*ALI 'IMRAN (52)*
*ALI 'IMRAN 169-175*
*KEDUDUKAN SYUHADA YANG BERJUANG DI JALAN ALLAH SWT*
*[Bagian 3/3]*
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
4. Rezeki pada ayat, (عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ) maksudnya adalah rezeki seperti yang biasa diketahui bersama, maksudnya, rezeki yang dimaksud di sini adalah rezeki dalam arti sebenarnya. Namun bagi orang yang mengatakan bahwa rezeki yang diberikan kepada mereka adalah nama harum yang selalu dikenang, jadi maksud ayat ini adalah, dan mereka diberi rezeki berupa nama harum dan selalu dikenang, maka menurut pendapat ini, rezeki yang dimaksud di dalam ayat ini berarti rezeki dalam arti _majaz_.
5. Tentang ayat (وَيَسْتَبْشِرُونَ بِٱلَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا۟ بِهِم مِّنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ) "dan mereka bergirang hati terhadap orong-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati," *as-Suddi* berkata, "Orang yang mati syahid diberi sebuah buku yang memuat nama saudara-saudaranya yang akan datang menyusulnya, lalu ia merasa gembira akan hal itu seperti gembiranya orang yang menyambut kedatangan saudaranya yang lama pergi." *Qatadah, Ibnu Juraij, ar-Rabi'* dan yang lainnya berkata, "Para syuhada tersebut bergembira dengan berkata, "Saudara-saudara kami yang kami tinggalkan di dunia, mereka terus berjuang di jalan Allah SWT bersama Nabi mereka, lalu mereka akan gugur dan mati syahid, lalu mereka mendapatkan kemuliaan seperti yang kami terima." Mereka bergembira terhadap para saudara mereka tersebut karena hal itu."
6. _Al-Fadhlu_ (karunia) yang terdapat di dalam ayat, (۞ يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضْلٍۢ) "mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah SWT" Untuk memberi penjelasan tambahan, karena al-Fadhlu (karunia) sudah masuk ke dalam nikmat. Hal ini mengandung isyarat akan luasnya nikmat Allah SWT dan bahwa nikmat tersebut bukan seperti nikmat-nikmat yang ada di dunia. Ada yang mengatakan bahwa penyebutan al-Fadhlu setelah kata an-Ni'mah adalah untuk penguat.
*Tirmidzi* meriwayatkan dari *al-Miqdam bin Ma'dikarib*, ia berkata, *"Rasulullah saw bersabda:*
_"Orang yang mati syahid memiliki enam hal, ia diampuni sejak tumpahan darah pertamanya, kedudukannya di surga diperlihatkan kepadanya, diselamatkan dari siksa kubur, selamat dari al-faza'ul akbar (kedahsyatan yang besar pada hari kiamat), dikenakan di kepalanya mahkota kewibawaan yang satu batu permata saja dari mahkota tersebut jauh lebih baik dari dunia seisinya, ia dinikahkan dengan 72 bidadari dan diberi izin untuk memberi syafaat kepada 72 orang dari kerabatrya."_
*Tirmidzi* mengatakan bahwa ini adalah _hadits hasan shahiih ghariib_. Kandungan hadits ini menjelaskan nikmat dan _al-Fadhl_ (karunia) di dalam ayat 171 ini.
7. Ayat, (ٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟) mengisyaratkan bahwa para sahabat yang ikut melanjutkan peperangan dan pengejaran terhadap Abu Sufyan dan kelompoknya di Hamra'ul asad untuk menakut-nakuti dan menggertak musuh, -jumlah sahabat yang ikut waktu itu adalah 70 orang- mereka memang berhak untuk mendapatkan pujian dari Allah SWT dikarenakan dua faktor, yaitu, kepatuhan mereka terhadap ajakan Rasulullah saw. untuk pergi melakukan pengejaran bersama beliau dan kesabaran mereka di dalam memaksa diri mereka untuk ikut pergi bersama Rasulullah saw., padahal waktu itu mereka sedang mengalami luka dan rasa sakit yang parah yang mereka alami pada perang Uhud.
8. Ayat, (ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ) menunjukkan bahwa orang Mukmin yang benar bukan seorang penakut. Sikap takut tidak bisa menyatu dengan iman, karena penyebab rasa takut tersebut adalah karena takut mati dan cinta yang berlebihan kepada hidup, sedangkan dua hal ini sangat jauh dari diri seorang Mukmin. Para sahabat yang ikut bersama Rasulullah saw. pada perang Badar ash-Shughraa, satu tahun setelah perang Uhud merupakan contoh sebuah keberanian dan pengorbanan yang luar biasa di dalam berjihad di jalan Allah SWT.
9. Ayat ini juga menunjukkan bahwa seorang Mukmin mungkin untuk membebaskan dirinya dari rasa takut, yaitu dengan berpegangan kepada bacaan, (حَسْبُنَا ٱللَّهُ وَنِعْمَ ٱلْوَكِيلُ) Yang maksud intinya adalah bahwa Allah SWT Yang mencukupi, menolong dan melindungi dirinya.
10. Ayat, (فَزَادَهُمْ إِيمَـٰنًۭا) yang berarti, maka perkataan orang itu menambah keimanan, pembenaran dan keyakinan di dalam agama mereka, semakin membuat mereka kuat, berani dan semakin siap, ayat ini mengisyaratkan bahwa iman bisa bertambah dengan amal-amal saleh.
Dalam masalah bertambah dan berkurangnya iman, para ulama berkata, "Sesungguhnya pada dasarnya inti dan pokok iman, yaitu membenarkan dan meyakini sesuatu yang satu, jika sudah ada, maka tidak bisa bertambah, namun jika hilang, maka tidak ada yang tersisa. Adapun masalah bertambah dan berkurangnya iman, maka hal ini tidak terjadi pada iman itu sendiri akan tetapi terjadi pada unsur-unsur yang berkaitan dengan iman. Namun menurut mayoritas ulama, iman bisa bertambah dan berkurang sehubungan dengan amal-amal yang muncul dari iman tersebut. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Muslim dan Tirmidzi:*
الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
_"Iman memiliki sekitar tujuh puluhan bagian atau cabang yang paling tinggi adalah bacaan kata tauhid laailaaha illallaah. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan dari jalan sesuatu yang bisa mengganggu orang."_
Di dalam riwayat *Imam Muslim* ada tambahan:
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ
_"Dan rasa malu termasuk cabang dari iman."_
11. Ayat, (فَٱنقَلَبُوا۟ بِنِعْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَضْلٍۢ) "Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah," maksud ayat ini seperti yang dikatakan oleh para ulama, ketika mereka memasrahkan urusan mereka kepada Allah SWT, hati mereka bersandar kepada-Nya, maka Allah SWT memberi mereka empat bentuk balasan pahala, yaitu, nikmat, karunia, selamat dari musibah, mengikuti ridha Allah SWT sehingga Allah SWT membuat mereka ridha kepada-Nya dan Allah SWT pun ridha kepada mereka.
12. Ayat, (فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ) "karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku," menjelaskan bahwa, rasa takut harus hanya kepada Allah SWT semata, tidak kepada musuh, bahwa para wali Allah SWT tidak takut kepada setan, ketika setan menakut-nakuti mereka, akan tetapi sebenarnya setan tidak lain surah Ali 'Imran hanya menakut-nakuti kawan-kawannya saja, yaitu kaum munafik agar mereka tidak ikut pergi bersama kaum Muslimin untuk memerangi kaum musyrik.
Iman yang benar dan sungguh-sungguh mendorong pemiliknya untuk hanya takut kepada Allah SWT. Di dalam sebuah ayat, Allah SWT memuji kaum Mukminin karena rasa takut mereka kepada-Nya:
_"Mereka takut kapada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka)."_ *(an-Nahl: 50)*
Di dalam sunan *Ibnu Majah* diriwayatkan dari *Abu Dzar;* ia berkata, *"Rasulullah saw. bersabda:*
_"Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit bersuara dan ia memang pantas dan berhak untuk bersuara, tidak ada tempat seluas empat jari di langit kecuali di dalamnya ada seorang malaikat yang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah SWT. Sungguh demi Allah, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, maka kalian pasti tidak banyak tertawa dan kalian akan lebih sering menangis, kalian tidak akan bersenang-senang dengan istri di atas tempat tidur dan sungguh kalian akan keluar ke jalan-jalan memanjatkan doa dengan penuh kesungguhan kepada Allah SWT." Abu Dzar berkata, "Demi Allah, sungguh saya sangat ingin andai saja saya adalah sebatang pohon yang dicabut sampai ke akarnya."_===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
