AL-MA'IDAH (25)
AL-MAA'IDAH: 82-86
HUBUNGAN ORANG-ORANG YAHUDI DAN NASRANI DENGAN ORANG-ORANG MUKMIN, SERTA PERMUSUHAN ORANG-ORANG YAHUDI TERHADAP ORANG-ORANG MUKMIN, DAN BERIMANNYA PARA PENDETA DAN RAHIB
Sebab Turunnya Ayat 82 dan 83:
Diriwayatkan oleh *Ibnu Abi Hatim* dari *Sa’id bin Musayyib Abu Bakar bin Abdur Rahman dan Urwah bin Zubair*, mereka berkata, "Rasulullah mengutus Amr bin Umayah adh-Dhamari dengan membawa surat dari Beliau untuk disampaikan kepada Najasyi. Amr datang menghadap Najasyi untuk menyampaikan surat dari Beliau. Najasyi langsung membaca surat tersebut, kemudian memanggil Abu Ja'far bin Abu Thalib dan kaum muhajirin yang bersamanya, ia dipertemukan dengan para pendeta dan para rahib. Setelah itu, dia menyuruh Ja'far bin Abu Thalib untuk berbicara. Ja'far membacakan surah Maryam kepada mereka hingga akhirnya mereka meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mata mereka bercucuran air mata. Kepada merekalah Allah menurunkan ayat (وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةًۭ) sampai ke ayat (فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّـٰهِدِينَ).
Diriwayatkan oleh *Ibnu Abi Hatim* dari *Sa'id bin Jubair*, dia berkata, "Najasyi mengutus tiga puluh orang pengikut pilihannya untuk menghadap Rasulullah saw.. Ketika mereka sudah bertemu dengan Rasulullah saw., beliau membacakan surah Yaasiin kepada mereka. Mereka pun menangis seraya berkata, ‘Ayat ini sangat mirip dengan ayat yang diturunkan kepada Isa. Tidak lama kemudian, Allah menurunkan ayat di atas kepada mereka.”
Diriwayatkan oleh *Nasa’i* dari *Abdullah bin Zubair* dia berkata, “Ayat tersebut diturunkan untuk menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi kepada Najasyi dan para pengikutnya (وَإِذَا سَمِعُوا۟ مَآ أُنزِلَ إِلَى ٱلرَّسُولِ) Ath-Thabrani juga meriwayatkan hadits yang sama dari jalur Ibnu Abbas. Ibnu Abbas, Sa’id bin Jubair, Ibnu Abbas, Atha, dan as-Sadi berkata, "Yang dimaksud dalam ayat ini adalah Najasyi dan para pengikutnya yang datang dari Habasyah untuk menemui Rasulullah saw. dan beriman kepada beliau.
*Ath-Thabari* mengatakan "Menurut saya, pendapat yang benar adalah bahwa Allah SWT hanya menyebutkan karakteristik sebuah kaum yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini adalah orang-orang Nasrani.’ Dan Nabi Muhammad saw. melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Allah tidak menyebutkan secara spesifik nama-nama mereka. Bisa jadi maksudnya adalah pengikut Najasyi dan bisa juga yang dimaksud adalah para pengikut syari'at Nabi Isa yang hidup hingga Islam datang. Ketika mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an, mereka masuk Islam, meyakini kebenaran Al-Qur’an, dan mereka tidak bersikap sombong.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Lima ayat di atas merupakan contoh ideal dalam kaitannya dengan kebenaran, bersikap adil dan bijaksana. Dalam ayat ini, manusia dibagi ke dalam dua kelompok. Pertama, kelompok orang-orang Mukmin dan para pendukungnya serta balasan surga yang akan mereka terima. Kedua, kelompok orang-orang musyrik dan orang-orang kafir serta para pengikutnya, yaitu orang-orang Yahudi serta balasan neraka yang akan mereka terima.
Inilah pembagian yang adil yang berasal dari manusia itu sendiri (sesuai dengan amalannya) dan juga pembagian yang telah ditetapkan oleh Allah secara adil kepada mereka.
Sikap bijaksana yang ditunjukkan oleh orang-orang Nasrani, yaitu dengan cara tunduk kepada agama yang benar dan ajaran tauhid. Mereka beriman kepada Allah, kepada utusan-Nya, dan kepada Nabi Muhammad saw. sebab mereka dulu pernah mengajarkan kepada manusia tentang dasar-dasar agama yang benar, seperti mengesakan Allah, meyakini para nabi, menyeru untuk melakukan kebaikan, dan berbudi pekerti yang luhur. Mereka beribadah dengan ikhlas di tempat peribadahan mereka dan mereka takut kepada Allah Sang Pencipta langit dan bumi. Mereka tidak serakah dalam kepentingan duniawi atau dalam merebut kekuasaan. Mereka tidak bersikap fanatik terhadap agama tertentu yang dapat membuat mereka tidak mau mengikuti agama lain. Mereka tidak sungkan untuk mendeklarasikan bahwa mereka beriman kepada Allah, rasul-Nya, dan Kitab yang diturunkan oleh Allah. Dalam hati mereka tertanam keimanan yang benar kepada Allah dan para nabi. Mereka memerhatikan dengan sungguhsungguh dan bersikap bijaksana terhadap kebenaran yang berasal dari kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Mata mereka mencucurkan air mata karena mereka mendapatkan kesesuaian antara ajaran yang mereka ketahui dengan apa yang mereka dengarkan dari Al-Qur’an. Mereka memohon kepada Allah agar mereka dapat diterima di sisi-Nya. Mereka selalu memperbarui keimanan mereka kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka memohon agar dicatat bersama dengan orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad saw. dan menjadi saksi atas umat lain pada hari Kiamat atas risalah Allah yang disampaikan oleh nabi-nabi mereka kepada mereka.
Seperti itulah perihal kaum yang berilmu dan bertindak bijaksana serta mematuhi kebenaran. Kaum yang mau menerima keimanan yang benar dan seluruh anggota mereka khusyu dalam mengingat Allah, sebagaimana *firman Allah:*
_“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah."_ *(az-Zumar: 23)*
_"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada tuhan mereka bertawakal."_ *(al-Anfaal: 2)*
Dari uraian tadi, dapat disimpulkan bahwa dalam lima ayat di atas Allah SWT menjelaskan orang-orang yang paling ingkar, paling membangkang, paling sombong, dan paling memusuhi orang-orang Muslim adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Sementara itu, orang-orang yang paling dekat persaudaraannya dengan orang-orang Mukmin adalah orang-orang Nasrani yang hidup pada masa itu.
Di antara tanda dari tindakan bijaksana orang-orang Nasrani yang telah percaya terhadap dakwah Islam secara terang-terangan —selain dari pengakuan mereka terhadap kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an tentang Isa dan penetapan hari kebangkitan (ba'ts) dan hari penghitungan amal (hisaab) — yaitu protes mereka pada saat dikatakan bahwa mereka tidak beriman terhadap kebenaran Ketika mereka berkata (وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَمَا جَآءَنَا مِنَ ٱلْحَقِّ).
Hal ini menunjukkan bahwa mereka mengerti tentang agama dengan benar juga mengetahui dan mematuhi kebenaran tanpa harus bersikap sombong dan menentang, seperti halnya orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
Adapun tindakan bijaksana dari Allah SWT ditunjukkan dalam bentuk balasan yang diberikan kepada orang-orang yang percaya kepada agama mereka yang lurus dan kepada agama Islam yang membenarkan ajaran agama sebelumnya dan menyempurnakannya. Allah SWT berfirman (فَأَثَـٰبَهُمُ ٱللَّهُ بِمَا قَالُوا۟ جَنَّـٰتٍۢ).
Hal itu menujukkan bahwa iman mereka tulus dan apa yang mereka ungkapkan benar sehingga Allah mengabulkan permintaan mereka dan mewujudkan keinginan mereka. Inilah bukti keadilan dan anugerah Allah; Dia mengaruniakan keridhaan dan surga-Nya kepada orang yang beriman dengan ikhlas dan melakukan amal saleh dengan jujur dan yakin. Begitulah orang yang imannya tulus akan mendapatkan balasan (pahala) surga.
Bukti dari sikap bijaksana Allah yang lain adalah Allah memberikan balasan neraka kepada orang-orang kafir, dari golongan orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang musyrik, dan orang-orang yang mendustakan dalil-dalil yang nyata yang menerangkan wujud dan keesaan Allah dan kebenaran nabi-nabi-Nya.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
