SURAH AL-AN'AAM: 104-107

AL-AN'AAM (31)

AL-AN'AAM: 104-107

BUKTI-BUKTI WAHYU YANG TERANG, KEMAMPUAN ALLAH UNTUK MENENTANG KEMUSYRIKAN

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat Al-Qur'an di atas adalah argumen-argumen yang jelas dan terang yang menunjukkan kebenaran risalah dan kenabian Muhammad saw. dan menerangkan tugas beliau, yaitu menyampaikan risalah dan memberikan peringatan, bukan dengan cara kekerasan, kekejaman, dan paksaan dan tidak pula untuk mengawasi perilaku manusia. Barangsiapa yang melihat kebaikan dan menerima dakwah Islam dan Al-Qur’an, kebaikan itu akan kembali pada dirinya sendiri dan ia akan mendapatkan keberuntungan. Barangsiapa yang tidak acuh dan tidak mau melihat hal itu, kerugiannya akan kembali pada dirinya sendiri dan ia akan mendapatkan keburukan.

Di antara bentuk kasih sayang Allah SWT ialah sebagaimana dalam surah ini Dia mengulang-ulang ayat-ayat Al-Qur'an yang berisi janji, ancaman, nasihat dan peringatan, dalam surah yang lain Dia juga mengulang-ulang keterangan tersebut dalam berbagai cara untuk memberikan keyakinan, pelajaran, dan nasihat serta untuk menundukkan orang-orang musyrik dengan argumentasi kuat. Selain itu supaya nanti mereka berkata, "Kamu pernah mempelajari Al-Qur'an, yakni kamu mempelajari Al-Qur’an dari orang lain. Huruf _laam_ di sini adalah _laam shairurah_ (mempunyai arti menjadi). Juga untuk menjelaskan yang haq kepada kaum yang mengetahui dan memahami makna ayat-ayat itu dan mengamalkan kandungan dan isinya.

Rasulullah saw. diperintahkan untuk menyampaikan dakwah dan risalah Ilahi. Tujuan adanya perintah ini pascatuduhan orang-orang kafir terhadap Nabi bahwa beliau membuat-buat Al-Qur’an dan pernah mempelajarinya dari umat lain adalah untuk menguatkan hati beliau dan menghilangkan kesedihan akibat tuduhan ini. jangan sampai ucapan orang-orang kafir menyebabkan Nabi saw. patah semangat dalam menyampaikan risalah. Rasulullah saw. juga diperintahkan untuk berpaling dari orang-orang musyrik setelah dia melakukan kewajiban tabligh. Allah SWT mampu untuk menjadikan mereka beriman dan mengesakan Allah tanpa menyekutukan-Nya. Allah tidak menjadikan Nabi sebagai pengawas atas perbuatan mereka dan tidak pula menyerahkan urusan dan kepentingan agama dan dunia mereka kepada beliau. Tugas Nabi hanyalah menyampaikan dakwah untuk kemudian memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih dan menerima keimanan.

Seakan-akan, Allah SWT berfirman kepada Nabi-nya, "Janganlah kamu risau terhadap sikap bodoh dari orang-orang kafir dan jangan sampai kekufuran mereka membebani dirimu. Jika Aku berkehendak untuk melenyapkan kekufuran dari mereka. Aku pasti mampu, namun Aku membiarkan mereka dalam kekufuran. Jadi, janganlah kamu sibukkan hatimu dengan ucapan mereka.

(وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشْرَكُوا۟ ۗ) ayat tersebut ditafsirkan bahwa Allah tidak menghendaki keimanan yang disebabkan oleh paksaan dan desakan, tetapi Allah menghendaki keimanan yang berdasarkan pada kesadaran yang dapat mendatangkan pahala dan pujian.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login