SURAH AL-A'RAAF: 123-126

AL-A'RAAF (34)

AL-A'RAAF: 123-126

ANCAMAN FIR'AUN TERHADAP PARA AHLI SIHIR DAN KETEGUHAN MEREKA UNTUK BERIMAN KEPADA ALLAH SWT

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Fir'aun mencoba menyelamatkan dirinya dari rasa malu karena kalah. Ketika ia melihat orang yang paling mengetahui sihir telah mengakui kenabian Musa di hadapan manusia banyak, ia takut hal tersebut akan menjadi alasan paling kuat bagi kaumnya tentang kebenaran kenabian Musa a.s.. Dengan demikian, saat itu juga ia melemparkan dua _syubhat_ (kerancuan pemikiran) kepada orang-orang awam.

_Syubhat pertama_: ia mengatakan (إِنَّ هَـٰذَا لَمَكْرٌۭ مَّكَرْتُمُوهُ فِى ٱلْمَدِينَةِ). Artinya, _sesungguhnya iman orang-orang tersebut kepada Musa a.s. bukan karena kekuatan dalil, melainkan sekadar konspirasi yang dilakukan oleh Musa untuk beriman padanya dan mengakui kenabiannya._

_Syubhat kedua_: tujuan dari konspirasi itu adalah untuk mengeluarkan kaum Fir'aun (orang Mesir asli) dari daerah mereka lalu merebut daerah tersebut untuk kemudian menguasainya (maksudnya Mesir). Tentu saja berpisah dengan tanah air dan kesenangan yang selama ini dirasakan adalah sesuatu yang sangat sulit.

Demikianlah, Fir'aun menghimpun kedua syubhat tersebut untuk menutupi dampak dari kekalahannya dan berusaha mempertahankan pengikutnya yang berada di sekitarnya. Kemudian, Fir'aun melanjutkan syubhat tersebut dengan ancaman terhadap para ahli sihir untuk menyiksa, memotong tubuh, dan menyalib mereka.

*Ibnu al-Arabi* mengatakan, "Ini menunjukkan bahwa penyaliban dan pemotongan tangan dan kaki secara bersilang merupakan bentuk siksaan yang sudah mengakar dalam diri manusia yang diadopsi dari hukum-hukum terdahulu lalu mereka selewengkan sampai kemudian Allah SWT menjelaskannya dalam agama Islam dan menjadikannya sebagai siksaan yang paling berat untuk dosa yang juga paling berat yaitu hukuman bagi para komplotan penyamun (_hirabah_).

Akan tetapi, kebodohan Fir'aun dan para pembantunya serta semua orang kafir membuat mereka tidak memahami apa dampak dari keimanan yang benar dan dalam yang mampu menampakkan hal-hal yang ajaib. Keimanan seperti ini, membuat mereka tidak peduli dengan kematian. Mereka bahkan memohon kepada Allah untuk tetap tegar dalam Islam dan diberikan kesabaran yang melimpah meskipun mereka dipotong dan disalib.

Karena iman kepada agama yang benar dan sabar terhadap berbagai cobaan dan siksaan, merupakan ciptaan Allah SWT, sebagaimana pendapat _Ahlus Sunnah_, maka terarahnya keinginan manusia untuk mengambil kedua hal tersebut (iman dan sabar, pent) dan memohon bantuan Allah untuk tetap tegar dalam Islam merupakan bukti keberhakan seorang hamba memperoleh pahala sesuai dengan arah dari keinginannya itu.

Karena seandainya iman itu hanya sebatas pemberian dari Allah semata, tentu tidak ada alasan untuk memberi pahala seorang yang beriman dan menyiksa seorang yang kafir.

Sikap para ahli sihir, bagaimana mereka mengumumkan keimanan mereka dengan penuh keberanian dan ketegaran, membuktikan jika manusia mampu lepas dari hawa nafsunya dan mengikuti akal sehat serta pikiran yang jernih, niscaya ia akan segera menyatakan keimanannya ketika melihat bukti-bukti yang nyata di hadapannya. Ketegaran para ahli sihir itu dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam keimanan tersebut menjadi salah satu fenomena, yang menunjukkkan bahwa iman yang terhunjam dalam jiwa jauh lebih mulia dan kukuh daripada gunung-gunung yang tak tergoyahkan.

Banyak pengalaman dan sejarah dulu hingga sekarang membuktikan bahwa orangorang yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir adalah orang-orang yang paling tegar, berani, dan sabar di saat-saat sulit, bahaya, dan dalam kondisi peperangan. Contohnya, sangat banyak dalam sejarah Islam. Kalau dahulu tampak pada berbagai penaklukan Islam, sekarang tampak pada konfrontasi dengan Yahudi dan orang-orang sejenis mereka di Palestina, Aljazair, India, Afghanistan, dan lain-lain.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login