AR-RA'D (6)
KEESAAN ALLAH SWT SERTA PERUMPAMAAN POSISI ORANG MUKMIN DAN ORANG MUSYRIK TERHADAP KEESAAN TUHAN
Surah Ar-Ra’d Ayat 16
قُلْ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ قُلِ ٱللَّهُ ۚ قُلْ أَفَٱتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًۭا وَلَا ضَرًّۭا ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلْأَعْمَىٰ وَٱلْبَصِيرُ أَمْ هَلْ تَسْتَوِى ٱلظُّلُمَـٰتُ وَٱلنُّورُ ۗ أَمْ جَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوا۟ كَخَلْقِهِۦ فَتَشَـٰبَهَ ٱلْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۢ وَهُوَ ٱلْوَٰحِدُ ٱلْقَهَّـٰرُ ١٦
*Artinya*: _Katakanlah, "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya, "Allah". Katakanlah, "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?" Katakanlah, "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah, "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa"._
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat di atas menjelaskan sejumlah hal sebagai berikut.
1. Mengukuhkan sebuah hakikat abadi, Allah SWT semata Pencipta langit, bumi, dan segala makhluk yang ada di alam ini. Zat Yang memiliki spesifikasi atau sifat menciptakan dan mengadakan, Dialah Yang berhak untuk disembah dan dipuja.
2. Ayat (قُلْ أَفَٱتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ) menunjukkan pengakuan mereka bahwa Allah-lah Sang Pencipta. Ini adalah makna yang juga terdapat dalam ayat lain,
_"Dan jika engkau bertanya kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Pasti mereka akan menjawab, 'Allah.'"_ *(al-'Ankabuut: 61)*
Jika kalian telah mengakui bahwa Allah Sang Pencipta, lantas kenapa kalian menyembah selain Dia? Padahal apa yang kalian sembah selain Dia itu tidak bisa sedikit pun mendatangkan manfaat dan tidak mampu menghalau mudharat. Ini adalah sebuah pembungkaman yang tepat dengan sebuah bukti yang kuat tanpa bisa terbantahkan atau diragukan sedikit pun.
3. Allah SWT membuat sebuah contoh atau perumpamaan untuk menggambarkan keadaan orang-orang musyrik dan orang-orang Mukmin. Gambaran orang musyrik bagaikan orang buta, sedangkan orang mukmin bagaikan orang yang bisa melihat. Jika sudah menjadi sebuah keniscayaan atau aksioma bagi semua manusia bahwa tidaklah sama orang buta dan orang yang bisa melihat. Demikian pula tidak sama orang Mukmin yang bisa melihat kebenaran dan orang musyrik yang tiada bisa melihat kebenaran. Kemudian, Allah SWT membuat sebuah contoh perumpamaan lagi untuk mengilustrasikan kemusyrikan dan keimanan. Kemusyirikan laksana kegelapan yang gelap gulita dan keimanan adalah cahaya.
4. Allah SWT menutupi dan membutakan akal pikiran orang-orang musyrik. Mereka tetap tidak bisa diyakinkan dengan argumen, bukti, dan penjelasanpenjelasan tersebut. Bahkan, mereka justru tetap mengada-adakan untuk Allah SWT sekutu-sekutu yang tidak memiliki komponen esensial uluuhiyyah, yaitu menciptakan dan meng-adakan. Sekutusekutu itu lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan apa pun. Tidak akan mungkin sekutu-sekutu itu menciptakan ciptaan yang menandingi dan menyaingi ciptaan-ciptaan Allah SWT. Karena sekutu-sekutu itu tidak kuasa sedikit pun menciptakan. Seandainya alam ini memiliki dua pencipta, tentu terjadi ketidakjelasan mana hasil ciptaan pencipta yang ini dan mana hasil ciptaan pencipta yang satunya lagi, sehingga dengan cara apa untuk bisa mengetahui dan mendeteksi apakah ini adalah hasil perbuatan dan ciptaan salah satunya ataukah hasil perbuatan dan ciptaan kedua-duanya?!
Di sini, Allah SWT menghina orang-orang musyrik ketika mengadakan _ilahilah_ lain yang bisa menciptakan ciptaan ciptaan seperti ciptaan-ciptaan Allah SWT?! Mereka tidak bisa mengetahui manakah ciptaan Allah SWT dan manakah ciptaan _ilah-ilah_ mereka. Sekali lagi, ini adalah bahasa ejekan untuk mengejek mereka. Sejatinya, mereka melihat segala sesuatu adalah ciptaan Allah SWT bahwa _ilah-ilah_ tersebut tidak bisa menciptakan apa pun. Sekali pun begitu, mereka tetap saja menyembah _ilah-ilah_ palsu selain Allah SWT.
5. Allah SWT adalah Pencipta segala sesuatu. Karena itu, sudah menjadi keharusan dan sudah semestinya Dia disembah oleh segala sesuatu. Ayat ini menyanggah orang-orang musyrik dan juga kelompok _Qadariyyah_ yang menganggap bahwa mereka menciptakan seperti Allah SWT, bahwa yang menciptakan perbuatan-perbuatan mereka adalah mereka sendiri. Allah SWT adalah Yang Tunggal dan Esa sebelum segala sesuatu, Yang menguasai segala sesuatu, Yang kehendak-Nya mengalahkan semua yang berkehendak. Setelah semua itu, apakah masih bisa untuk mengatakan ada sesuatu yang menjadi sekutu Allah SWT?!
6. Ahlus Sunnah menjadikan ayat ini sebagai landasan dalil tentang penciptaan perbuatan. Yakni, perbuatan-perbuatan hamba adalah makhluk ciptaan Allah SWT, bahwa hamba tidak menciptakan perbuatannya sendiri, karena perbuatannya adalah sesuatu, sementara Allah Pencipta segala sesuatu. Akan tetapi, peran hamba dalam hal ini hanyalah sebagai pihak yang melakukan, mengusahakan, dan memilih apa yang diciptakan Allah SWT untuknya yang ingin ia lakukan.
Adapun kelompok _Muktazilah_ mereka mengatakan, sesungguhnya hamba melakukan dan membuat sesuatu terjadi. Namun kami tidak mengatakan, bahwa hamba menciptakan seperti ciptaan Allah SWT, tetapi hamba hanyalah melakukan untuk menarik suatu manfaat dan menolak mudharat. Allah SWT tersucikan dari semua itu. Namun pandangan mereka tidak berarti bahwa mereka menjadikan untuk Allah SWT sekutu-sekutu yang menciptakan seperti ciptaan-Nya.
*Al-Majbarah* mengatakan, esensi ciptaan Allah SWT adalah usaha dan perbuatan hamba. Ini adalah syirik yang sebenarnya. Karena jika begitu, Tuhan dan hamba dalam menciptakan perbuatan-perbuatan tersebut posisinya seperti dua sekutu, dan setiap sekutu memiliki hak pada perbuatan sekutunya.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
