AL-A'RAAF (56)
AL-A'RAAF: 180
ASMA’UL HUSNA MILIK ALLAH SWT
SEBAB TURUNNYA AYAT
Diriwayatkan bahwa beberapa kaum Muslimin berdoa kepada Allah di dalam shalat dengan menggunakan lafal Allah, terkadang dengan lafal ar-Rahim dan terkadang dengan lafal ar-Rahman. Melihat hal itu kaum musyrikin berkata, "Muhammad dan para pengikutnya mengatakan bahwa mereka menyembah satu Tuhan. Tapi kenapa orang-orang ini berdoa kepada lebih dari satu?" Allah SWT menurunkan ayat ini yang mengandung penegasan bahwa nama-nama tersebut adalah milik Tuhan yang satu dan bukan Tuhan yang berbilang.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat di atas menjelaskan beberapa hal sebagai berikut:
1. Asma' al-Husna hanya milik Allah SWT semata, karena *firman Allah SWT (وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ)* ayat ini mengandung makna _al-hashr_ (pengkhususan atau pembatasan)
2. Nama-nama Allah itu hanya milik Allah SWT semata dan sifat-sifat yang baik dan mulia hanya milik Allah SWT semata. Oleh karena itu, ia mesti bersifat mulia dan sempurna. Artinya, setiap nama yang tidak memberikan makna sempurna dan agung kepada objek yang dinamakan tidak boleh dilekatkan kepada Allah SWT.
(ٱلْأَسْمَآءُ) adalah lafal yang menunjukkan kepada makna-makna tertentu. Dengan demikian, nama-nama itu dikatakan baik apabila makna dan pengertian yang dikandungnya baik. Pengertian baik dalam hubungannya dengan Zat Allah adalah dengan menyebutkan sifat-sifat yang Mahasempurna dan Mahaagung, semua itu tersimpul dalam dua hal: ketidakbutuhan-Nya kepada yang lain dan kebutuhan setiap yang lain kepada-Nya. Semua nama Allah SWT boleh saja digunakan kepada yang lain kecuali dua nama-Nya yaitu Allah dan ar-Rahman.
Di antara nama-nama tersebut ada yang bisa disebutkan secara tunggal seperti, ya Allah, ya Rahman (Maha Pengasih), ya Haqim (Mahabijaksana), dan ada yang tidak boleh disebutkan secara tunggal, melainkan mesti digandengkan dengan nama yang lain, seperti, ya Muhyi ya Mumit (wahai Yang Menghidupkan dan Mematikan), ya Dharrya Nafi (wahai Yang Memberi Mudharat dan Memberi Manfaat). Tidak boleh melekatkan satu nama pun kepada Allah SWT, selain yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah karena nama-nama itu bersifat _tawqifiyyah_. Nama-nama itu juga tidak terbatas sejumlah 99 saja, dengan dalil hadits yang diriwayatkan oleh *Imam Ahmad dan Abu Hatim Ibnu Hibban* dalam Shahih-nya dari *Abdullah bin Mas'ud* dari *Rasulullah saw.*, bahwa beliau bersabda:
_“Tidaklah seorang pun ditimpa rasa gelisah atau kesedihan lalu ia berkata, “Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu (maksudnya ayah), anak dari hamba-Mu (maksudnya ibu), ubun-ubunku ada dalam genggaman-Mu, keputusan-Mu berlaku terhadapku, ketentuan-Mu sangat adil terhadapku, aku meminta pada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengan nama-nama itu, atau engkau turunkan di dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan pada salah seorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu gaib milik-Mu, mohon kiranya Engkau jadikan Al-Quran yang mulia ini sebagai penyejuk hatiku, cahaya jiwaku, pelerai kesedihanku, menghilangkan kegundahanku,” melainkan Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegundahannya, dan akan menggantinya dengan kelapangan" Ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami mempelajarinya?" Rasulullah saw. menjawab, “Boleh, semestinyalah setiap orang yang mendengarkannya untuk mempelajarinya."_ *(HR Imam Ahmad dan Ibnu Hibban)*
*Ibnu Arabi* menyebutkan 146 nama-nama Allah untuk digunakan dalam doa dan munajat. Dalam kesempatan lain ia menyebutkan 30 nama lagi. Jadi, seluruhnya berjumlah 174. ada nama-nama seperti _ath-Thayyib_ (Mahabaik), _al-Mu'allim_ (Maha Mengajarkan), _al-Jamil_ (Mahaindah), yaitu yang tidak menyerupai sesuatupun.
3. Allah SWT memiliki nama-nama yang baik. Dengan demikian, seorang hamba mesti berdoa kepada-Nya dengan nama-nama tersebut. Ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah SWT bersifat _tawqifi_, bukan istilah yang bisa dibuat-buat sebagaimana dijelaskan di atas. Jadi, boleh dikatakan: _ya Jawwad_ (wahai Yang Maha Pemurah), tapi tidak boleh dikatakan: _ya Sakhiy_ (wahai Yang Mahadermawan), _ya Aqil_ (wahai Yang Mahacerdas), _ya Thabib_ (wahai Mahapenyembuh), _ya Faqih_ (wahai Maha Memahami).
4. Nama-nama yang tidak memiliki sebutan karena terlalu banyaknya nama Allah, dan jelas bahwa Allah SWT adalah tunggal atau esa. Jadi, sudah pasti bahwa nama itu berbeda dengan objek yang dinamakan.
Oleh karena itu, para ulama mengatakan yang dimaksud dengan nama-nama ini adalah penamaan karena Allah SWT adalah Esa sementara nama-Nya banyak. Ibnu Athiyyah menyebutkan di dalam tafsirnya bahwa nama-nama di dalam ayat tersebut artinya adalah penamaan, dan ini adalah kesepakatan para ahli tafsir tidak boleh ada pendapat yang berbeda dengan ini.
Jadi pengertian dari ayat (وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ) adalah penamaan-penamaan yang baik dengan itu Allah diseru, bukan dengan yang lain. Ada yang mengatakan maknanya adalah "Dan milik Allah sifat-sifat yang baik,” dan nama itu sama dengan objek yang dinamakan atau sifat yang berhubungan dengan-Nya dan itu bukanlah penamaan.
5. Allah SWT menyebut nama-nama-Nya sebagai _Asma' al-Husna_ (nama-nama yang baik) karena nama-nama itu terasa baik didengar dan dihayati karena ia bermakna pengesaan eksistensi-Nya, rahmat-Nya, dan karunia-Nya.
6. Seorang hamba tidak boleh menyeru Tuhannya kecuali dengan menggunakan nama-nama yang baik. Dengan demikian, penyebutan doa tersebut menuntut adanya pemahaman terhadap makna namanama tersebut. *Ibnu al-Arabi* di dalam kitab Ahkaam Al-Qur'an dan ulama lainnya telah menerangkan makna-makna tersebut. Jadi berdoalah kepada Allah sesuai dengan makna nama-nama-Nya. Misalnya: (يَا رَحِيمُ ارْحَمنِي) _"Wahai Yang Maha Pengasih, kasihilah aku."_ (يَاحَكِيمُ احْكُمْلِي) _"Wahai Yang Mahabijaksana, menangkanlah perkaraku."_ (يَا رَزَّا قُ ارُْقُنِي) _"Wahai Zat Pemberi rezeki, berilah aku rezeki."_ (يَا هَادِي اهْدِنِي) _"Wahai Pemberi hidayah, tunjukilah aku."_ Jika hendak berdoa dengan nama yang bersifat umum bisa dengan mengatakan, (يَا مَالِكُ ارْحَمْنِي) _"Wahai Maha Raja, kasihilah aku."_ (يَاعَزِيزُ احكم لِي) _"Wahai Zat Mahaperkasa, menangkanlah aku_.(يَ لَطِيفُ ارْزُقْنِي) _"Wahai Zat Maha Lembut, berilah aku rezeki."_ Jika berdoa dengan nama Allah yang Mahaagung, maka katakanlah, (يَا اللَّهُ) _"Ya Allah."_ Nama ini mencakup nama-nama yang lain. *Ibnu al-Arabi* berkata, "Demikianlah seterusnya, susunlah doamu, niscaya engkau akan menjadi hamba yang ikhlas."
7. Wajib menyucikan Allah SWT dari sikap _Ilhaad_ (penyimpangan) dalam nama-nama-Nya yang tampak dalam tiga bentuk.
_Pertama,_ dengan menggunakan nama-nama Allah yang suci untuk selain Allah, seperti orang-orang kafir yang menamakan patung-patung sebagai Tuhan lalu menamakan patung-patung itu dengan nama Latta, Uzza, dan Manat yang terambil dari kata-kata llah, Aziz, dan Mannan. Musailamah al-Kadzdzab menamakan dirinya dengan ar-Rahman. _Kedua_, menamakan Allah SWT dengan nama-nama yang tidak boleh dilekatkan pada-Nya seperti menamakan-Nya sebagai Bapak bagi al-Masih dan penamaan-penamaan yang dibuat oleh orang Nasrani: Bapa, Anak, dan Ruhul Kudus.
_Ketiga_, seorang hamba menyebut Tuhannya dengan menggunakan lafal yang tidak ia mengerti maknanya dan tidak pula ia pahami nama yang diucapkannya karena boleh jadi nama yang diucapkannya adalah sesuatu yang tidak layak dan pantas dengan keagungan Allah SWT.
Ayat di atas diakhiri dengan kalimat (سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ) Ini adalah ancaman terhadap orang-orang yang berlaku _Ilhaad_ dalam nama-nama Allah SWT.
Kalangan _Muktazilah_ mengatakan, ayat ini menegaskan bahwa amal perbuatan itu ada di tangan hamba dan bahwa balasan merupakan hasil dari amal dan perbuatannya.
Doa sangat dianjurkan dan merupakan sebuah ibadah. *Allah SWT berfirman,*
_"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku._ *(al-Baqarah: 186)*
Tidak boleh berdoa kepada siapa pun selain Allah, baik makhluk hidup maupun mati. Hanya Allah semata yang boleh diminta dan dituju dalam doa, karena Dia-lah tempat minta pertolongan. *Dia berfirman,*
_"Bukankah Dia (Allah)yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?"_ *(an-Naml: 62)*
Artinya, tidak ada yang akan menjawab seseorang yang dalam kesulitan kecuali Dia. Hanya Dia yang berhak untuk disembah dan dituju dalam doa.
Manfaat dari perintah untuk mengingat Allah SWT dalam ayat ini ( فَٱدْعُوهُ بِهَا ۖ), sangatlah banyak, di antaranya untuk mengukuhkan fondasi keimanan dan membangunnya, mewujudkan sifat muraqabatullah (merasa senantiasa dikontrol Allah SWT), dan khusyuk dalam beribadah kepada-Nya, selalu berharap kepada apa yang di sisi-Nya, dan menganggap kecil segala hal yang berhubungan dengan dunia dan kelezatannya dan sebagainya.
*Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa’i* meriwayatkan.
_“Siapa yang ditimpa rasa gundah, kesempitan atau masalah yang pelik, maka hendaklah ia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah Yang Mahaagung dan Penyantun, tidak ada Tuhan selain Allah Tuhan ‘Arasy yang agung, tiada Tuhan selain Allah Tuhan langit dan bumi dan Tuhan Arasy yang mulia!"_ *(HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan an-Nasa’i)*
*Imam al-Hakim* dalam kitab _al-Mustadrak_ meriwayatkan dari *Anas r.a*., ia berkata, *Rasulullah saw. bersabda kepada Fathimah,*
_“Apa yang menghalangimu untuk mendengarkan apa yang aku pesankan padamu? Yaitu agar engkau mengatakan setiap pagi hari dan setiap sore hari, “Wahai Zat Yang Maha Hidup, wahai Zat Yang Maha Berdiri, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan, perbaikilah kondisiku, dan jangan serahkan aku pada diriku sendiri walau sekejap mata!"_ *(HR al-Hakim)*.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
