AL-AN'AAM (9)
AL-AN'AAM: 27-29
KEADAAN ORANG-ORANG MUSYRIK DI HADAPAN NERAKA ATAU CARA KEBINASAAN MEREKA
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Realitas keimanan tidak akan berubah atau berganti dan ia pasti terjadi sebab janji Allah bersifat pasti. Surga dan neraka juga merupakan perkara yang pasti. Realitas ini akan terungkap dengan cepat. Keburukan dari kekufuran dan dari orang-orang kafir akan tersingkap. Mereka akan memperoleh adzab neraka. Seandainya engkau melihat siksaan yang mereka terima di neraka Jahannam, engkau pasti akan melihat sebuah kondisi yang mengenaskan. Engkau akan melihat pemandangan yang mengerikan dan menakutkan. Mereka tidak akan menemukan tempat untuk melarikan diri dari adzab Allah. Mereka dalam kondisi tertekan, kebingungan, dan berharap bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki aqidah dan amal serta tidak lagi mengingkari ayat-ayat Allah yang menunjukkan wujud dan keesaan-Nya, serta kebenaran para rasul-Nya. Mereka berharap agar mereka berada di barisan yang sama dengan orangorang Mukmin di dunia dan agar mendapatkan kondisi yang paling baik di akhirat, yakni di surga kelak.
Akan tetapi, harapan mereka itu hanya sebagai bentuk kepanikan dan keputusasaan mereka untuk kembali ke dunia, bukan didasarkan pada tekad untuk tidak mendustakan agama dan bukan untuk beriman. Mereka tidak meminta kembali ke dunia karena keinginan dan rasa cinta akan keimanan, tetapi karena rasa takut pada adzab yang mereka hadapi sebagai balasan dari kekufuran mereka. Oleh sebab itu, mereka meminta kembali ke dunia agar terlepas dari neraka.
Pada saat mereka berada di hadapan adzab dan di tengah neraka, tampak hakikat kekufuran dan maksiat-maksiat yang mereka sembunyikan. Seandainya mereka dikembalikan, mereka akan kembali kepada kemusyrikan, sesuai dengan ilmu Allah bahwa mereka tidak akan beriman. Hal ini telah terjadi pada iblis sebagai induk kekufuran yang telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah dengan jelas, namun dia tetap membangkang.
*Firman Allah SWT (وَإِنَّهُمْ لَكَـٰذِبُونَ)* menunjukkan keadaan mereka di dunia, yakni pendustaan mereka kepada para rasul dan pengingkaran mereka terhadap kebangkitan, sebagaimana ayat ini juga menunjukkan kedustaan pengakuan mereka bahwa mereka tidak akan mengingkari agama dan mereka adalah orang-orang Mukmin.
*Firman Allah SWT (وَقَالُوٓا۟ إِنْ هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا)* menjelaskan apa yang mereka katakan di dunia dan juga menerangkan bahwa mereka adalah kaum materialistis dan tidak meyakini kehidupan akhirat. Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali kepada kekufuran dan sibuk dengan kenikmatannya. Mereka adalah kaum yang angkuh.
Nafsu mereka yang suka memerintahkan pada kejelekan hanya ingin tetap berada dalam kesesatan, kemunafikan, kedustaan, kekufuran, dan kemaksiatan.
Ingatlah, hendaklah orang yang berakal merenungkan nasib dan akibat dari kondisi mereka, yakni kengerian, kegelisahan, dan impian agar bisa terlepas dari adzab pedih. Keadilan Allah akan menjerat mereka dalam siksa-Nya. Oleh sebab itu, hanya rahmat Allah kepada para makhluk-Nya yang menjadikanNya memberikan ancaman dan peringatan atas apa yang akan mereka terima di masa mendatang.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
