AL-MA'IDAH (23)
AL-MAA'IDAH: 72-75
IDEOLOGI UMAT MASEHI YANG MENUHANKAN AL-MASIH, PADAHAL IA HANYALAH SEORANG MANUSIA YANG MENJADI RASUL
Sebab Turunnya Ayat
*As-Suddi* dan yang lainnya mengatakan ayat ini turun berkenaan dengan pandangan umat Nasrani yang menjadikan al-Masih dan ibundanya sebagai Ilah di samping Allah SWT sehingga mereka pun menjadikan Allah SWT sebagai salah satu dari yang tiga (Trinitas).
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat-ayat di atas menunjukkan kekufuran setiap golongan, kelompok, sekte, dan aliran umat Nasrani, baik yang mengatakan al-Masih adalah salah satu dari yang tiga, atau al-Masih adalah Putra Allah, atau Allah ialah al-Masih Isa Putra Maryam. Pada kesimpulannya, mereka mengatakan: Bapak, Anak, dan Ruhul Qudus adalah Ilah yang satu. Mereka tidak mengatakan tiga Ilah, padalah inilah esensi dan pengertian semua perkataan mereka. Mereka tidak menggunakan kata-kata tiga Ilah dan tidak menyatakannya secara eksplisit, padahal ini adalah pengertian yang tidak bisa terpisahkan dari semua perkataan mereka, karena mereka mengatakan Sang Anak adalah Ilah. Sang Bapak adalah Ilah dan Ruhul Qudus adalah Ilah.
Allah SWT pun membantah dan menyangkal semua perkataan mereka, dengan menegaskan bahwa Ilah tidak berbilang. Jika mereka tidak berhenti dari ideologi Trinitas, sungguh mereka akan tertimpa adzab yang sangat menyakitkan di dunia dan akhirat. Hendaklah mereka bertobat kepada-Nya dan meminta ampunan kepada-Nya. Yang dimaksudkan di sini adalah orang-orang yang tetap kafir di antara umat Nasrani karena mereka yang mengatakan Ilah berbilang, bukan orang-orang yang beriman.
Al-Masih pada hakikatnya, tidak lain hanyalah hamba Allah SWT. dan rasul dari sisi-Nya, meskipun ia memiliki berbagai mukjizat atau ayat-ayat sebagaimana yang juga dimiliki oleh para rasul lainnya. Jika seandainya al-Masih bisa menjadi Ilah, tentunya setiap rasul juga bisa menjadi Ilah. Ini adalah sebuah bantahan dan sanggahan yang kuat terhadap mereka, yang tidak mungkin disangkal lagi dan tidak mungkin terbantahkan lagi.
Diantara bagian dari bantahan dan hujjah tersebut adalah al-Masih dan ibundanya yang seorang _shiddiiqah_, mereka berdua makan. Al-Masih adalah _mauluud_ (terlahirkan) dan _marbuub_ (diasuh, dirawat, dan dididik). Orang yang dilahirkan dan ia juga makan adalah makhluk yang _muhdats_ sama seperti makhluk-makhluk lainnya. Sejak kapan _marbuub_ bisa menjadi _Rabb_? Hal ini mengandung bukti petunjuk yang pasti bahwa al-Masih dan ibundanya adalah manusia.
Adapun perkataan mereka yang berapologi bahwa al-Masih makan adalah dengan tabiat kemanusiaannya _(naasuut)_, bukan dengan tabiat ketuhanannya _(laahuut)_. Al-Masih memiliki dua tabiat, yaitu tabiat manusia dan tabiat llah, berarti ada ketercampuran llah dengan selain llah. Seandainya memang bisa _qadiim_ bercampur dengan _muhdats_, tentunya _qadiim_ bisa berubah menjadi _muhdats_. Seandainya hal ini sah diterapkan pada diri al-Masih, juga sahsah saja diterapkan pada selain al-Masih hingga akhirnya dikatakan, _al-Laahuut_ (ketuhanan) bercampur dengan setiap yang _muhdats_.
Allah SWT mengkritik dan mengecam ideologi umat Nasrani dengan berfirman: _"lihat dan perhatikanlah, bagaimana Kami memaparkan kepada mereka bukti-bukti keterangan dan petunjuk tentang ketuhanan yang benar dan keesaan yang sejati nan abadi. Kemudian lihat dan perhatikanlah, bagaimana mereka masih bisa dipalingkan dari kebenaran setelah semua pemaparan bukti-bukti keterangan dan petunjuk tersebut?!_ ===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
