SURAH AL-AN'AAM: 84-90

AL-AN'AAM (26)

AL-AN'AAM: 84-90


IBRAHIM BAPAK PARA NABI, KARAKTERISTIK RISALAH MEREKA DAN KEWAJIBAN MENGIKUTI JEJAK MEREKA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM


Allah SWT memberi kenikmatan yang sangat banyak kepada Nabi Ibrahim. Dalam ayat sebelumnya, disebutkan ada dua nikmat yang diterima oleh Ibrahim, yaitu kekuatan dalam berdialog dan membantah pendapat lawan dengan argumentasi yang kuat dan kenikmatan mendapatkan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Dalam ayat ini disebutkan bahwa Ibrahim adalah keturunan sekaligus bapak dari para nabi. Dengan demikian, ia adalah orang yang mulia, baik dilihat dari asal-usulnya maupun dari keturunannya, itu merupakan nasab yang terbaik.



Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ayat ini menunjukkan bahwa anak-anak dari jalur perempuan termasuk bagian dari keturunannya. Oleh sebab itu *Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i* berkata, "Barangsiapa yang mewakafkan sesuatu kepada anaknya dan cucunya, hal itu mencakup juga anak dari anak laki-lakinya dan anak dari anak perempuannya. Demikian pula jika seseorang berwasiat kepada kerabatnya, anak dari anak perempuannya termasuk di dalamnya juga.” Menurut *Imam Abu Hanifah*, yang dinamakan kerabat ialah kerabat yang _mahram_ (yang tidak boleh dikawin) sehingga sepupu tidak temasuk dalam kategori kerabat karena boleh. *Imam Syafi'i* berpendapat bahwa kerabat adalah kerabat yang _mahram_ dan yang tidak _mahram_ sehingga sepupu juga termasuk di dalamnya.

*Imam Malik* berpendapat bahwa anak dari anak perempuan tidak termasuk dalam kerabat.

Dalam ayat ini, Allah SWT menyebutkan delapan belas nabi. Di ayat yang lain, masih ada tujuh Nabi lagi yang disebutkan selain di atas, yaitu Adam, Idris, Huud, Dzulkifli, Shalih, Syu'aib, dan Muhammad saw. sehingga seluruhnya genap berjumlah dua puluh lima nabi yang wajib diketahui dan diimani. Pasalnya, Allah SWT telah menetapkan nama-nama mereka di dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang disebutkan dalam surat an-Nisaa’ ayat 163, mereka adalah Adam, Idris, Nuh, Huud, Shaleh, Ibrahim, Luth, Isma’il, Ishaq, Ya'qub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Yunus, Dawud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa’, Zakaria, Yahya, Isa, termasuk pula Dzulkifli—menurut sebagian besar para mufassir, dan Muhammad saw."

Ayat ini menjelaskan bahwa rasul pertama yang ditetapkan baginya syari'at tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan halal dan haram adalah Nabi Nuh.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa peran para nabi berbeda-beda. Di antara mereka ada yang dianugerahi kenabian, kepemimpinan dan kekuasaan untuk memutuskan perkara di antara manusia. Di antara mereka ada yang diberikan status kenabian dan hikmah. Sebagian lagi ada yang dianugerahi kenabian saja, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Di antara para nabi tersebut ada yang masih memiliki pengikut, yaitu penganut salah satu dari tiga agama: Yahudi, Nasrani, dan Islam. Di antara mereka ada juga yang pengikutnya telah lenyap, seperti pengikut Nabi Ismai’il, Ilyasa’, Yunus, dan Luth.

Kedudukan para nabi lebih utama daripada malaikat sebab setelah Allah SWT menyebutkan mereka, *Dia berfirman (وَكُلًّۭا فَضَّلْنَا عَلَى ٱلْعَـٰلَمِينَ).* Makna dari kata (العَالَمُ) adalah segala sesuatu selain Allah SWT, termasuk malaikat. Dengan demikian, ayat ini menegaskan bahwa para nabi lebih utama dari seluruh makhluk di alam ini.

*Firman Allah SWT (وَمِنْ ءَابَآئِهِمْ وَذُرِّيَّـٰتِهِمْ)* menunjukkan bahwa Allah memberikan posisi yang mulia bagi orang-orang yang memiliki hubungan dengan para nabi. Makna kata (الأباءِ) adalah asal usulnya, sedangkan (اذُرِّيَّـٰتِهِمْ) adalah keturunan, dan (الإخوان) adalah anak dari bapaknya. Yang dimaksud dengan hidayah (petunjuk) adalah petunjuk kepada pahala dan surga dan petunjuk kepada keimanan dan pengetahuan.

Jika suatu kaum mengingkari risalah Nabi, sesungguhnya Allah telah menyiapkan kaum yang lainnya, sebagaimana penduduk Madinah yang telah Allah persiapkan sebagai pengganti dari penduduk Mekah.

Adapun *firman Allah SWT (أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَى ٱللَّهُ ۖ)* untuk menunjukkan kebatilan kemusyrikan dan penegasan kepada tauhid, sebagaimana *firman-Nya (فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقْتَدِهْ ۗ قُل)* menunjukkan kewajiban mengikuti petunjuk para nabi, yakni tauhid ibadah dan akhlak yang mulia, serta seluruh sifat-sifat yang terpuji.

Melalui ayat ini, para ulama berpendapat bahwa Muhammad saw. lebih utama dari seluruh nabi lainnya sebab Allah SWT memerintahkannya untuk mengikuti jejak mereka semuanya.====

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login