HUD (24)
Surah Huud Ayat 112-113
ISTIQAMAH TERHADAP PERINTAH-PERINTAH ALLAH SWT
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Kedua ayat ini menunjukkan perintah istiqamah dengan terus dan tetap dalam sikap itu dan juga menunjukkan larangan sikap kebalikannya yaitu _ath-thugyaan_ yaitu perbuatan melampaui batas-batas Allah SWT dan agar tidak bersandar kepada orang-orang yang zalim ataupun ridha terhadap kezaliman mereka.
Istiqamah adalah patuh menjalankan perintah Allah SWT dan ini bukanlah perkara mudah melainkan sesuatu yang berat dan sangat sulit menuntut kepada _ath-thaa'ah ad-daa’imah_ (ketaatan yang terus-menerus), _muraaqabatun nafs_, berhati-hati dari hal yang keluar dan menyimpang darinya. *Ibnu Abbas* berkata, "Tak ada satu ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saw. yang lebih keras dan lebih sulit atas beliau dari ayat ini." Beliau pernah berkata kepada para sahabat ketika dikatakan kepada beliau, "Engkau cepat sekali beruban! Beliau menjawab, "Surah Huud dan akhwaat-nya membuat aku cepat beruban." Diriwayatkan dari *Abu Ali as-Sirry*, ia berkata, "Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw. maka aku bertanya kepada beliau, 'Wahai Rasulallah! Telah diriwatkan darimu bahwa engkau pernah berkata, ‘Surah Huud membuatku lekas beruban’ dan beliau menjawab ‘benar’ maka aku bertanya lagi, ‘Apa yang membuat engkau lekas beruban dari surah itu? Apakah kisah-kisah para nabi dan pembinasaan umat-umat terdahulu!’ Beliau menjawab, 'Tidak, melainkan firman Allah SWT (فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ)
HUD (23)
Surah Huud Ayat 110-111
PERINGATAN TENTANG AKIBAT PERSELISIHAN DALAM TAURAT
وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا مُوسَى ٱلْكِتَـٰبَ فَٱخْتُلِفَ فِيهِ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةٌۭ سَبَقَتْ مِن رَّبِّكَ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۚ وَإِنَّهُمْ لَفِى شَكٍّۢ مِّنْهُ مُرِيبٍۢ ١١٠
*Artinya*: _Dan sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan tentang Kitab itu 1#. Dan seandainya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Tuhan-mu, niscaya telah ditetapkan hukuman di antara mereka 2#. Dan sesungguhnya mereka (orang-orang kafir Mekah) dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap Al-Qur`ān._
1#- Ayat ini suatu penghibur kepada Nabi Muhammad Ṣallallāhu ʻAlaihi wa Sallam sewaktu beliau menghadapi tantangan terhadap Al-Qur`ān oleh orang kafir Mekah. Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menceritakan bahwa Taurat yang dibawa Nabi Musa ‘Alaihissalām dahulu pun juga dapat tantangan oleh orang-orang Yahudi.
2#- Maksudnya, andaikata tidak ada ketetapan penundaan azab terhadap mereka sampai hari kiamat, tentulah mereka dibinasakan dalam waktu itu juga.
HUD (22)
Surah Huud Ayat 103-109
[Bagian 2/2]
IBRAH DALAM KISAH-KISAH AL-QUR’AN BERUPA ADANYA BALASAN DI AKHIRAT
TUJUAN KISAH DALAM AL-QUR'AN
Terkadang satu kisah dalam Al-Qur’an diulang-ulang penuturannya dengan _uslub_ (susunan bahasa) yang berbeda demi persesuaian ayat yang bermacam-macam, dan implikasi jiwa yang berbeda-beda serta demi membuahkan tujuan yang bermacam-macam. Terlihat jelas bagi kita dari keterangan kisah-kisah umat terdahulu dalam surah ini dan surah-surah lainnya yang umumnya surah-surah Makkiyyah. Hal itu bertujuan untuk merealisasikan maksud-maksud tertentu, yang terpenting darinya adalah berikut ini.
HUD (21)
Surah Huud Ayat 103-109
[Bagian 1/2]
IBRAH DALAM KISAH-KISAH AL-QUR’AN BERUPA ADANYA BALASAN DI AKHIRAT
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat itu menunjukkan hukum-hukum berikut ini:
1. Kebenaran para nabi dalam apa yang mereka beritakan berupa cerita tentang umat-umat yang terdahulu dan hal-hal gaib yang akan terjadi, baik di alam dunia maupun di alam akhirat seperti terjadinya adzab dan siksa, al-hasyr (kebangkitan) dan hisab (إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ لِّمَنْ خَافَ عَذَابَ ٱلْـَٔاخِرَةِ ۚ), maksudnya ibrah dan nasihat bagi orang takut adzab hari Kiamat, dan firman-Nya (مَّجْمُوعٌۭ لَّهُ ٱلنَّاسُ) menunjukkan kepastian adanya _al-hasyr_. Kata _al-jam'u_ artinya _al-hasyru_ yaitu mereka akan dikumpulkan pada hari Kiamat, yaitu hari yang disaksikan orang-orang yang baik dan jahat dan juga disaksikan oleh penghuni langit.
Inspirasi Qur'ani
Halaman 87 dari 248