SURAH AL-A'RAAF: 103-116

AL-A'RAAF (32)

AL-A'RAAF: 103-116

KISAH NABI MUSA A.S. DENGAN FIR'AUN BESERTA PEMBESAR-PEMBESARNYA

Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Kisah Nabi Musa:

Syari'at yang diwahyukan kepada Nabi Musa pada dasarnya memiliki kesamaan dengan syari'at Islam. Sejarah umatnya penuh dengan berbagai gejolak, keguncangan, dan peristiwa-peristiwa yang dahsyat. Dalam beberapa fase sejarah, umat Nabi Musa memiliki kekuasaan yang cukup besar dan andil dalam peradaban umat manusia.

Kisah Nabi Musa bersama Bani Israil mengandung berbagai pelajaran dan ibrah sebagai berikut.

1. Allah menyelamatkan Nabi Musa dari upaya pembunuhan ketika ia masih bayi lalu ia dihanyutkan oleh ibunya di Sungai Nil. Kemudian, Allah mengembalikannya kepada ibunya untuk disusuinya. Ini merupakan bentuk penjagaan dan perhatian Allah kepada Nabi Musa dan kasih sayang-Nya terhadap ibunya.

2. Nabi Musa tumbuh dan berkembang di istana Fir'aun, padahal ia adalah seseorang yang beriman kepada Allah dan salah seorang nabi yang tergolong dalam _ulul ‘azmi_ (nabi-nabi yang memiliki tekad yang membaja dan mendapat berbagai cobaan yang sangat berat, pent). Sementara itu, Samiri yang diasuh oleh Jibril malah menjadi seorang yang kafir dan membuat penyembahan terhadap anak sapi.

3. Hijrahnya Nabi Musa atau keluarnya dari negeri Mesir atas nasihat seorang laki-laki dari pinggir kota untuk meninggalkan Mesir mengandung kebaikan yang sangat banyak karena setelah itu, ia menjadi menantu Nabi Syu'aib a.s. dan Allah SWT mengangkatnya menjadi seorang Nabi. Nasihat tersebut merupakan salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Allah kepadanya melalui orang tersebut. Nasihat itulah yang menjadi faktor keselamatannya dan diangkatnya ia menjadi seorang utusan Allah SWT. Demikianlah, setiap orang yang bertawakal kepada Allah SWT niscaya Allah akan memelihara dan menjaganya.

4. Kekuatan dan konspirasi manusia tidak akan berpengaruh terhadap seseorang selama ia diliputi oleh penjagaan Allah, bahkan kezaliman dan kekuatan Fir'aun serta para pembesarnya tidak pernah berhasil menghancurkan Nabi Musa. Perhatikan dialog yang tajam ini, ketika Fir'aun berkata kepada Nabi Musa,

Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa sembilan mukjizatyang nyata maka tanyakanlah kepada Bani Israil, ketika Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun berkata kepadanya, _"Wahai Musa! Sesungguhnya aku benar-benar menduga engkau terkena sihir."_ *(al-Israa’: 101)*

Nabi Musa menjawab dengan penuh ketenangan dan kesabaran setelah mendengarkan debat Fir'aun yang sarat kebatilan.

Dia (Musa) menjawab, _“Sungguh, engkau telah mengetahui, bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Fir'aun."_ *(al-Israa': 102)*

5. Kelapangan Allah akan datang setelah kesulitan dan kesempitan. Bantuan dari *_al-Haqq_* (Zat yang Mahabenar) akan datang ketika kondisi sudah sangat kritis. Musa dibela oleh seorang laki-laki beriman yang masih termasuk menjadi kerabat Fir'aun yang merahasiakan imannya. Laki-laki tersebut memperingatkan Fir'aun dan keluarganya akan kemurkaan Allah SWT dengan tanpa rasa takut dan tidak peduli dengan kekuasaan serta kezaliman Fir'aun. la memberikan contoh dengan umat-umat yang terdahulu. *Allah berfirman:*

_"Seorang laki-laki yang beriman di antara keluarga Fir'aun yang merahasiakan imannya berkata, "Apakah kalian akan membunuh seseorang yang mengatakan, "Tuhanku adalah Allah"padahal ia datang membawa keterangan yang jelas dari Tuhan kalian?"_ *(al-Mu’min: 28-35)*

6. Apabila keindahan dan kelezatan iman telah menghiasi jiwa, seluruh kesulitan dan musibah akan tampak ringan. Oleh sebab itu, para tukang sihir beriman kepada Tuhannya Nabi Musa tanpa memedulikan kemarahan dan kezaliman Fir'aun.

7. Kesabaran adalah kunci kelapangan dan akhir yang baik karena sesungguhnya Bani Israil telah bersabar terhadap kezaliman Fir'aun ketika ia membunuh anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan. Atas kesabaran mereka, Allah memberikan balasan kebaikan kepada mereka, dalam *firman-Nya:*

_“Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka."_ *(al-A'raaf: 137)*

Mereka juga pernah diserang oleh Romawi di bawah komando Panglima Titus. Pasukan Romawi tersebut menghancurkan tempat ibadah suci Bani Israil dan kuil agung mereka setelah tahun 71 SM. Kemudian, mereka meninggalkan Palestina dan kembali lagi ke sana setelah wafatnya Nabi Musa lalu mereka mendirikan kerajaan Ariha serta menguasai beberapa daerah di Hijaz, seperti Tayma', Wadi al-Qura, Fadk, Khaibar, dan Yatsrib. Di sana mereka membangun benteng dan tempat pembuatan senjata untuk menunggu nabi yang telah dijanjikan pada mereka dari bangsa Arab yang merupakan keturunan Nabi Ismail di Yatsrib dengan harapan mereka akan membantu dan mendukung nabi tersebut. Untuk itu, mereka menetap di daerah perbatasan antara Yatsrib dan Palestina.

8. Kesantunan Nabi Musa terhadap Bani Israil. Meskipun Allah telah murka kepada mereka karena mereka menyembah anak sapi, leluhur Bani Israil yang pergi bersama Musa untuk bertobat dan meminta untuk bisa melihat Allah secara langsung, akibat kebodohan, dan kebangkangan mereka. Nabi Musa tetap memohon kepada Allah untuk memaafkan mereka dari kesalahan dan keteledoran orang-orang yang bodoh di antara mereka. Nabi Musa berkata,

Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi, Musa berkata, _"Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik."_ *(al-A'raaf: 155).*

*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*

Ayat-ayat yang menceritakan tentang Nabi Musa mengandung pelajaran sebagai berikut:

1. Ayat (ثُمَّ بَعَثْنَا مِنۢ بَعْدِهِم مُّوسَىٰ بِـَٔايَـٰتِنَآ إِلَىٰ) berarti bahwa seorang Nabi mestilah memiliki ayat dan mukjizat yang membedakannya dengan yang lain karena seandainya ia tidak memiliki hal tersebut, menerima perkataan dan risalahnya tidak akan lebih utama dari menerima perkataan dari orang lain.

Ayat ini juga bermakna bahwa Allah SWT telah memberikan tanda-tanda kenabian dan mukjizat yang banyak kepada Nabi Musa. Abbas r.a. mengatakan, "Ayat (tanda-tanda kenabiannya) yang pertama adalah tongkat, kemudian tangan putih yang bercahaya."

Di samping itu, ayat tersebut juga menunjukkan bahwa Fir'aun dan orang-orang dekatnya telah 'menzalimi’ ayat-ayat yang dibawa Nabi Musa kepada mereka, sehingga mereka berhak mendapat adzab yang besar, yaitu tenggelam di lautan, karena makna kezaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Mereka telah meletakkan pengingkaran di tempat penerimaan dan pengakuan, kekafiran di tempat keimanan (maksudnya, seharusnya mereka beriman tapi mereka malah kafir, pent) sehingga hal tersebut merupakan sebuah kezaliman dari mereka terhadap ayat-ayat tersebut.

2. Firman Allah SWT (إِنِّى رَسُولٌۭ مِّن رَّبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ) mengandung makna tentang eksistensi Tuhan karena alam butuh kepada Tuhan yang mengadakan dan menciptakannya. Di samping itu, alam juga bersifat lemah dan selalu berubah-ubah, yang membuatnya butuh kepada Tuhan yang mengatur dan mengarahkannya.

3. Perkataan Nabi Musa (حَقِيقٌ عَلَىٰٓ أَن لَّآ أَقُولَ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ ۚ) mengindikasikan bahwa seorang utusan atau Rasul tidak akan mengatakan selain sesuatu yang benar.

4. Sesungguhnya permintaan Nabi Musa a.s. untuk membiarkan Bani Israil bersamanya yang didasarkan kepada statusnya sebagai seorang Rasul bukanlah sesuatu yang mudah bagi seorang penguasa untuk mengabulkannya karena besar kemung¬ kinan akan munculnya banyak musuh yang akan melawannya dengan dalih me nyampaikan hukum Tuhan lalu mereka akan mengadakan konfrontasi melawan Fir'aun.

5. Perkataan Nabi Musa (قَدْ جِئْتُكُم بِبَيِّنَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ) yang dimaksud adalah mukjizat yang nyata dan luar biasa. Fir'aun pun meminta Musa untuk menampakkan mukjizat tersebut (إِن كُنتَ جِئْتَ بِـَٔايَةٍۢ فَأْتِ بِهَآ) sebagai bukti kejujurannya terhadap klaim kerasulannya dan bahwa ia diutus oleh Allah SWT. Mukjizat tersebut adalah berubahnya tongkat menjadi ular dan tampaknya tangan putih bercahaya.

6. Penguasa yang zalim itu adalah Fir'aun beserta dengan orang-orang dekatnya ternyata lebih memilih untuk mendustakan mukjizat yang luar biasa. Ia bahkan menuduh Musa sebagai seorang ahli sihir. Kemudian, ia bermusyawarah dengan tokoh-tokoh istananya. Keputusannya, mereka mengusulkan diadakan pertandingan antara Musa dengan para penyihir dari daerah Sha’id (daerah bagian perkampungan) Mesir yang sudah terkenal sangat hebat dalam dunia sihir.

Kemudian, dikumpulkan para penyihir dari berbagai pelosok kerajaan Fir'aun. Ada yang mengatakan bahwa jumlah mereka tujuh puluh atau tujuh puluh tiga orang. Perkataan beberapa orang dekat Fir'aun (وَأَرْسِلْ فِى ٱلْمَدَآئِنِ حَـٰشِرِينَ) mengindikasikan bahwa para penyihir saat itu banyak sekali.

7. Firman Allah (فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ) dan (وَنَزَعَ يَدَهُۥ) menunjukkan bahwa Allah SWT memberikan mukjizat kepada setiap nabi sesuai dengan apa yang tersebar di masyarakat pada masa itu. Ketika sihir merupakan sesuatu yang tersebar di kalangan masyarakat Nabi Musa semasa hidup mukjizatnya pun mirip dengan sihir meskipun pada hakikatnya berbeda dengan sihir. Ketika ilmu kedokteran sangat dominan di masa Nabi Isa, mukjizat yang diberikan padanya sejenis dengan kedokteran. Ketika kefasihan merupakan hal yang sangat dominan di masyarakat Nabi Muhammad, mukjizatnya adalah Al-Qur’an yang sangat tinggi nilai balaaghah dan kefasihannya.

8 . Firman Allah (وَجَآءَ ٱلسَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوٓا۟) menunjukkan bahwa semua orang tahu Fir'aun hanyalah seorang budak yang hina dan lemah. Karena kalau tidak, tentu ia tidak membutuhkan dan meminta bantuan kepada para ahli sihir untuk melawan Musa a.s.. Ini menunjukkan bahwa para ahli sihir tersebut tidak mampu mengubah benda atau sesuatu. Mereka tidak mampu mengubah tali dan tongkat menjadi ular. Mereka tidak mampu mengubah tanah menjadi emas dan menjadikan diri mereka sebagai raja di dunia. Seandainya mereka mampu melakukan semua itu, tentu mereka tidak perlu meminta upah dan harta dari Fir'aun. Tujuan dari ayat-ayat ini mengingatkan manusia terhadap makna yang dalam agar mereka tidak tertipu dengan berbagai perkataan orang-orang yang membuat kebatilan dan kebohongan.

9. Firman Allah (تُلْقِىَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ نَحْنُ ٱلْمُلْقِينَ) mengandung pengertian bahwa mereka punya hasrat untuk melemparkan (tali-tali dan tongkat mereka) sebelum Nabi Musa. Ini dapat dipahami dari penggunaan _fi'il mudhari'_ (نَّكُونَ) dan penegasan _dhamir_ (kata ganti) yang _muttashil_ (bersambung) dengan _munfashil_ (terpisah), yaitu (نَحْنُ) dan me _ma'rifah_ kan _khabar_, yaitu (ٱلْمُلْقِينَ), dengan tujuan untuk menampakkan kehebatan dan menarik perhatian para penonton ke arah mereka.

Nabi Musa mengikuti keinginan mereka karena percaya kepada bantuan Allah dan menganggap kecil tantangan mereka. Nabi Musa meyakini bahwa sebuah mukjizat tidak akan dapat dikalahkan oleh apa pun juga.

10. Firman Allah (فَلَمَّآ أَلْقَوْا۟ سَحَرُوٓا۟ أَعْيُنَ ٱلنَّاسِ) menunjukkan bahwa sihir itu sebenarnya hanyalah sebuah penipuan dan pengaburan. Seandainya sihir itu nyata, tentu mereka dapat menyihir hati dan perasaan penonton dan bukan hanya pandangan mereka. Sebenarnya mereka hanyalah mengkhayalkan hal-hal yang aneh dan menakjubkan, padahal yang sesungguhnya terjadi bukanlah demikian.

Firman Allah (وَٱسْتَرْهَبُوهُمْ) menunjukkan bahwa orang-orang awam (yang tidak tahu) merasa takut melihat gerakan tali-tali dan tongkat-tongkat itu. Sementara itu, takutnya Nabi Musa tidak sama dengan takutnya orang-orang awam. Ketakutan yang dirasakan Nabi Musa adalah jika kemenangannya terhadap para ahli sihir itu tampak terlambat.

11. Sihir sebagaimana yang dijelaskan ayat-ayat di atas, sebenarnya hanyalah berupa ilusi dan penipuan yang tidak ada hakikatnya sama sekali. Oleh karena itu, terkadang ia dinamakan juga dengan sulap dan ramalan. Hal itu kadang didasarkan kepada karakteristik beberapa materi, seperti pemuaian pada air raksa yang diletakkan para ahli sihir Fir'aun di tongkat dan tali-tali mereka atau terkadang menggunakan kelincahan tangan dalam menyembunyikan sesuatu dan menampakkan yang lain. Terkadang juga menggunakan kekuatan pengaruh jiwa yang kuat terhadap jiwa-jiwa yang lemah. Ketika itu, terkadang dipakai bantuan ruh-ruh setan, di antaranya adalah hipnotis.

12. Perbedaan antara sihir dan mukjizat. Mukjizat adalah sebuah hakikat yang tampak pada seseorang yang mengaku sebagai nabi, sementara sihir adalah ilusi-ilusi yang muncul pada seorang yang fasiq. Oleh karena itu, salahlah orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad pernah disihir dan sihir itu memberi pengaruh padanya sampai ia berkata, "Seakan-akan dibayangkan padaku bahwa aku mengatakan dan melakukan sesuatu, padahal aku tidak mengatakan atau melakukannya." Lalu dikatakan bahwa ada seorang wanita Yahudi yang menyihirnya menggunakan sebuah bejana, tempat benih kurma, yang diletakkannya di bawah tanah sebuah sumur, tempat seseorang berdiri kalau ingin mengambil air dari sumur itu. Sampai kemudian Jibril datang memberitahukannya. Kemudian, Nabi saw. memerintahkan agar bejana itu dikeluarkan. Sampai akhirnya, hilanglah apa yang dirasakan Nabi saw. Semua itu adalah ulah kelompok-kelompok atheis yang mencoba bermain-main dengan hal-hal yang menyangkut kenabian, untuk selanjutnya membatalkan mukjizat para Nabi saw..

Ini juga bertentangan dengan firman Allah. Boleh saja dikatakan bahwa wanita Yahudi melakukan hal tersebut karena kebodohannya, tapi kemudian Allah SWT memberitahukan Nabi-Nya akan hal tersebut. Tapi tidak boleh dikatakan, kalau hal tersebut berhasil membahayakan Nabi apalagi sampai membuatnya mengatakan atau melakukan sesuatu tanpa sadar.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login