AR-RA'D (12)
DESKRIPSI SURGA, SIKAP AHLI KITAB TERHADAP KENABIAN NABI MUHAMMAD SAW. DAN SEJUMLAH OPINI-OPINI SESAT
Surah Ar-Ra’d Ayat 35-39
Turunnya Ayat 38
*Al-Kalbi* menuturkan, orang-orang Yahudi menjelekkan Rasulullah saw. dan berkata, "Kami melihat orang ini tidak memiliki kerjaan lain selain urusan perempuan dan kawin. Seandainya benar ia adalah seorang nabi sebagaimana yang ia klaim, tentu urusan kenabian sudah menyita semua waktu dan pikirannya hingga tidak sempat memikirkan urusan perempuan." Lalu Allah SWT pun menurunkan ayat ini (وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًۭا مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًۭا وَذُرِّيَّةًۭ ۚ)
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Mujahid*, ia berkata, "Ketika turun ayat (وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَن يَأْتِىَ بِـَٔايَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ), maka orang-orang Quraisy berkata, "Hai Muhammad, kami melihat kamu sudah tidak memiliki apa-apa lagi, semuanya telah selesai." Lalu *Allah SWT* menurunkan ayat (يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ)
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Dari ayat-ayat di atas bisa diambil sejumlah kesimpulan sebagai berikut:
1. Surga adalah makhluk yang dipersiapkan oleh Allah SWT untuk orang-orang yang bertakwa, _"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"_ *(A1i Imraan: 133)*
2. Buah-buahan surga tidak akan pernah habis. Naungan di surga juga demikian, tidak pernah lenyap. Ini menyanggah kelompok _al-Jahmiyyah_ yang berpandangan bahwa kenikmatan surga juga bisa habis dan sirna.
3. Neraka juga makhluk yang dipersiapkan Allah SWT untuk orang-orang kafir yang mendustakan Allah SWT dan Rasul-Nya. *Allah SWT berfirman*, _"Maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir."_ *(al-Baqarah: 24)*
4. Sebagian orang Yahudi dan Nasrani seperti *Abdullah bin Salam r.a*. dan *Salman al-Farisi r.a*., serta orang-orang yang datang dari tanah Habasyah, mereka bergembira dengan Al-Qur'an karena Al-Qur'an membenarkan kitab suci mereka. Mereka juga bergembira dengan adanya _dzikrur Rahmaan_ karena banyak disebutkan dalam Taurat.
Para ulama mengatakan, pada awal turunnya Al-Qur'an, _dzikrur Rahmaan_ hanya sedikit disebutkan di dalamnya. Lalu ketika *Abdullah bin Salam r.a*, dan rekan-rekannya masuk Islam, mereka agak terusik dan kurang nyaman karena _dzikrur Rahmaan_ hanya disebutkan sedikit dalam Al-Qur'an, padahal itu banyak disebutkan dalam Taurat. Mereka pun menanyakan hal itu kepada Rasulullah saw, lalu Allah SWT pun menurunkan *ayat 110 surah al-Isra'*, _"Katakanlah (Muhammad), "Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asma'ul Husna)."_ Lalu orang-orang Quraisy berceletuk, "Bagaimana Muhammad ini, sebelumnya ia menyeru kepada Tuhan Yang Satu, lalu hari ini ia menyeru kepada dua Tuhan, yaitu Allah dan ar-Rahman! Sungguh kami tidak kenal ar-Rahman kecuali rahman Yamamah (yang mereka maksudkan adalah Musailamah al-Kadzdzab)." Lalu turunlah ayat, *(وَهُم بِذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ هُمْ كَٰفِرُونَ) (al-Anbiyaa': 36)*, *(وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِٱلرَّحْمَٰنِ) (ar-Ra'd: 30)*. Orang-orang Mukmin yang berasal dari kalangan Ahli Kitab pun bergembira dengan disebutkannya ar-Rahman. Lalu Allah SWT menurunkan *ayat 30 surah ar-Ra'd.*
5. Di antara orang-orang musyrik Mekah dan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi yang tidak mau beriman, atau orang-orang Arab yang membentuk suatu kelompok untuk menentang Nabi Muhammad saw, ada yang mengingkari sebagian dari apa yang terdapat dalam Al-Qur'an. Karena di antara mereka ada yang mengakui sebagian nabi, dan di antara mereka ada yang mengakui bahwa Allah-lah Pencipta langit dan bumi.
6. Dakwah Nabi Muhammad saw. kepada manusia hanyalah seruan untuk menyembah Allah SWT semata, tiada sekutu bagi-Nya. Seruan untuk beriman kepada _ba'ts_, hisab, dan balasan. Ini berdasarkan ayat di atas, *(إِلَيْهِ أَدْعُوا۟ وَإِلَيْهِ مَـَٔابِ)* Yakni, hanya untuk menyembah kepada Allah SWT semata aku menyeru manusia, dan hanya kepada-Nya aku kembali dalam semua urusanku.
7. Sebagaimana Allah SWT menurunkan kitab-kitab kepada para rasul dalam bahasa mereka, demikian pula Kami menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw. dalam bahasa Arab. Maksud _al-Hukm_ dalam ayat ini adalah hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an. Ada pula yang mengatakan, maksudnya adalah Al-Qur'an secara keseluruhan, karena Al-Qur'an menjelaskan antara yang _haqq_ dan yang _batil_, serta menjadi rujukan yang memberikan keputusah hukum.
8. Barangsiapa mengikuti hawa nafsu orang-orang musyrik dalam menyembah selain Allah SWT dan berkiblat selain Ka'bah, padahal telah ada dalil yang diketahui secara pasti tentang kebenaran risalah Al-Qur'an dan Nabi Muhammad saw., tiada baginya seorang penolong pun yang bisa menolong dirinya dan tidak pula pelindung yang bisa menghalau adzab dari dirinya.
9. Seluruh para nabi adalah manusia biasa. Mereka melakukan apa yang dihalalkan oleh Allah SWT dari kesenangan-kesenangan duniawi, memiliki istri dan keturunan. Hal yang membedakan mereka dari manusia lainnya hanyalah wahyu.
10. Ayat *(وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَٰجًا وَذُرِّيَّةً)* memuat pengertian yang mendorong untuk menikah serta larangan membujang (tidak menikah) karena ini adalah sunnah para rasul sebagaimana yang dinyatakan secara eksplisit oleh ayat ini. Hal ini diperkuat dengan as-Sunnah, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi —dan ini adalah _dha'if_— bahwa Rasulullah saw. bersabda:
*(تَزَوَّخُوا فَإِ نِّي مُكَا ثِرٌ بِكُمْ الْأُ مَمَ)*
_"Menikahlah kalian, karena sesungguh¬nya aku membanggakan banyaknya pengikut¬ku kepada umat-umat yang lain."_
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh *Thabrani* dari Anas -ini adalah _dha'if_- disebutkan *Rasulullah saw*. bersabda,
*(مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الْإِ يمَا نِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصفِ الْبَا قِي)*
_"Barangsiapa menikah, sungguh ia benar-benar telah menyempurnakan separoh imannya, hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT dalam separoh sisanya"._
Maksudnya, menikah bisa menjadikan seseorang memiliki sifat _'iffah_ (memelihara diri) dari perbuatan zina. Sementara _'afaaf_ atau _'iffah_ (memelihara diri dari hal-hal yang tidak patut) adalah salah satu dari dua sifat yang Rasulullah saw. janjikan masuk surga atas keduanya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dalam _al-Muwaththa'_ dan yang lainnya, *Rasulullah saw*. bersabda,
*(مَنْ وَقَا هُ اللَّهَ شَرَّ اثْنَتَيْنِ وَلَخَ الْخَنَّةَ مَا بَينَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ)*
_"Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah SWT dari keburukan dua anggota tubuh, maka ia masuk surga, yaitu apa yang terdapat di antara dua rahangnya (maksudnya adalah mulut) dan apa yang terdapat di antara kedua kakinya (maksudnya adalah kemaluan)."_
Di atas telah disebutkan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. di samping shalat malam juga tidur malam, bahwa beliau juga menikah. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnah beliau, ia bukan termasuk golongan beliau.
11. Seorang rasul tidak bisa begitu saja mendatangkan mukjizat yang keluar dari kebiasaan. Tetapi itu dengan izin dan kehendak Allah SWT.
12. Tiap-tiap perkara yang ditetapkan oleh Allah SWT sudah ada kitab tulisannya, Dia menghapus dari kitab yang Dia kehendaki untuk menimpakannya kepada pihak yang bersangkutan dan yang membawanya. Dia menetapkan apa yang dikehendaki-Nya, yakni mendatangkannya dan men-jadikannya terjadi pada waktunya yang memang telah ditentukan untuknya. Di sisi Allah SWT ada induk kitab yang tidak ada satu pun darinya yang berubah. Turunnya adzab atas orang-orang kafir dan datangnya pertolongan terhadap orang-orang Mukmin, masing-masing sudah ada waktunya.
Penghapusan itu mencakup takdir. Doa berfaedah dalam menolak takdir. Terkadang, seseorang terhalang mendapatkan rezeki disebabkan oleh suatu dosa yang diperbuatnya. Terkadang umur seseorang bisa bertambah dengan silaturahim dan berbuat kebajikan kepada kaum kerabat. Di atas telah disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dalam *Shahih Bukhari* dan *Shahih Muslim* dari *Abu Hurairah r.a*.,
*(مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ)*
_"Barangsiapa ingin rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan (dan selalu dikenang dengan baik setelah mati), hendaklah ia menyambung ikatan kekerabatan dan persaudaraannya."_
Ada pokok-pokok tertentu terkait dengan beberapa hal yang tidak bisa berubah, yaitu penciptaan dan watak pembawaan, serta ajal dan rezeki. Termasuk juga nasib seseorang apakah ia termasuk orang yang bahagia ataukah termasuk orang yang sengsara. Apa yang ada dalam pengetahuan Allah SWT tidak mengalami perubahan, seperti hari Kiamat, batas waktu sampai kapan manusia berada dalam kubur, dan setiap apa yang telah dituliskan dan ditetapkan berupa ajal, batas waktu dan yang lainnya.
*Ibnu Abbas r.a*. ditanya tentang _Ummul Kitab_, ia berkata, "Pengetahuan Allah SWT tentang segala ciptaan dan segala apa yang dilakukan ciptaan-Nya. Lalu, Allah SWT berkata kepada ilmu atau pengetahuan-Nya, _"Jadilah kamu kitab, dan tidak ada perubahan dalam ilmu Allah SWT."_
*Ikrimah* mengatakan, _"Allah SWT menghapus apa yang Dia kehendaki dari semua dosa dengan tobat dan mengganti-nya dengan kebaikan-kebaikan."_ *Allah SWT berfirman*,
_"Kecuali orang-orang yang bertobat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."_ *(al-Furqaan: 70)*
Intinya, akidah kita adalah tidak ada perubahan pada _qadha'_ dan ketetapan Allah SWT. Penghapusan dan penetapan termasuk bagian _qadha'_ dan ketetapan Allah SWT. _Qadha'_ merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan tetap. Adapun _qadha'_ yang dikorelasikan dengan sebab-sebab, dan ini adalah yang bisa terhapus. Penghapusan ini adakalanya dengan doa, silaturahim, atau berbuat kebajikan kepada kaum kerabat, atau dengan dosa yang diperbuat. Penghapusan ini mencakup penghapusan berbagai syari'at. Oleh karena itu, suatu syari'at terkadang dihapus dengan syari'at yang lain, seperti menghapus dengan Al-Qur'an terhadap selain Al-Qur'an, karena suatu maslahat dan hikmah. Juga seperti peng-hapusan arah kiblat yang sebelumnya ke arah _Baitul Maqdis,_ lalu dialihkan ke arah Ka'bah, dan lain sebagainya.
Semuanya adalah berdasarkan _qadha'_ dan _qadar_ Allah SWT, dan segala sesuatu sudah ada waktunya.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
