AL-A'RAAF (35)
AL-A'RAAF: 127-129
KONSPIRASI FIR'AUN DAN PARA PEMBANTUNYA TERHADAP MUSA DAN KAUMNYA. NASIHAT MUSA KEPADA KAUMNYA DAN DIALOG YANG TERJADI ANTARA MEREKA DENGANNYA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Tidak jauh berbeda, realitas sejarah antara dahulu, sekarang, dan masa yang akan datang dalam kaitannya dengan hubungan antara orang-orang kaya dan orang-orang lemah. Setiap yang memiliki kekuatan dan kekuasaan akan selalu berpegang dan bersandar pada kekuasaan dan kekuatannya lalu ia akan menebarkan rasa takut dan kecemasan pada manusia, kemudian memberikan peringatan-peringatan yang keras serta ancaman-ancaman.
Orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari kekuasaan, tindak-tanduk, ucapan, dan aktivitas mereka adalah sama dengan aktivitas kekuasaan itu sendiri. Oleh karena itu, para pemuka kaum Fir'aun menghasutnya untuk membinasakan Musa dan Bani Israil.
Fir'aun pun segera dan tanpa berpikir panjang menerima hasutan tersebut sehingga, ia kembali menyiksa Bani Israil dengan membunuh anak laki-laki mereka yang baru lahir, kemudian meningkatkan pengontrolan terhadap mereka agar mereka selalu dalam kondisi lemah, hina, ketakutan, dan tunduk serta patuh kepada para penguasa.
Sementara itu, Musa ketakutan setiap kali Fir'aun melihatnya. Oleh karena itu, ia tidak pernah mengganggunya dan kaumnya tidak mengetahui hal tersebut. Mereka (kaum atau orang-orang dekat Fir'aun) kemudian memaksanya untuk menangkap dan memenjarakan Musa, namun ia tidak melakukannya karena tidak ada perhatian sama sekali dan karena ia tidak takut kepadanya secara zahir.
Adapun orang-orang lemah di bawah kepemimpinan Musa, mereka tidak punya harapan selain kepada Allah SWT. Mereka tidak punya tempat bernaung selain padaNya. Oleh karena itu, Musa meminta kaumnya untuk memohon bantuan dan pertolongan dari Allah SWT dan selalu bersikap sabar. Jika mereka jujur dalam keimanan mereka dan sabar terhadap berbagai cobaan, niscaya Allah SWT akan memberikan pada mereka kemenangan dan memberikan mereka akhir yang baik karena ketakwaan mereka.
Musa memerintahkan dua hal kepada mereka dan juga memberi dua kabar gembira. Dua hal yang ia perintahkan pada mereka adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT dan sabar terhadap berbagai cobaan dari-Nya. Mengapa Musa memerintahkan mereka pertama sekali untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT? Karena seeorang yang meyakini bahwa tidak ada yang mengatur di alam ini selain Allah SWT, jiwanya akan tenang dengan cahaya makrifat Allah SWT.
Ketika itu terjadi, semua bentuk siksaan dan cobaan akan ringan baginya karena ia meyakini bahwa ketika sebuah cobaan turun, sesungguhnya ia terjadi dengan qadha dan qadar Allah SWT.
Adapun dua berita gembira yang disampaikan Musa kepada mereka. _Pertama,_ pewarisan (pemberian) bumi atau daerah. Ini merupakan harapan dari Musa bagi kaumnya agar Allah SWT memberikan daerah kekuasan Fir'aun kepada mereka setelah ia dibinasakan. Makna dari pewarisan di sini adalah menjadikan sesuatu untuk _khalaf_ (orang kemudian) setelah sebelumnya untuk _salaf_ (orang sebelumnya). _Kedua,_ perkataannya (وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ) Akhir yang baik dan kesudahan yang utama itu hanya untuk setiap orang yang bertakwa kepada Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia dalam bentuk perluasan dan kemenangan terhadap musuh. Sedangkan, dalam bentuk kenikmatan surga.“
Akan tetapi, jiwa manusia biasanya lebih takut kepada orang yang memiliki kekuasaan. Bani Israil merasa takut karena sebelum Musa datang mereka telah disiksa dan dihinakan oleh Fir'aun. Fir'aun mengambil upeti dari mereka, memanfaatkan mereka untuk kerjakerja berat, menghalangi mereka dari berbagai bentuk kesenangan, membunuh anak lakilaki mereka, dan membiarkan hidup anakanak perempuan mereka. Ketika Musa diutus, harapan mereka semakin kuat akan lenyapnya segala bentuk siksaan dan petaka. Namun ketika mereka mendengar ancaman Fir'aun, mereka semakin takut dan resah sehingga mereka berucap (أُوذِينَا مِن قَبْلِ أَن تَأْتِيَنَا).
Sementara itu. Nabi Musa a.s. menyampaikan kabar gembira tentang akan dibinasakannya Fir'aun. Ia menguatkan hati mereka dengan janji dari Allah SWT untuk menjadikan mereka khalifah di muka bumi agar mereka bertahan dengan kesabaran dan tidak resah atau putus asa yang tidak terpuji sama sekali.
Kemudian, ia menjelaskan semuanya dengan berkata (ِ فَيَنظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ) Maksudnya, melakukan apa yang telah ia nasihatkan berupa taat kepada Allah SWT, selalu siap untuk mensyukuri nikmat, dan hilangnya bencana. Semua janji itu terbukti dengan ditenggelamkannya Fir'aun dan berbagai siksaan yang diturunkan padanya sebagaimana dijelaskan pada ayat-ayat selanjutnya.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
