AL-A'RAAF (55)
AL-A'RAAF: 178-179
FAKTOR-FAKTOR HIDAYAH DAN KESESATAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Kelompok _Muktazilah_ berpendapat bahwa petunjuk dan kesesatan itu berdasarkan pilihan manusia. Adapun ayat (وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ), adalah untuk orang-orang yang sudah ditutup hati mereka. Orang-orang yang Allah sudah mengetahui bahwa mereka tidak punya rasa kasih sayang, dengan melihat kepada kekafiran mereka yang sudah mendalam dan keengganan mereka untuk keluar dari kekafiran tersebut. Allah SWT juga sudah mengetahui bahwa dari mereka tidak akan muncul selain perbuatan-perbuatan ahli neraka sehingga Allah SWT sudah menjadikan mereka tercipta untuk neraka. Jadi, ayat tersebut menunjukkan terjerumusnya mereka dalam perbuatan-perbuatan yang membuat mereka berhak untuk masuk ke neraka dan sifat-sifat mereka yang menjadikan mereka layak menjadi penghuni neraka.
Sementara itu, kalangan _Ahlus Sunnah_ berpendapat bahwa ayat tersebut menunjukkan petunjuk dan kesesatan datang dari Allah SWT. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, niscaya tidak ada orang yang akan menyesatkannya. Siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya ia akan merugi karena apa yang dikehendaki oleh Allah SWT pasti akan terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi. Oleh karena itu, dalam hadits *Ibnu Mas'ud* yang diriwayatkan oleh *Imam Ahmad* dan pengarang kitab-kitab sunan disebutkan.
_“Sesungguhnya segala puji hanya bagi Allah, kami memuji, meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami juga berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan perbuatan kami. Siapa yang ditunjuki Allah tidak akan ada yang menyesatkannya. Siapa yang disesatkan Allah tidak akan ada yang akan memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”_ *(HR Imam Ahmad)*
*Imam Baidhawi* berkomentar tentang *firman Allah SWT, (مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِى ۖ وَمَن يُضْلِلْ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَـٰسِرُونَ)* Bahwa ayat ini merupakan penegasan petunjuk dan kesesatan dari Allah dan hidayah dari Allah akan diberikan kepada sebagian orang dan tidak kepada sebagian yang lain.
Adapun *firman Allah SWT (وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ)* menurut pendapat _Ahlus Sunnah,_ ayat ini bermakna bahwa Allah-lah yang menciptakan perbuatan atau amal. Jadi, orang-orang kafir itu menggunakan akal dan indra mereka untuk kepentingan dunia semata dan tidak menggunakannya untuk kepentingan agama. Mereka tidak menggunakan hati mereka untuk memahami segala sesuatu guna mewujudkan kemaslahatan agama, mereka tidak menggunakan penglihatan dan pendengaran mereka untuk sesuatu yang akan mewujudkan kemaslahatan agama mereka.
Jadi intinya, Allah SWT menciptakan di dalam diri seorang Mukmin potensi atau kemampuan untuk beriman dan menciptakan dalam diri seorang yang kafir potensi atau kemampuan untuk kafir. Seorang hambalah yang akan mengarahkan potensi atau kemampuan tersebut. Ia bisa mengarahkannya kepada keimanan atau kepada kekafiran. Allah SWT tidak pernah memaksa untuk memilih satu di antara dua pilihan tersebut, karena, seandainya Allah memakasa, tentu Allah SWT tidak bisa disebut adil dalam menghisab dan menghukum.
*Ibnu Katsir* dalam menafsirkan ayat (وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ), berkata, "Maksud ayat ini adalah: Kami telah menciptakan dan menyiapkan Jahannam sebagian besar dari kalangan jin dan manusia karena mereka beramal sesuai dengan amal ahli neraka. Sesungguhnya ketika Allah SWT ingin menciptakan para makhluk. Dia telah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan nanti sebelum Dia menciptakan mereka. Dengan demikian, hal tersebut telah ditulis oleh-Nya dalam sebuah kitab lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi sebagaimana disebutkan dalam hadits *Shahih Muslim* dari *Abdullah bin Amru*, bahwa *Rasulullah saw. bersabda.*
_“Sesungguhnya Allah telah menentukan takdir semua makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi dimana ‘Arasy Allah ketika di atas air.”_ *(HR Muslim)*
Kesimpulannya, kalangan _Muktazilah_ berpendapat bahwa manusia yang menciptakan perbuatannya sendiri dan manusia itu bebas secara mutlak (dalam menentukan pilihannya). Kalangan _Ahlus Sunnah wal Jama'ah_ berpendapat bahwa Allah SWT-lah yang menciptakan segala perbuatan seorang hamba, namun manusia memiliki pilihan dan usaha dalam banyak hal selain masalah hidup, mati, kemuliaan, kehinaan, rezeki dan hal-hal mendasar lainnya. Karena Allah SWT adalah Pencipta makhluk dan memiliki sifat adil, Dia-lah yang menciptakan perbuatan manusia. Merupakan sebuah kezaliman kalau Dia menghisab manusia atas suatu perbuatan yang ia dipaksa untuk melakukannya.
Hidayah (petunjuk) dari Allah SWT itu memiliki dua pengertian, bermakna arahan dan bermakna pemberian kemampuan untuk sampai pada tujuan. Maksudnya, Allah SWT menunjukkan manusia dan mengarahkannya ke jalan kebaikan,
_"Dan Kami tunjukkan padanya dua jalan,"_ *(al-Balad: 10)*
lalu, Allah memberikan ia pertolongan untuk sampai kepada tujuannya dengan hidayah yang lain. Misalnya, seseorang yang bertanya kepada polisi tentang sebuah jalan, lalu polisi tersebut menerangkan letak jalan tersebut, itulah hidayah pertama. Apabila polisi itu memberi tumpangan kepadanya dan mengantarkannya ke tempat yang ditujunya, itulah hidayah kedua. Manusialah yang mengarahkan potensi-potensi kebaikan dan keburukan yang telah Allah ciptakan di dalam dirinya kepada masing-masing keduanya; baik kepada kebaikan maupun keburukan. Dengan pengarahan itulah, Allah akan menghisab dan menyiksanya.
Para ulama berdalilkan dengan *firman Allah,*
_“Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah),"_ *(al-A'raaf: 179)*
bahwa tempat ilmu adalah hati karena Allah SWT menafikan pemahaman dari hati mereka ketika mencela mereka. Inilah yang menunjukkan bahwa tempat pemahaman adalah hati.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
