Surah Huud Ayat 77 - 83

HUD (17)

Surah Huud Ayat 77 - 83

KISAH LUTH BERSAMA KAUMNYA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Kisah Luth bersama kaumnya menunjukkan hal-hal berikut:

1. Sesungguhnya orang yang beriman cemburu kepada _hurumaat_ Allah dan selalu mendahulu terjadinya bencana dengan mempersiapkan diri sebelum turunnya, maka Luth merasa resah dan susah dengan kedatangan utusan malaikat itu (yaitu malaikat adzab yang telah menyampaikan berita gembira sebelumnya kepada Ibrahim tentang kelahiran anak). Dia pun merasa sempit dadanya dengan kedatangan mereka dan merasa tidak senang seraya berkata, "Ini adalah hari yang amat sulit."

Ketika para malaikat itu keluar meninggalkan Ibrahim, dan antara Ibrahim dengan negerinya Luth berjarak empat _farsakh_, kedua anak Luth-saat itu keduanya sedang mengambil air-melihat malaikat itu dan mereka berparas sangat tampan. Keduanya bertanya, "Ada apa gerangan kalian? Dan dari mana kalian datang?” Mereka menjawab, "Dari satu tempat seperti ini dan kami bermaksud ke negeri ini." Anak Luth berkata, "Sesungguhnya penduduk negeri ini adalah orang-orang pelaku al-faahisyah (perbuatan keji). Mereka bertanya, "Apakah di sini ada orang yang mau menerima kami sebagai tamu?" Keduanya menjawab, "Ya, orang tua ini.” Keduanya menunjuk ke Luth. Ketika Luth melihat paras mereka, dia merasa takut akan sikap kaumnya terhadap mereka.

2. Kedatangan kaumnya dengan bergegas-gegas untuk tujuan mereka berbuat mesum menjadi bukti nyata bagi para malaikat dan juga yang lainnya tentang pantasnya kaum Luth menerima adzab yang sangat pedih dan siksa yang cepat. Sebab dipercepatnya adzab atas mereka adalah apa yang diriwayatkan bahwa istri Luth yang kafir. Pada saat melihat para tamu itu dengan segala ketampanan mereka, dia keluar dan pergi mendatangi majelis kaumnya, seraya dia berkata kepada mereka, "Sesungguhnya Luth malam ini sedang didatangi para tamu anak-anak muda, belum pernah terlihat orang yang setampan mereka." dan _kadza_ dan _kadza_, langsung saja mereka datang dengan tergegas-gegas kepadanya.

Disebutkan bahwa para rasul itu ketika mereka sampai ke negeri Luth, mereka mendapatkan sedang berada di kebunnya. Dan ada yang mengatakan, “Mereka menemukan putrinya sedang mengambil air dari Sungai Sadoum .. dan seterusnya seperti yang disebutkan sebelumnya.

3. Kaum Luth sering melakukan perbuatan keji yaitu kebiasaan mereka adalah perbuatan sodomi. Ketika mereka mendatangi Luth untuk mengganggu para tamunya, Luth pun melawan mereka demi mempertahankan para tamunya itu, seraya dia berkata, "Mereka adalah putri-putri." Maksudnya bahwa dia menyarankan mereka untuk mengawini perempuan, dan mengedepankan perempuan-perempuan itu dari para tamunya itu.

Ada yang mengatakan Luth menyarankan mereka dalam keadaan seperti ini untuk menikah, dan telah menjadi sunnah mereka dibolehkan nikah antara laki-laki yang kafir dengan perempuan yang Mukmin. Begitu juga pada awal-awal agama Islam hal ini dibolehkan kemudian setelah itu dinasakh (dihapus). Rasulullah saw. pernah mengawinkan seorang putri beliau dengan ‘Uqbah bin Abu Lahab, dan yang lainnya dengan Ubay al-'Ash bin Rabii’ sebelum bi'tsah dan turunnya wahyu, dan kedua orang itu adalah kafir.

Sekelompok ulama tafsir seperti *Mujaahid* dan *Sa'id bin Jabiir* berkata, "Dia menunjuki dengan kata-katanya _banaaty_ (putri-putriku) kepada perempuan secara umum karena seorang bagi satu kaum adalah sebagai bapak bagi mereka.” Pendapat ini didukung bahwa dalam _qiraa’ah_ *Ibnu Mas’ud*,

_"Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri, istri beliau adalah ibu bagi mereka dan beliau adalah bapak bagi mereka!"_

Yang jelas bahwa ini adalah pendapat yang paling baik dan lebih dekat kepada kebenaran.

4. Sesungguhnya _ahsariim_ (orang yang pemurah), _asy-syahm_ (cerdik cendikia), _ahabiy_ (tidak mau hina) adalah orang yang selalu menjaga kehormatan tamu-tamunya, maka dari itu Luth berkata dalam firman Allah SWT (فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِى ضَيْفِىٓ ۖ ) maksudnya janganlah kami mempermalukan aku.

Kemudian dia mencela mereka dengan mengatakan (أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌۭ رَّشِيدٌۭ) maksudnya orang yang keras yang memerintahkan kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, atau orang yang berakal ataupun orang yang saleh yang mengajak kepada kebaikan. Kata _ar-rusydu_ dan kata _ar-rasyaad_ artinya petunjuk dan istiqamah.

5. Orang yang terbiasa dengan perbuatan kerusakan dan keji akan jauh dari perbuatan yang baik dan kesucian, makanya kaumnya Luth berkata (لَقَدْ عَلِمْتَ مَا لَنَا فِى بَنَاتِكَ مِنْ حَقٍّۢ) maksudnya kami tidak punya keinginan terhadap anak-anak kamu dan mereka bukanlah yang kami maksud, dan bukan menjadi kebiasaan kami meminta hal itu karena mengawini perempuan adalah perkara di luar madzhab atau aliran kami yang selama ini kami lakukan, makanya kami tidak membutuhkan perempuan-perempuan itu, atau karena sesungguhnya kamu tidak melihat pernikahan kami, dan itu tak lain hanyalah pemaparan yang tidak ada keseriusannya, dan firman-Nya: (مِنْ حَقٍّۢ) maksudnya kami tidak mempunyai keinginan dan syahwat terhadap putriputri kamu.

Kemudian mereka menyatakan keinginan dan syahwat mereka dengan mengatakan (وَإِنَّكَ لَتَعْلَمُ مَا نُرِيدُ) adalah sebuah isyarat kepada tamu-tamu itu, dan _arrughbah_ (keinginan) untuk meyetubuhi laki-laki (sodomi) dan itulah yang menjadi keinginan besar mereka.

6. Luth tidak mendapatkan jalan untuk mencegah dan meneror mereka kecuali ancaman dan memperlihatkan kemarahan dan rasa kesal atas sikap kaumnya. Mereka terus membujuk, sementara Luth lemah dan tak kuasa mempertahankan tamu-tamunya, makanya dia berangan-angan jika mendapatkan penolong untuk melawan mereka, dia berkata dengan hati dongkol dan _al-istikaanah_ (merendahkan diri) ( لَوْ أَنَّ لِى بِكُمْ قُوَّةً) maksudnya jika aku punya penolong, pasti aku melawan orang-orang yang berbuat kerusakan, dan aku pisahkan antara mereka dengan apa yang mereka inginkan, atau kalau aku mendapatkan tempat mengadu dan berlindung kepadanya baik kabilah maupun keluarga besar yang dapat melindungi dan menolong aku dari orang-orang yang durhaka dan perbuatan mereka, dari orang-orang yang zalim serta kezaliman mereka, dari orang-orang yang fasik dan perbuatan mereka, dan ini sebagai dalil bahwa Luth dalam keadaan sangat risau dan sedih disebabkan mereka gerombolan bejat yang ingin melakukan perbuatan keji terhadap para tamunya.

7. Ketika para malaikat itu melihat kesedihan Luth dan kegusarannya serta upanya untuk menjaga para tamunya itu, mereka langsung memperkenal diri mereka kepadanya (قَالُوا۟ يَـٰلُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ) dan setelah dia tahu bahwa mereka adalah para utusan Allah, kaumnya memaksa untuk masuk, maka Jibril mengusapkan tangannya ke mata mereka dan mereka pun langsung buta, dan ke tangan mereka lalu tangan itu menjadi kering.

Para malaikat itu menenangkan Luth dengan mengatakan (لَن يَصِلُوٓا۟ إِلَيْكَ ۖ ) mereka tidak akan bisa menyakiti kamu, dan ucapan malaikat ini mengandung lima macam _bisyaarah_ (berita gembira) yaitu mereka adalah para utusan Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang kafir tidak akan sampai pada apa yang mereka angan-angankan, dan sesungguhnya Allah SWT akan membinasakan mereka, dan sesungguhnya Allah SWT akan menyelamatkan Luth bersama keluarganya dari adzab itu, dan sesungguhnya sandarannya sangat kuat dan bahwa penolongnya adalah Allah SWT.

Rahmat Allah SWT dan keadilan-Nya menuntut menyelamatkan orang-orang yang beriman dan membinasakan orang-orang yang kafir, dan itu menjadi mukjizat bagi nabi dan takriim (penghormatan) bagi orang-orang yang beriman bersamanya, hardikan bagi orang-orang yang zalim dan teror bagi orang-orang yang kafir. Maka Allah SWT menyelamatkan Luth dan keluarganya yaitu kedua putrinya kecuali istrinya dan membinasakan kaumnya. Pembinasaan kaum Luth terjadi antara waktu terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, yaitu dengan Jibril membalikkan negeri tempat tinggal mereka yang atas menjadi di bawah, yaitu ada lima daerah; negeri Sodom (negeri yang terbesar), _Aamuraa’, Daaduumaa, Dha’wah, Qutum._

Adzab yang diturunkan itu mempunyai dua kriteria, yang pertama firman Allah SWT (جَعَلْنَا عَـٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا) kemudian langsung saja dibalikkan dan dibantingkan ke bumi, dan kriteria kedua adalah firman Allah SWT (وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢ). Perbuatan ini menjadi mukjizat yang tak terbantahkan dari dua sisi.

_Pertama_, mencungkil bumi kemudian diangkat ke langit adalah perbuatan khaarigun lil'aadah (luar biasa)

_Kedua_, membantingnya dari jarak kejauhan seperti itu ke bumi dengan tanpa menggoyahkan sedikit pun negeri-negeri yang terletak di sekitarnya merupakan perkara yang sangat menakjubkan.

Kemudian tidak sampainya _aafah_ (pembinasaan/kerusakan) apa pun kepada Luth dan juga keluarganya padahal mereka dalam jarak yang dekat, hal itu pun menjadi sebuah mukjizat yang tak terbantahkan juga.

10. Allah SWT menyifati batu-batu yang dilemparkan kepada kaumnya Luth dengan tiga kriteria.

_Pertama_, batu itu adalah batu dari _sijjiil_ (yang sangat keras sekali) atau dari tanah-tanah yang membatu.

_Kedua_, Firman Allah SWT ( مَّنضُودٍۢ) maksudnya adalah bertubi-tubi atau beruntun satu sama lain.

_Ketiga_, (مُّسَوَّمَةً ) dikasih tanda yaitu kata _as-siimaa_ yang artinya adalah tanda. Maksudnya batu-batu itu ada tanda seperti stempel.

Firman Allah SWT (عِندَ رَبِّكَ ۖ) Hasan al-Bashri berkata, "Itu merupakan dalil bahwa batu-batu bukanlah dari batu-batu bumi ini.”

Dan firman Allah SWT (وَمَا هِىَ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ بِبَعِيدٍۢ ) yang dimaksud adalah kaum Luth; yaitu batu-batu itu tidak akan salah sasaran kepada mereka, dan ini merupakan ibrah bagi setiap orang yang berbuat zalim dari penduduk Mekah dan juga yang lainnya.

Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda:

"Akan terjadi pada akhir umatku nanti dimana orang laki-laki mereka akan cukup dengan laki-laki (sodomi) dan orang perempuan mereka akan cukup dengan perempuan (lesbian) dan jika itu terjadi, maka tunggu dan waspadalah akan turunnya adzab kaumnya Luth dimana Allah SWT akan melempari mereka dengan batu-batu dari 'sijjiil'

Lalu Rasulullah saw. membaca ayat (وَمَا هِىَ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ بِبَعِيدٍۢ )

11. Firman Allah SWT ( وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢ) merupakan dalil bahwa Barangsiapa yang melakukan perbuatan seperti perbuatan kaum Luth, hukumannya adalah rajam seperti yang dijelaskan dalam surah al-A'raaf.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login