian temannya tersebut dan untuk membuat temannya itu ingin sekali mengetahui jawabannya,'Apakah kamu sudah mendengar berita tentang ini?" Temannya tersebut ingin mengetahui berita yang ingin disampaikan.
Inspirasi Qur'ani
Halaman 47 dari 248