SURAH AL-A'RAAF: 175-177

AL-A'RAAF (54)

AL-A'RAAF: 175-177

KISAH BAL’AM BIN BA’URA' DAN ORANG-ORANG SESAT YANG MENDUSTAKAN AYAT-AYAT ALLAH SWT

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Tujuan dari kisah ini adalah untuk memberikan perumpamaan kepada orang kafir yang berpaling dari iman kepada Allah dan Rasul-Nya setelah mereka mengetahui yang haq. Siapa yang diberi oleh Allah ilmu dan agama, lalu ia lebih cenderung dan cinta kepada dunia, ia mirip dengan hewan yang paling hina, yaitu anjing yang biasa menjulurkan lidahnya yang biasa melakukan sesuatu yang hina dan rendah, baik karena kebutuhannya maupun tidak.

Sifat seorang yang kafir disamakan dengan sifat seseorang yang mengetahui ayat-ayat Allah lalu ia meninggalkannya. Hal ini sangat cocok dengan kondisi Bal’am bin Ba’ura atau orang lain yang memiliki sifat seperti ini. Ayat ini tidak menyebutkan nama orang yang dijadikan sebagai objek perumpamaan. Dengan demikian, tidak terlalu penting untuk menjajaki apakah ia sesuai dengan beberapa riwayat yang mengatakan bahwa Bal’am itu adalah seorang ulama dari kalangan Bani Israil atau dari kalangan Kan'an, atau dari penduduk Yaman dan lain sebagainya.

Substansi ayat ini adalah sebagai peringatan bagi manusia untuk tidak mengikuti hawa nafsu mereka, mencintai dunia, dan segala kesenangannya, mengejar segala sesuatu yang rendah dalam pandangan agama dan meninggalkan apa yang ditunjukkan ayat-ayat Allah untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan hari akhirat. Ayat tersebut jelas sekali menunjukkan bahwa seorang yang berpaling dari ayat-ayat Allah akan terjerumus dalam kesesatan disebabkan perbuatannya yang buruk dan pilihannya untuk melakukan sesuatu yang tidak terpuji secara agama dan kemanusiaan.

Setiap manusia seharusnya mengambil pelajaran dari kisah ini, merenungi dan memikirkan ayat-ayat Allah dengan cahaya mata hati dan pikiran, bukan dengan hawa nafsu, sifat dengki, dan permusuhan. Dalam penyampaian perumpamaan ini dan penyamaan dengan sesuatu yang sangat nyata terkandung isyarat bahwa berbagai perumpamaan itu memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam meyakinkan setiap pendengar, bahkan pengaruhnya lebih kuat daripada argumen-argumen yang bersifat logis.

Di samping itu, hal ini juga mengandung isyarat tentang pentingnya berpikir,—bahwa berpikir adalah pondasi untuk sampai kepada hakikat, ilmu, dan pengetahuan yang benar, sebagaimana yang difirmankan Allah SWT,

_"Sungguh, padayang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir."_ *(az-Zumar: 42)*

Dan *firman Allah SWT,*

_"Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir."_ *(Yuunus: 24)*

Ayat tersebut di atas—sebagaimana dikatakan oleh Imam ar-Razi—merupakan ayat yang paling berat dan keras terhadap orangorang yang berilmu, sebab seorang yang berilmu apabila tidak mengamalkan ilmunya, ia tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu dan ia akan sangat jauh dari Allah SWT.

Sebagaimana diriwayatkan juga oleh *ad-Dailami* dalam kitab _al-Firdaus_ dari *Ali r.a*., bahwa *Rasulullah saw. bersabda.*

مَنْ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ زُهْدًا لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا.

_“Siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak bertambah kezuhudannya, ia hanya akan bertambah jauh dari Allah SWT.”_ *(HR ad-Dailami)*.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login