AL-AN'AAM (25)
AL-AN'AAM: 80-83
DIALOG ANTARA IBRAHIM DAN KAUMNYA
Sebab Turunnya Ayat 82
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Bakar bin Sawadah*, ia mengatakan bahwa seorang laki-laki dari pihak musuh menyerang kaum Muslimin, lalu dia membunuh seorang Muslim, kemudian membunuh seorang lagi. Lalu, ia berkata, "Apakah Islam masih bisa menerimaku setelah semua perbuatan yang kulakukan ini?" Rasulullah saw. bersabda, "Ya”. Laki-laki itu menunggang kudanya dan lari masuk ke dalam golongannya, lalu ia menyerang sahabat-sahabatnya sendiri dan membunuhnya satu demi satu, kemudian ia pun terbunuh. *Bakar bin Sawadah* mengatakan bahwa kemudian para sahabat meriwayatkan bahwa kisah ini menjadi sebab turunnya ayat (ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَـٰنَهُم بِظُلْمٍ ) hingga akhir ayat.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Allah SWT telah mengajarkan Ibrahim berbagai macam hujjah yang yang dapat menundukkan kaumnya dan membatalkan kesangsian serta praduga mereka, sesuai dengan firman Allah: (وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَـٰهَآ إِبْرَٰهِيمَ). Diantara sikap kaumnya ialah mereka menakut-nakuti Ibrahim dengan berhala-berhala. Lalu, Ibrahim menjawab mereka dengan berkata, "Aku sama sekali tidak takut padanya (berhala) karena rasa takut hanya ditujukan kepada siapa yang mampu mendatangkan manfaat dan mudharat, sedangkan berhala hanyalah benda mati yang tidak mampu mendatangkan sedikit pun manfaat dan mudharat.”
Adapun musibah yang menimpa manusia, bisa jadi akibat dari dosanya sehingga ia dibalas atas perbuatannya sendiri dan bisa jadi sebagai ujian serta cobaan melalui kesulitan di dunia sehingga bisa diketahui siapakah yang sabar dalam menghadapi cobaan dan tetap teguh dengan keimanannya di saat kesulitan. Bisa juga agar sebagian orang-orang yang zalim saling menguasai pada satu dengan yang lainnya sehingga kezaliman mereka mejadi sebab kebinasaan diri mereka sendiri.
Adapun kewajiban yang dilakukan oleh para nabi dalam berdakwah dengan tujuan untuk memperkuat tauhid dan membatalkan syirik bukan menjadi sebab turunnya siksaan dan adzab. Hal ini bertentangan dengan anggapan orang-orang musyrik yang menyembah berhala sebab aqidah paganisme yang mereka yakini berasal dari takhayul dan dongeng.
Dialog dan perdebatan adalah sesuatu yang baik jika tujuannya untuk meneguhkan agama yang benar, ia menjadi tercela jika bertujuan untuk membela agama yang batil.
Tidaklah mengherankan jika orangorang musyrik hidup dalam kegelisahan dan kegundahan serta ketakutan pada takdir dan masa depan sebab kemusyrikan adalah sumber ketakutan dan kegelisahan. Adapun orang-orang Mukmin yang bertauhid, mereka dijamin mendapatkan rasa aman dengan syarat adanya dua sifat berikut ini. Iman, yaitu kesempurnaan secara ilmu, dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman, ini yang dinamakan dengan kesempurnaan secara praktik. Yang dimaksud dengan kezaliman adalah syirik karena syirik merupakan kezaliman terbesar, sebagaimana firman Allah yang menceritakan kisah Luqmaan ketika memberikan nasihat kepada anaknya,
_"Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."_ *(Luqmaan: 13)*
Yang dimaksud dari ayat ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah SWT dan tidak menetapkan sekutu bagi-Nya dalam beribadah.
Adapun orang fasik, ia bisa mendapat siksaan Allah SWT dan bisa saja mendapat ampunan dari Allah SWT.
Adapun *firman Allah SWT (وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ ءَاتَيْنَـٰهَآ إِبْرَٰهِيمَ)* menunjukkan bahwa keimanan dan kekufuran berasal dari Allah SWT. Hal ini ditegaskan dengan *firman-Nya (نَرْفَعُ دَرَجَـٰتٍۢ مَّن نَّشَآءُ ۗ)* sesungguhnya Allah SWT yang meninggikan beberapa derajat kepada Ibrahim ditandai dengan hujjah yang diberikan kepadanya.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
