AR-RA'D (7)
PERUMPAMAAN YANG BENAR DAN YANG BATIL, SERTA NASIB AKHIR ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG DAN CELAKA
Surah Ar-Ra’d Ayat 17-19
أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌۢ بِقَدَرِهَا فَٱحْتَمَلَ ٱلسَّيْلُ زَبَدًۭا رَّابِيًۭا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِى ٱلنَّارِ ٱبْتِغَآءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَـٰعٍۢ زَبَدٌۭ مِّثْلُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْحَقَّ وَٱلْبَـٰطِلَ ۚ فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءًۭ ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَالَ ١٧
*Artinya*: _Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan 1#._
1#- Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā mengumpamakan yang benar dan yang batil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya. Yang benar sama dengan air atau logam murni, yang batil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia.
لِلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمُ ٱلْحُسْنَىٰ ۚ وَٱلَّذِينَ لَمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَهُۥ لَوْ أَنَّ لَهُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا وَمِثْلَهُۥ مَعَهُۥ لَٱفْتَدَوْا۟ بِهِۦٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ سُوٓءُ ٱلْحِسَابِ وَمَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ ١٨
*Artinya*: _Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhan-nya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman._
۞ أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ٱلْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰٓ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ ١٩
*Artinya*: _Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran,_
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menjelaskan tiga hal seperti berikut.
1. Perumpamaan yang _haqq_; keimanan diperumpamakan. dengan air yang menetap dan juga diperumpamakan dengan logam yang bersih dan murni. Mengumpamakan yang batil dan kekafiran dengan buih yang mengambang di atas permukaan air yang akan lenyap, tertambat di pinggir-pinggir sungai, dan lembah serta sirna oleh tiupan angin. Atau, mengumpamakannya seperti buih yang mengambang di atas permukaan leburan logam. Demikian pula halnya dengan kekafiran, kesyubhatan, lamunan dan asumsi fiktifnya, semuanya sirna dan lenyap. Sementara air yang jernih akan tetap jernih. Logam yang murni, akan tetap murni.
Dua perumpamaan ini dibuat oleh Allah SWT untuk menggambarkan yang haqq dengan ketetapan eksistensinya, dan yang batil dengan kesirnaan. Dua perumpamaan ini bisa menggugah kesadaran untuk melihat akibat dan nasib akhir.
Diriwayatkan dari *Ibnu Abbas r.a*., penyerupaan Al-Qur’an dan beberapa bagian Al-Qur’an yang masuk ke dalam hati diibaratkan seperti hujan, karena kebaikan yang dibawanya begitu melimpah dan manfaatnya senantiasa terus "mengalir.” Sedangkan hati diibaratkan seperti lembah-lembah. Banyak sedikitnya Al-Qur’an yang masuk ke dalam hati diibaratkan seperti banyak sedikitnya air hujan yang masuk mengalir dalam lembah-lembah menurut ukuran luas sempitnya atau besar kecilnya.
2. Orang-orang yang taat, yaitu golongan yang bahagia dan beruntung yang memenuhi apa yang diserukan oleh Allah SWT kepada mereka berupa tauhid dan kenabian. Bagi mereka ada balasan yang baik, yaitu kemenangan dan pertolongan di dunia serta kenikmatan yang abadi kelak di akhirat.
Sedangkan para pelaku maksiat, yaitu golongan yang sengsara dan celaka yang tidak memenuhi seruan untuk beriman kepada kenabian Nabi Muhammad saw., mereka sekali-kali tidak akan bisa menebus diri mereka di akhirat kelak walaupun dengan emas sepenuh bumi ditambah yang sebanyak itu lagi. Bagi mereka ada adzab yang buruk, kebajikan yang pernah mereka kerjakan, tidak akan ada satu pun yang diterima dan mendapat pahala, dan tidak satu keburukan pun yang pernah mereka perbuat diampuni. Tempat tinggal dan menetap mereka adalah neraka, dan seburuk-buruk tempat menetap adalah tempat menetap yang mereka persiapkan untuk mereka sendiri itu, yaitu neraka. Itu adalah empat macam adzab dan hukuman; tidak ada tebusan yang akan diterima, mengalami hisab yang sangat buruk dan santa berat, tempat kembali dan menetap mereka adalah jahannam, seburuk-buruk tempat kembali dan menetap adalah tempat kembali dan menetap mereka, neraka Jahannam.
3. Ada sebuah perumpamaan lain tentang orang Mukmin dan orang kafir. Diriwayatkan bahwa ayat ini turun menyangkut diri *Hamzah r.a. dan Abu Jahal*. Orang yang beriman kepada apa yang diturunkan dari Allah SWT kepada Nabi-Nya, mengetahui dan meyakini kebenarannya, dan mengejawantahkan apa yang disampaikan kepadanya dari apa yang diturunkan itu, ia adalah orang yang bisa mencermati, memahami, dan mengerti. Adapun orang kafir adalah orang yang bodoh yang tidak memahami tentang agama dan buta mata hatinya. Orang-orang yang berakal sajalah yang bisa memetik pelajaran dan nasihat dari semua itu.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
