AL-A'RAAF (33)
AL-A'RAAF: 117-122
BERIMANNYA PARA AHLI SIHIR KEPADA TUHAN SEMESTA ALAM
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas merupakan bukti yang sangat jelas terhadap kekuasaan Allah SWT dengan memusnahkan tali-tali dan tongkat-tongkat para ahli sihir. Hal ini menunjukkan eksistensi Tuhan Yang Maha Berkuasa dan Berkehendak dan juga bukti terhadap mukjizat Nabi Musa yang menakjubkan serta pembeda yang tegas antara kebenaran dan kebatilan.
Akan tetapi, masalahnya ada pada sikap dan komitmen manusia. Orang-orang yang membangkang yang dalam hal ini adalah Fir'aun dan kaumnya meskipun telah kalah dan hina, tetap saja bertahan dalam kekafiran, pembangkangan, dan pendustaan. Ini adalah bentuk keangkuhan, kerendahan pikiran, dan kesombongan mereka untuk menerima kebenaran.
Para ahli sihir, secara lahir adalah orangorang sederhana, namun pada hakikatnya mereka adalah orang-orangyang menggunakan akal sehat, tahu bahwa apa yang ditampakkan oleh Musa bukanlah termasuk sihir, melainkan sebuah mukjizat dari Allah, sehingga mereka tidak mampu menahan diri mereka lalu mereka tersungkur sambil bersujud dan tunduk kepada Tuhan alam semesta.
Alangkah bagusnya kalau manusia mencontoh sikap para ahli sihir tersebut dan menolak sikap Fir'aun beserta para pengikutnya. Hal ini dikarenakan para ahli sihir tersebut adalah orang-orang yang mahir dalam ilmu mereka, yaitu dalam ilmu sihir dan menguasai semua bentuk sihir dan jenis-jenisnya. Oleh karena kemahiran, kehebatan, dan kesempurnaan ilmu mereka tentang sihir itulah, mereka akhirnya pindah dari kafir menjadi iman.1#
1#)- Maksudnya, kesempurnaan ilmu mereka di bidang sihir membuat mereka bisa membedakan mana yang sihir dan mana yang bukan sihir, sehingga mereka akhirnya mengikut Nabi Musa karena mereka tahu bahwa apa yang dilakukannya tidak termasuk sihir seperti yang mereka kuasai, melainkan ia datang dari langit, pent.
Kalangan _Ahlus Sunnah_ mengatakan bahwa *firman Allah SWT (وَأُلْقِىَ ٱلسَّحَرَةُ سَـٰجِدِينَ )* menunjukkan bahwa ada "pihak lain" yang membuat mereka tersungkur dan bersujud. Pihak lain tersebut tidak lain adalah Allah SWT, Tuhan semesta alam. Ini mengisyaratkan bahwa perbuatan seorang hamba pada hakikatnya adalah penciptaan Allah SWT. Jadi, Allah-lah yang menciptakan kecendrungan untuk beriman di dalam hati mereka sehingga ketika mereka telah mengenal Allah SWT, saat itu mereka langsung bersujud kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur kepadaNya atas kemenangan mendapatkan ma’rifat (mengenali Allah SWT) dan keimanan. Hal tersebut menjadi pertanda berbaliknya mereka dari kafir menjadi iman dan menampakkan ketundukkan serta kehinaan hanya kepada Allah SWT semata.
Ketika mereka mengatakan (رَبِّ مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ ). Hilanglah keraguan yang mungkin timbul dari kata-kata "Tuhannya Musa," dan jelaslah bahwa yang mereka maksud bukanlah Fir'aun yang pernah mengasuh Musa2#. Maksud mereka adalah Tuhan langit dan mereka menyatakan kafir terhadap Fir'aun.
2#)- Karena kata-kata rabb "Tuhan” bisa juga dipakai untuk makna mengasuh, pent.
Karena ketika mereka mengatakan (ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ) Fir'aun berkata kepada mereka, "Akukah yang kalian maksudkan?" Lalu ketika mereka mengatakan (رَبِّ مُوسَىٰ). Fir'aun masih mengatakan, "Akukah yang kalian maksudkan? Karena aku yang telah mengasuh Musa.
Namun, ketika mereka mengatakan (وَهَـٰرُونَ), hilanglah keraguan tersebut dan semua orang yang hadir pun tahu bahwa mereka (ahli sihir itu) telah kafir kepada Fir'aun dan beriman kepada Tuhan langit.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
