Surah Thaahaa Ayat 17-21

*THAAHAA (3)*
 
*KISAH NABI MUSA*

*BERUBAHNYA TONGKAT NABI MUSA MENAJDI ULAR (MUKJIZAT PERTAMA)*

*Surah Thaahaa Ayat 17-21*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat di atas mengarahkan kepada beberapa hal berikut.

1. Firman Allah SWT *(وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَـٰمُوسَىٰ)* Ini adalah firman Allah SWT kepada Musa sebagai wahyu karena Allah berfirman *(فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ)*

Di dalam diri seorang nabi harus terdapat mukjizat yang dengannya diketahui kebenaran kenabiannya. Oleh karena itu, Allah memperlihatkan kepada Nabi Musa mukjizat pada tongkatnya dan pada dirinya yang membuatnya tahu akan kenabiannya.

2. Di dalam jawaban Nabi Musa dalam ayat di atas, terdapat dalil tentang dibolehkannya memberikan jawaban melebihi pertanyaan yang diajukan. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh para penyusun empat Kitab Sunan dan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi saw. ditanya tentang boleh atau tidaknya menggunakan air laut untuk berwudhu. Beliau menjawab,

*(هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ)*

“Laut itu airnya, dapat menyucikan dan bangkainya halal.”

Pada suatu ketika ada seorang perempuan bertanya tentang anak kecil yang dia bawa menghadap Nabi saw., "Apakah anak ini dapat menunaikan haji?" Beliau menjawab, _"Ya, dan kamu mendapatkan pahala karenanya."_ *(HR. Muslim dari Ibnu Abbas)*

3. Firman Allah SWT, *(وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَـٰمُوسَىٰ)* merupakan firman Allah SWT kepada Nabi Musa secara langsung tanpa perantara. Hal ini bukan berarti Nabi Musa lebih baik dari Nabi Muhammad saw. karena Allah SWT juga berbicara kepada Nabi Muhammad saw. pada saat mi’raj, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya,

_"Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah."_ *(an-Najm: 10)*

Hanya saja perbedaan antara keduanya adalah apa yang disebutkan dalam pembicaraan Allah SWT dengan Nabi Musa, Dia beri tahukan kepada manusia. Sedangkan, pembicaraan antara Allah SWT dengan Nabi Muhammad saw.. Dia rahasiakan dan tidak Dia beri tahukan kepada siapa pun dari makhluk-Nya.

4. Ibnu Abas r.a. berkata, "Memegang tongkat merupakan sunnah para nabi dan tanda bagi orang Mukmin." Hasan al-Bashri berkata, "Di dalam tongkat terdapat enam hal: sunnah para nabi, hiasan bagi orang-orang saleh, senjata untuk menghadapi musuh, membantu orang lemah, kekhawatiran bagi orang-orang munafik dan menambah ketaatan."

Tongkat memiliki banyak manfaat. Di antaranya ia dijadikan kiblat ketika berada di gurun. Nabi saw. dulu mempunyai sebuah tombak kecil. Jika beliau shalat di gurun, beliau menancapkannya di depan beliau lalu beliau shalat ke arahnya. Jika beliau pergi untuk menunaikan shalat Id, beliau juga memerintahkan agar sebuah tombak kecil ditancapkan di depan beliau lalu beliau shalat ke arahnya. Ini sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits yang shahih. Di dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. memiliki sebuah tongkat pendek.

Ulama juga telah berijma bahwa seorang khatib ketika berkhutbah hendaknya memegang sebilah pedang atau tongkat untuk bertumpu padanya. Ibnu Mas'ud, pembawa tongkat dan tombak pendek milik Rasulullah saw., ketika berkhutbah dia memegang sebatang kayu. Hal ini juga yang dilakukan oleh para Khulafa’ur Rasyidin dan para khathib besar. Merupakan kebiasaan orang-orang Arab yang fasih dan bahasanya bagus memegang tombak pendek dan tongkat, serta bertumpu padanya saat menyampaikan sambutan, saat berkumpul dalam acara-acara besar, dan ketika berpidato.

5. Tongkat yang dilemparkan oleh Nabi Musa berubah menjadi seekor ular besar yang gerakannya sangat cepat atas kehendak Allah Azza wa Jalla Yang Mahakuasa dalam menciptakan hal-hal di luar kebiasaan. Allah mengubah sifat dan bentuknya. Ular tersebut kembali menjadi sebatang tongkat seperti semula berkat kekuasaan Allah SWT. Semua ini merupakan mukjizat Nabi Musa dan bukti yang tampak dan pasti tentang kenabiannya. Allah memperlihatkan tanda kenabian ini kepada Musa agar dia tidak terkejut dan ketakutan sendiri ketika melemparkannya di hadapan Fir'aun.

Perasaan takut yang menyergap Nabi Musa saat pertama kali melihat tongkatnya berubah menjadi seekor ular — setelah dia tahu bahwa dia seorang rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada manusia — merupakan hal wajar pada manusia yang takut dari ular karena ia berbisa dan berbahaya.

Di samping itu karena sebelumnya Nabi Musa tidak pernah menyaksikan hal serupa. Ketika dikuasai rasa takut yang sangat dahsyat, seseorang terkadang kehilangan sebagian kelebihan dan kekhususan yang dimilikinya. Syekh Abu al-Qasim al-Anshafi rahimahullah berkata, "Rasa takut tersebut merupakan bukti terkuat bagi benarnya kenabian Musa. Karena, seorang penyihir tahu bahwa yang dia datangkan adalah tipuan belaka, sehingga dia tidak merasa takut sama sekali darinya.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login