AL-MA'IDAH (24)
AL-MAA'IDAH: 76-81
MENDEBAT IDEOLOGI UMAT NASRANI YANG MENUHANKAN ISA AL-MASIH, MENUNTUT AHLUL KITAB TIDAK BERSIKAP MELAMPAUI BATAS DALAM AGAMA, SERTA PELAKNATAN TERHADAP BANI ISRAIL DIKARENAKAN MEREKA TIDAK MENCEGAH KEMUNGKARAN
FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM
Ayat-ayat di atas menunjukkan sejumlah hal sebagai berikut:
Sesungguhnya menyembah kepada selain Allah SWT. membuktikan kedunguan akal, dangkalnya pandangan, lemahnya pemikiran dan kegegabahan manusia. Karena _al-Ma'buud_ (sesembahan) adalah yang dimintai kemanfaatan dan ditakuti adzab-Nya ketika teledor dan lalai terhadap-Nya serta melanggar perintah-Nya. Setiap orang yang menyembah kepada selain Allah SWT seperti menyembah bintang-bintang, malaikat, berhala, arca, al-Andaad (hal-hal yang dijadikan sebagai sekutu bagi Allah SWT), para nabi, para pemimpin dan tokoh ulung yang menang dalam suatu pertempuran, meskipun manusia memiliki harapan bisa mendapatkan suatu kemanfaatan dari mereka serta menolak kemudharatan dan keburukan melalui perantaraan mereka, semua itu adalah bentuk dari ilusi, degradasi fitrah manusia, dan pengecohan terhadap logika dan pemikiran yang normal.
Lihatlah Isa yang memiliki berbagai bentuk mukjizat dengan izin Allah SWT. ia tidak mampu melakukan hal-hal supranatural yang lebih jauh lagi yang telah ditentukan untuknya. Ia tidak mampu menolak kemudharatan dari dirinya dan tidak mampu pula mendatangkan kemanfaatan kepada dirinya. Jika kalian mengakui bahwa Isa adalah janin yang berada dalam rahim ibundanya, dan dalam beberapa keadaan ia tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat, tidak mengetahui dan tidak bisa mendatangkan suatu kemudharatan, bagaimana bisa kalian menjadikannya sebagai llah? Siapakah yang mengatur alam semesta ini sebelum ia lahir dan siapakah yang mengatur alam semesta ini setelah ia wafat?
Hal yang sudah menjadi keharusan Ahlul Kitab adalah harus tetap pada jalan kelurusan. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, fanatisme, dan taklid buta warisan. Janganlah kalian tertipu dan terpedaya oleh pandangan dan pendapat-pendapat para pemuka fitnah dan kesesatan serta para pemilik ambisi pada kepentingan-kepentingan materialisme.
Sesungguhnya kelalaian dan keteledoran para ulama Bani Isra'il terhadap kewajiban _amar makruf nahi mungkar_, berdampak pada turunnya laknat dan kutukan Ilahi terhadap mereka dalam Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Apakah ada hukuman yang lebih keras dari itu?
Hendaklah kaum Muslimin waspada dan mawas diri, jangan sampai mereka meniru orang-orang yang berhak mendapatkan laknat dan terusir dari rahmat Allah SWT.
*Ibnu Athiyyah* mengatakan telah terbentuk ijma bahwa mencegah kemungkaran hukumnya adalah fardhu bagi setiap orang yang mampu dan memiliki kesanggupan melakukannya, serta keselamatan dirinya dan kaum Muslimin terjamin dan tidak terancam.
Jika ada potensi yang mengkhawatirkan dan mengancam keselamatannya, hendaklah ia mengingkarinya dengan hatinya, menjauhi orang yang berbuat kemungkaran dan tidak bergaul dengannya.
Ulama mengatakan orang yang mencegah kemungkaran tidak disyaratkan dirinya haruslah orang yang bersih dari kemaksiatan. Tetapi, orang-orang yang melakukan kemaksiatan bisa saling mencegah antara satu dengan yang lainnya.
Ayat (كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍۢ فَعَلُوهُ ۚ) menghendaki suatu pengertian bahwa mereka sama-sama melakukan kemungkaran dan mereka dicela karena tidak saling mencegah kemungkaran antara satu dengan yang lainnya. Ayat ini juga menunjukkan larangan ikut duduk-duduk bersama dengan orang-orang pendosa, serta perintah untuk menjauhi mereka. Hal ini diperkuat dengan ayat yang mengecam kaum Yahudi (تَرَىٰ كَثِيرًۭا مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ) yaitu orang-orang musyrik yang tidak seagama dengan mereka. Betapa buruknya apa yang dijadikan nampak baik oleh hawa nafsu mereka di mata mereka.
Ayat (وَلَوْ كَانُوا۟ يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِىِّ وَمَآ) menunjukkan bahwa barangsiapa yang menjadikan orang kafir sebagai penolongnya, ia bukanlah seorang Mukmin jika ia memiliki keyakinan yang sama seperti keyakinan orang kafir serta menyetujui dan merestui perbuatan-perbuatannya.====
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
