SURAH AL-AN'AAM: 30-32

AL-AN'AAM (10)

AL-AN'AAM: 30-32

KONDISI ORANG-ORANG MUSYRIK DI HADAPAN TUHAN MEREKA DI AKHIRAT DAN HAKIKAT DUNIA

FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM

Ayat-ayat di atas adalah kondisi nyata mengenai keadaan orang yang ada di hadapan hakim yang memutuskan tindak kejahatannya. Para terdakwa seringkah bersikap ingkar di hadapan hakim dan ketika ia tidak dapat mengelak dari kejahatannya, dia bergegas untuk mengakui semua yang dilakukan. Demikianlah keadaan orang-orang kafir dan orangorang musyrik ketika menghadapi hisab (perhitungan amal) di hadapan Allah. Mereka merasakan bahwa pengingkaran tersebut tidak ada gunanya. Pada saat itu, ketika mereka ditanya tentang kebangkitan dan hari akhir, mereka bersumpah menggunakan nama Allah bahwa hari akhit itu benar adanya. Oleh karena itu, vonis yang ditetapkan terhadap mereka adalah pelaksanaan hukuman yang telah dijatuhkan kepada mereka sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran mereka.

Diskusi di atas dilakukan oleh malaikat. Para malaikat berkata kepada mereka sesuai dengan perintah Allah, "Bukankah kebangkitan dan adzab ini adalah haq (benar)?” Mereka menjawab, “Benar, demi Tuhan kami, itu adalah benar.” Dengan begitu, tidak ada kontradiksi antara pertanyaan ini dengan firman Allah SWT (وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ), sebab pertanyaan tersebut terjadi melalui para malaikat. Maksudnya adalah Dia tidak berbicara dengan mereka dengan perkataan yang baik dan bermanfaat.

Ayat-ayat ini menjelaskan kondisi lainnya dari keadaan orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan hari Kiamat, yakni dalam dua perkara. Pertama adalah kerugian yang dialami orang-orang yang mendustakan kebangkitan, Kiamat, balasan amal, dan hisab. Yang kedua adalah dipikulnya dosa-dosa yang besar di atas punggung mereka.

Yang dimaksud dengan kerugian adalah hilangnya pahala yang besar dan diperolehnya siksa yang berat. Terkait dengan ucapan mereka (يَـٰحَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا)- ada isyarat bahwa mereka tidak memperoleh hak pahala untuk mereka sebab mereka adalah kaum yang lalai. Kalimat (فِيهَا) maksudnya dalam transaksi.

Kalimat ini tidak disebutkan sebab konteks kalimat sudah menunjukkan makna tersebut. Pasalnya, kerugian tidak terjadi kecuali dalam hal transaksi jual beli, sebagaimana *firman Allah SWT:*

_“Maka perdagangan mereka itu tidak beruntung."_ *(al-Baqarah: 16)*

Dalam *firman Aliah SWT (وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَىٰ)* ada isyarat bahwa mereka memperoleh adzab berat yang menjadi hak mereka. Tidak ada keraguan bahwa itu adalah puncak kerugian.

*Firman Allah SWT (وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ)* menunjukkan pembagian amal dunia menjadi dua. Amal perbuatan yang tidak ada kebaikan dan manfaat di dalamnya dan ini adalah perkara dunia yang murni yang biasa terjadi dalam perbuatan manusia, serta amal akhirat yang tidak ada senda gurau atau permainan di dalamnya dan ini adalah perbuatan orang-orang yang bertakwa lagi pilihan yang memakmurkan dunia dengan amal saleh dan ucapan yang baik.

*Ibnu Abdil Barr* meriwayatkan dari *Abu Said al-Khudri* dan *at-Tirmidzi* juga meriwayatkan dari *Abu Hurairah* dan at-Tirmidzi mengatakan bahwa ini adalah hadits hasan gharib. *Rasulullah saw. bersabda:*

_"Dunia terlaknat dan semua yang ada di dalamnya terlaknat kecuali zikrullah atau sesuatu yang mengantarkan pada zikrullah. Orang alim dan orang yang belajar berbagi dalam pahala, sedangkan yang lain adalah hina dan tidak ada kebaikan di dalamnya!"_ *(HR Ibnu Adui Barr dan at-Tirmidzi)*

Diriwayatkan *Nabi Muhammad saw. bersabda,* _"Di antara hinanya dunia bagi Allah adalah bahwa ia adalah tempat perilaku durhaka. Apa yang dimiliki oleh-Nya tidak bisa didapatkan kecuali dengan meninggalkan dunia."_

*At-Tirmidzi* meriwayatkan dari *Sahi bin Sa'ad*, dia mengatakan bahwa *Rasulullah saw. bersabda:*

"لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ."

_"Sekiranya dunia di sisi Allah setara dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minuman kepada orang kafir."_ *(HR at-Tirmidzi)*

*Firman Allah SWT (أَفَلَا تَعْقِلُونَ)* menunjukkan bahwa manusia biasanya tidak berpikir untuk kemaslahatannya, bahkan ia melakukan perkara yang dapat menjerumuskan dirinya ke dalam bahaya, ia juga mengisyaratkan agar kita bersikap zuhud di dunia. Dengan kata lain, sikap yang dianjurkan oleh Allah adalah hati kita tidak dikuasai oleh kecintaan pada dunia.

Ayat (وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ) menunjukkan bahwa orang-orang yang mengingkari kebangkitan dan hari Kiamat, mereka semakin besar kecintaannya pada dunia dan keinginannya untuk mendapatkan kenikmatannya. Allah menyebutkan ayat ini sebagai peringatan akan kehinaan dunia. Namun, perlu dicatat bahwa kehidupan itu sendiri tidak boleh dicela sebab ia berjalan sesuai dengan iradah dan hikmah Allah serta penciptaan dan pengadaan-Nya. Selain itu, kebahagiaan akhirat tidak bisa dicapai kecuali melalui kehidupan dunia. Mak¬ sudnya adalah bahwa kelezatan kehidupan dunia dan kenikmatannya tidak ada yang lestari dan tersisa di saat kehidupan ini sudah punah, kecuali hanya kerugian dan penyesalan, sebagaimana senda gurau dan permainan yang ia rasakan. Kemudian, setelah berakhirnya kehidupan, tidak ada yang tersisa kecuali penyesalan.

*Firman Allah SWT (وَلَلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌۭ)* memberi isyarat adanya perbandingan antara kehidupan akhirat dan kehidupan dunia yang kebaikan akhirat lebih baik daripada kebaikan dunia. Kebaikan dunia adalah hina, sementara kebaikan akhirat adalah mulia.

*Kesimpulan*, perbandingan antara dunia dan akhirat tampak bahwa kebahagiaan dunia dan kebaikan di dalamnya dikotori oleh aibaib yang banyak dan kekurangan-kekurangan yang beragam. Sementara itu, kebahagiaan akhirat bebas dari itu yang menunjukkan secara pasti bahwa akhirat adalah kehidupan yang lebih sempurna, lebih utama, lebih kekal, lebih pantas, dan lebih layak.===

*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026 

 

 

BERSAMA KITA BISA. Ini bukan tentang mudah dan cepatnya. Apakah dengan sendirian, yakin bisa istiqomah membaca terjemah hingga Khatam?

Login