AL-BAQARAH (29)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 142 - 143]
PENDAHULUAN PENGALIHAN KIBLAT
Surah al-Baqarah Ayat 142-143
Iman yang hakiki atau penyerahan diri seutuhnya kepada Allah menuntut kepatuhan kepada perintah-perintah Allah dan ketundukan kepada kehendak dan pilihan-Nya. Jika Allah memerintahkan menghadap dalam shalat ke suatu arah tertentu kemudian Dia memerintahkan beralih ke arah lain, seorang mukmin akan melaksanakan perintah itu bulat-bulat, tak akan muncul keraguan sedikit pun dalam hatinya terhadap perintah-perintah Allah dan ia tak akan berkomentar atasnya. Sebab, semua arah adalah kepunyaan Allah, seluruh penjuru bumi ini berada dalam kekuasaan-Nya. Yang diperhatikan tidak lain adalah dalam pemusatan tujuan dan penghadapan kepada Allah Ta'ala, dan Allah berhak memerintahkan menghadap ke arah mana pun yang dikehendaki-Nya. Jadi, orang-orang bodoh dan lemah akal serta lemah iman itu sebetulnya tidak perlu berkomentar atas pengalihan kiblat orang-orang beriman dari Syam ke Ka'bah. Pemindahan kiblat ini terjadi setelah hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah. Menurut riwayat dalam Shahih Bukhari: Kiblat dialihkan enam belas atau tujuh belas bulan setelah hijrah, dan ini terjadi—menurut Sa'id ibnul Musayyab—dua bulan sebelum terjadinya Perang Badar. Tepatnya, pengalihan kiblat terjadi pada bulan Rajab tahun 2 H.
AL-BAQARAH (28)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 138 - 141]
SHIBGHAH IMAN DAN PENGARUHNYA DALAM JIWA SERTA KEHAMBAAN KEPADA ALLAH TA'ALA
Surah al-Baqarah Ayat 138-141
Islam menolak segala bentuk seremoni ritual yang kosong (seperti baptis di kalangan kaum Nasrani, dan sebagainya) dan menyatakan secara terbuka bahwa yang menjadi patokan adalah apa yang telah ditanamkan Allah ketika menciptakan jiwa manusia, yaitu pengakuan akan keesaan Allah, keikhlasan amal kepada Allah, serta cinta kebaikan dan sikap moderat dalam segala hal. Allah Ta'ala berfirman,
"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus: tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (ar-Ruum: 30)
Jiwa agama adalah tauhid dan asasnya adalah keikhlasan. Semua nabi menyeru umatnya kepada hal ini, dan Nabi Muhammad saw. pun menyeru kepada hal yang sama. Jadi, dakwah atau syariat beliau menyempurnakan dakwah dan syariat para nabi dan rasul terdahulu.
AL-BAQARAH (27)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 133 - 137]
BANTAHAN ATAS KLAIM UMAT YAHUDI BAHWA MEREKA MENGANUT AGAMA IBRAHIM DAN YA'QUB
Surah al-Baqarah Ayat 133-137
Ayat (قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَـٰهَكَ وَإِلَـٰهَ ءَابَآئِكَ) menunjukkan bahwa agama Allah itu satu dalam setiap umat dan disampaikan oleh setiap nabi. Ia adalah agama pengesaan Allah secara murni dan ketundukan kepada semua nabi. Allah Ta'ala berfirman,
"Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (asy-Syuuraa: 13)
Al-Qur'an telah mendorong kita agar mengikuti agama yang satu yang berdiri di atas dua hal:
AL-BAQARAH (26)
FIQIH KEHIDUPAN DAN HUKUM-HUKUM
[SURAH AL-BAQARAH 127 - 132]
PEMBANGUNAN KA'BAH SERTA DOA IBRAHIM DAN ISMA'IL
Surah al-Baqarah Ayat 127-129
Doa-doa ini mengajarkan kepada kita agar pada saat usai mengerjakan amal apapun kita memohon supaya amal-amal itu diterima oleh Allah, berdoa agar diri kita dan anak cucu kita diberi kesalehan supaya Islam tetap lestari sepanjang masa dan agar terlihat ketundukan kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Allah Ta'ala menjadikan manasik haji sebagai tempat-tempat untuk membebaskan diri dari dosa dan untuk memohon rahmat dari Allah. Dia Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim dan putranya, Isma'il, dengan mengutus penutup para nabi, yaitu Muhammad saw., sebagai rasul dari bangsa Arab. Rasulullah saw. pernah bersabda:
Halaman 175 dari 186