Surah Huud Ayat 103-109 Bagian 2

HUD (22)

Surah Huud Ayat 103-109

[Bagian 2/2]

IBRAH DALAM KISAH-KISAH AL-QUR’AN BERUPA ADANYA BALASAN DI AKHIRAT

TUJUAN KISAH DALAM AL-QUR'AN

Terkadang satu kisah dalam Al-Qur’an diulang-ulang penuturannya dengan _uslub_ (susunan bahasa) yang berbeda demi persesuaian ayat yang bermacam-macam, dan implikasi jiwa yang berbeda-beda serta demi membuahkan tujuan yang bermacam-macam. Terlihat jelas bagi kita dari keterangan kisah-kisah umat terdahulu dalam surah ini dan surah-surah lainnya yang umumnya surah-surah Makkiyyah. Hal itu bertujuan untuk merealisasikan maksud-maksud tertentu, yang terpenting darinya adalah berikut ini.

1. Cerita tentang sejarah umat-umat terdahulu, dan memberikan sorotan atas kejadian-kejadian gaib yang sangat penting, di mana Nabi saw. tidak tahu sama sekali sebelumnya dan tidak pula seorang pun dari kaum beliau,

_"Itulah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bersepakat me¬ ngatur tipu muslihat (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya."_ *(Yuusuf : 102)*

Hal itu menjadi bukti atas kebenaran kenabian beliau dan Al-Qur’an adalah dari sisi Allah SWT dan bukan _iftiraa_' (hal mengada-ada) dari diri beliau, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang musyrik, dimana mereka mengatakan seperti yang diceritakan Al-Qur'anul Kariim,

_"Dan orang-orang kafir berkata, "(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain.' Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, '(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang.' Katakanlah (Muhammad), '(Al-Qur'an) itu diturunkan (Allah) Yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."_ *(al-Furqaan: 4-6)*

2. Pemberitaan kepada semua manusia tentang usaha keras para nabi dan rasul dalam menyebarkan dakwah mereka dan perlawanan mereka terhadap kaum-kaum mereka, dialog dan perdebatan mereka yang benar dengan cara yang bermacam-macam demi menegakkan kebenaran dan mengalahkan kebatilan, dan sejauh mana tanggapan kaum-kaum itu ataupun penolakan mereka terhadapnya, dan juga sebagai _tasliyah_ (hiburan] bagi Muhammad saw. tentang kepedihan yang beliau rasakan dari penolakan manusia untuk beriman kepada risalah beliau, sebagaimana yang Allah SWT firmankan,

_"Dan semua kisah rasul-rasul. Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman_. *(Huud: 120)*

Di dalam ayat ini adalah penjelasan bahwa mereka adalah _al-uswah al-hasanah_ (contoh yang baik] dalam berjihad dan kesabaran yang tinggi dalam berdakwah.

#Asaathiirul Awwaliin adalah kisah dan dongeng-dongeng lama, dan bangsa Arab dengan kebodohan mereka mengatakan hal itu.

_"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar adzab disegerakan bagi mereka."_ *(al-Ahqaaf: 35)*

3. Memperlihatkan bahwa para nabi sama dalam hal ushuul (pokok-pokok) risalah mereka, dan mendukung satu sama lain dalam berdakwah kepada tauhid (keesaan) Allah SWT beriman kepada kebangkitan, pembalasan dan hari akhir, menjelaskan _ushulul khair_ (pokok-pokok kebaikan) yang sama berupa _fadhilah_ (kemuliaan) akhlak dan _al-qiyam al-'ulyaa_ (nilai-nilai yang tinggi),

_"Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al-Qur'an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."_ *(Yuusuf: 111)*

4. Kisah itu merupakan unsur menarik dan banyak disenangi serta begitu mengesankan dalam _at-tarbiyyah wat ta'liim_ (pendidikan dan pengajaran) dan dalam menetapkan dalil-dalil rasional dengan kejadian-kejadian nyata indrawi, tidak akan berbeda dalam memberikan kesan dengan _uslub_ (susunan bahasa) dan cerita unsur-unsurnya baik terhadap orangorang dewasa maupun remaja, laki-laki dan perempuan, dan itu dapat menanamkan benih-benih keimanan, _at-targhiib_ (ajakan) dalam ketaatan dan _at-tarhiib_ (ancaman) dari kemaksiatan, hal itu yang menjadikan kisah itu sebagai madrasah Ilahiyyah bagi orang-orang yang beriman, guru-gurunya adalah para nabi, dan kenyataannya adalah kaum-kaum itu, sejarahnya sangat luar biasa dan topiknya adalah pembinasaan orang-orang zalim dan targetnya adalah _at-tahdziib, al-ishlaah_ dan _at-tarbiyyah alhasanah_ (pembelajaran, perbaikan dan pendidikan yang baik).

5. Tujuan utama kisah Al-Qur’an adalah untuk menetapkan tauhid Allah SWT dan keberadaan-Nya, menetapkan kenabian, _al-ba'ast_ (kebangkitan) dan diselipkan di dalamnya hukum-hukum syari'at yang sangat berguna bagi manusia secara pribadi atau kelompok, bagi umat dan negara, dan bagi semua bangsa dan penguasa.

6. Dari kisah itu terlihat jelas bahwa tugas para nabi sebatas menyampaikan wahyu, dan memberitahukan kepada manusia tentang peringatan-peringatan Ilahiyah akan datangnya adzab-Nya baik dalam waktu dekat maupun lambat, tanpa mereka mempunyai kuasa untuk menunda ataupun menggantinya, memberi manfaat ataupun kemudaratan.

7. Dari kisah itu juga terlihat jelas kesamaan tabiat menusia dan kesiapan mereka untuk beriman ataupun kafir, melakukan kebaikan ataupun kejahatan.

8. Dalam kisah itu memperlihatkan kekuasaan dan kemahaperkasaan Allah SWT dalam mempercepat adzab yang merupakan contoh dari adzab akhirat.

9. Kisah itu mengandung dukungan Allah SWT kepada para rasul, memperlihatkan ayat-ayat, mukjizat serta hujjah-hujjahNya kepada manusia, yang mengandung al-iqnaa’ akan kebenaran dakwah Ilahiyah dan beriman kepada para pembawa dakwah yaitu para rasul utusan Allah SWT.

10. Setiap kisah itu mempunyai nasihat dan ibrah khusus, berbeda satu sama lain tergantung yang dikisahkan tersebut. Kisah Nuh mencerminkan kesombongan yang menjadi-jadi dan sikap keras kepala pada keyakinan _watsaniyyah_, kisah kaum 'Ad memperlihatkan betapa percaya diri mereka dengan kekuatan, ketangguhan, keperkasaan dan ketangkasan mereka, kisah kaum Luth menunjukkan rendahnya tingkat kemanusiaan, homoseksual, kehancuran akhlak, dan kisah kaum Syu'aib merupakan fenomena dekadensi sosial atau kezaliman sosial, perampasan hak-hak manusia, memakan harta orang lain dengan batil, kisah kaum Fir'aun merupakan contoh jelas bagi _al-i'timaad_ (bersandar) pada kekuasaan, kekayaan, dan kedudukan, yang menghiasi singgasana dan kedaulatan para penguasa zalim dan _thagut_ di setiap tempat dan zaman. Semua kisah itu untuk melawan _al-watsaniyyah_ dan kerusakan tatanan masyarakat. Semua umat itu adalah para penganut agama yang menyembah berhala, dan upaya keras para nabi terfokus pada pembebasan manusia dari penyembahan patung dan berhala-berhala.

11. Secara keseluruhan kisah-kisah itu adalah ibrah dan nasihat, obat bagi penyakit jiwa untuk mengambil ibrah dari apa yang ditimpakan kepada orang-orang yang durhaka, orang-orang yang kafir yang membangkang, yang dapat menggugah akal pikiran dan hati sanubari dan dapat membuat manusia selalu takut dan waspada terhadap hal-hal tersebut.

12. Sesungguhnya pemberitaan yang datang dari seorang nabi yang ummi yang tidak bisa menulis dan membaca, bukan seorang perawi dan penghafal, yaitu Nabi Muhammad saw. tentang kisah-kisah itu, merupakan dalil yang kuat atas kebenaran kenabian beliau, dan agungnya kerasulan beliau, perhatian besar beliau untuk menyebarkan ilmu dan pengetahuan, dengan prioritas utama adalah memberi petunjuk dan hidayah, juga yang terpenting dari itu semua merupakan dalil bahwa Al-Qur’an adalah kalaamullah dan undang-undang-Nya bagi umat manusia sampai hari Kiamat nanti.

13. Kisah-kisah itu berisi tentang keteguhan para nabi terhadap prinsip dan dakwah mereka walaupun mereka sering mengalami perlakuan yang menyakitkan, rencana pembunuhan ataupun pengusiran, dan contoh seperti itu banyak sekali dalam Al-Qur'an di antaranya yang diceritakan Al-Qur'an tentang Nuh,

_"Dia (Nuh), 'Wahai kaumku! Apa pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya, sedangkan (rahmat itu) disamarkan bagimu. Apa kami akan memaksa kamu untuk menerimanya, padahal kamu tidak menyukainya."_ *(Huud: 28)*

Hal yang serupa sering diulang-ulang seperti yang dikatakan Syu'aib dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

_“Dia (Syu’aib) berkata, 'Wahai kaumku! Terangkan kepadaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya rezeki yang baik (pantaskah aku menyalahi perintah-Nya)? Aku tidak bermaksud menyalahi kamu terhadap apa yang aku larang darinya. Aku hanya bermaksud (mendatangkan) perbaikan selama aku masih sanggup. Dan petunjuk yang aku ikuti hanya dari Allah. KepadaNya aku bertawakal dan kepada-Nya (pula) aku kembali. (Huud: 88)

Masih banyak lagi dari para nabi yang lain.

Di antara yang diceritakan Al-Qur’an adalah tentang Hud dalam firman Allah SWT:

_"Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata, 'Sesungguhnya memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.' Dia (Hud) menjawab, 'Wahai kaumku! Bukan aku kurang waras, tetapi aku ini adalah Rasul dari Tuhan seluruh alam."_ *(al-A'raaf: 66-67)*

Di antaranya apa dikatakan kaum Syu’aib dalam firman Allah SWT:

_"Mereka berkata, 'Wahai Syu’aib! Kami tidak banyak mengerti tentang apa yang engkau katakan itu, sedang kenyataannya kami memandang engkau seorang yang lemah di antara kami. Kalau tidak karena keluargamu tentu kami telah merajam engkau, sedang engkau pun bukan seorang yang berpengaruh di lingkungan kami."_ *(Huud: 91)*

14. Diulang-ulangnya penuturan satu kisah dalam beberapa surah Al-Qur’an lebih dari satu kali adalah untuk mengejawantahkan tujuan, target dan makna yang banyak sekali, agar dapat menjadi contoh di depan mata setiap generasi. Pengulangan itu tidak membuat bosan melainkan dengan uslub dan susunan bahasa yang berbeda yang dapat menarik perhatian, dapat menggugah hati, dan dapat menghilangkan rasa bosan dan jemu dari jiwa orang yang membaca dan mendengarnya.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login