SURAH AL-AN'AAM: 100-103

AL-AN'AAM (30)

AL-AN'AAM: 100-103

SEBUTAN-SEBUTAN YANG DINISBAHKAN KEPADA ALLAH SWT (JIN, ANAK, DAN ISTRI) DAN SIFAT ALLAH YANG TIDAK DAPAT DIJANGKAU OLEH INDRA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat (وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلْجِنَّ) turun mengenai orang-orang musyrik Arab. Bentuk kemusyrikan yang mereka lakukan terhadap jin adalah dengan menaatinya, sebagaimana mereka menaati Allah SWT.

Ayat ini adalah penghinaan, pelecehan, dan bantahan kepada orang-orang musyrik yang menjadikan jin sebagai sekutu Allah. Mereka menisbahkan adanya anak laki-laki dan perempuan berdasarkan kebodohan mereka mengenai hakikat Allah SWT. Orang-orang musyrik memiliki kelompok-kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Para penyembah berhala yang mengatakan bahwa berhala adalah sekutu Allah yang berhak untuk disembah. Hanya saja ia tidak berkuasa untuk menciptakan dan membentuk makhluk.

2. Para penyembah bintang. Mereka ada pada masa Nabi Ibrahim. Mereka mengatakan bahwa Allah menyerahkan urusan dunia luar kepada bintang.

3. Kaum dualisme atau kaum Majusi yang mengatakan bahwa alam mempunyai dua tuhan. Yang pertama pencipta kebaikan, yang kedua pencipta kejahatan.

Sebenarnya semua makhluk adalah muhdats (baru) dan diciptakan (tidak ada dengan sendirinya). Semua yang baru ada pencipta dan ada yang mengadakannya. Dialah Allah SWT.

Allah SWT mengkreasi dan menciptakan langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai pendamping atau istri. Dari mana datangnya anak? Dia adalah pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Bagaimana mungkin Dia memiliki anak dan pendamping?

Sang Pencipta yang maha mengatur adalah Allah SWT. Dia yang berhak untuk disembah, sedangkan semua makhluk adalah lemah dan tidak berhak untuk disembah.

Melihat Allah SWT adalah sebuah keniscayaan bagi orang-orang Mukmin di alam akhirat. Namun, bukan penglihatan yang bersifat meliputi segala sesuatu, menyeluruh, terbatas atau yang dilakukan dengan cara tertentu. Kalau Dia tidak mungkin untuk dilihat, tidak mungkin ada pujian atas keagungan Allah SWT melalui *firman-Nya (لَّا تُدْرِكُهُ ٱلْأَبْصَـٰرُ),* sebab sesuatu yang tidak ada tidak bisa untuk dilihat.

Dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat di atas adalah penahan terhadap kemusyrikan dan para sekutu serta bantahan terhadap tuduhan dari berbagai macam kelompok orang-orang musyrik. Allah tidak membutuhkan sekutu dan anak. Berdasarkan dalil-dalil berikut ini; Dia adalah pencipta (mubdi) langit dan bumi. AlIbda' adalah membentuk sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Ia juga tidak memiliki pendamping. Dia adalah Yang Menciptakan segala sesuatu, ilmu-Nya juga mencakup segala sesuatu, indra penglihatan tidak mampu untuk menjangkau-Nya sebab Allah SWT suci dari sifat-sifat makhluk-Nya, diantaranya adalah al-Idrak yang mempunyai makna dapat menjangkau namun terbatas, sebagaimana jangkauan yang dimiliki oleh para makhluk. Barangsiapa yang mempunyai sifat-sifat seperti ini, ia berhak untuk disembah. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia agar menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya.

Adapun Nabi yang melihat Allah pada malam Isra’, pendapat yang shahih adalah hal itu terjadi dengan menggunakan hatinya, bukan mata kepala. Adapun dengan Jibril, beliau melihat wujud aslinya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi melihat Allah dengan kedua matanya, berdasarkan firman Allah SWT:

"Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (an-Najm: 11).====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login