AL-MA'IDAH (21)
AL-MAA'IDAH: 67-69
PERINTAH KEPADA RASUL UNTUK MENYAMPAIKAN WAHYU, BELIAU DILINDUNGI DARI MANUSIA, DAN SERUAN KEPADA AHLUL KITAB UNTUK BERIMAN KEPADA RISALAH BELIAU
SEBAB TURUNNYA AYAT
*1. Ayat 67:*
*Abusy Syekh bin Hayyan* meriwayatkan dari *Hasan al-Bashri*, bahwasanya *Rasulullah saw. bersabda*:
_“Sesungguhnya Allah SWT mengutusku dengan membawa sebuah risalah, lalu aku pun merasa berat dan sempit dadaku, dan aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakanku dan tidak percaya kepadaku. Lalu Allah SWT pun mengancamku, bahwa sungguh aku akan menyampaikan risalah itu atau sungguh Dia akan mengadzabku.” Lalu turunlah ayat ini, “Ya ayyuhar Rasuulu balligh maa unzila ilaika.”_ *(HR Abusy Syekh)*
*Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Mujahid*, ia berkata:
_“Tatkala turun ayat, ‘yaa ayyuhar Rasuulu balligh maa unzila ilaika min Rabbika,’ Rasulullah saw. pun berkata, ‘Ya Rabbi, bagaimana aku harus berbuat, sementara aku sendirian dan orang-orang mengambil sikap menentangku! Lalu turunlah lanjutan ayat berikutnya, ‘wa in lam taf alfa maa ballaghta risaalatahu!”_
*Al-Hakim dan at-Tirmidzi* meriwayatkan dari *Aisyah*, ia berkata:
_“Pada mulanya, Rasulullah saw. selalu dikawal dan dijaga, hingga turunlah ayat, ‘wallaahu ya 'shimuka minan naasi’ lalu beliau menjulurkan kepala beliau dari dalam qubbah (semacam tenda yang berbentuk bulat), dan berkata, ‘Wahai orangorang, pergilah, karena sesungguhnya Allah SWT. telah melindungi dan memelihara diriku!”_ *(HR Tirmidzi dan al-Hakim)*
*As-Suyuthi* mengatakan hadits ini mengandung petunjuk bahwa ayat ini turun pada malam hari ketika Rasulullah saw. berada di tempat tidur beliau.
*Ibnu Hibban* dalam Shahih-nya meriwayatkan dari *Abu Hurairah*, ia berkata:
_“Kami ketika bersama-sama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan, kami akan mencari tempat yang ada pepohonannya, lalu pohon yang paling besar dan paling rindang kami sediakan untuk Rasulullah saw. lalu beliau pun berteduh di bawahnya. Lalu pada suatu hari, Rasulullah saw. pun beristirahat di bawah sebuah pohon dan beliau pun menggantungkan pedang beliau pada pohon itu. Lalu ada seorang laki-laki datang dan mengambil pedang beliau yang tergantung itu, dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapakah yang akan melindungimu dariku?’ Rasulullah saw. pun berkata, ‘Allah SWT. melindungi diriku darimu. Letakkan pedang itu! Lalu laki-laki itu pun meletakkan pedang tersebut. Lalu turunlah ayat, “wallaahu yashimuka minan naasi!”_ *(HR Ibnu Hibban)*
*Ibnu Murdawaih* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, ia berkata,
_“Rasulullah saw. ditanya, ‘Ayat manakah yang diturunkan kepada Anda dari langit, yang paling berat bagi Anda?” Rasulullah saw. bersabda, ‘Pada suatu hari di musim haji, aku berada di Mina, dan ketika itu sedang berkumpul orang-orang musyrik dan banyak lagi orang lain yang tidak diketahui dari kabilah manakah mereka. Lalu Jibril a.s turun kepadaku dengan membawa wahyu, ‘yaa ayyuhar Rasuulu balligh maa unzila ilaika min Rabbika, al-Ayat! Lalu aku pun berdiri di al-Aqabah, dan berseru, ‘Wahai sekalian manusia, siapakah yang mau menolongku untuk menyampaikan risalah-risalah Tuhanku, dan kalian akan mendapat imbalan surga? Wahai sekalian manusia, ikrarkanlah, bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku adalah Rasul Allah kepada kalian, maka kalian akan beruntung dan mendapatkan surga! Rasulullah saw. melanjutkan ceritanya, ‘Tidak ada seorang laki-laki pun, tidak pula seorang perempuan dan anaka-anak, melainkan mereka melempariku dengan tanah dan batu, seraya berucap, ‘Pembohong, shaabi (orang yang keluar dari agama nenek moyang mereka)! Lalu terjadi sesuatu pada diriku, lalu aku berdoa, ‘Ya Allah, tunjukilah kaumku, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak tahu. Tolonglah hamba dalam menghadapi mereka supaya mereka bersedia merespon seruanku untuk taat kepadaMu! Lalu paman beliau, al-Abbas pun datang, lalu menyelamatkan beliau dan mengusir mereka.”_ *(HR Ibnu Murdawih)*
*As-Suyuthi* mengatakan, riwayat ini berarti bahwa ayat tersebut turun di Mekah, namun yang zhahir adalah sebaliknya (yaitu turun di Madinah).
*Ar-Razi* menuturkan ketahuilah bahwa riwayat-riwayat tersebut, meskipun banyak, yang lebih utama adalah memahami ayat dalam konteks bahwa Allah SWT menjamin keselamatan Rasulullah saw. dari tipu daya dan konspirasi jahat kaum Yahudi dan Nasrani, serta memerintahkan beliau supaya berdakwah secara terang-terangan tanpa memedulikan mereka.
*2. Ayat 68:*
*Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ibnu Abi Hatim* meriwayatkan dari *Ibnu Abbas*, ia berkata, "Rafi bin Haritsah, Salam Ibnu Miskin, Malik Ibnush Shaif dan Rafi bin Harmalah datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata kepada beliau, 'Wahai Muhammad, bukankah kamu mengklaim bahwa kamu berada di atas millah dan agama Ibrahim, beriman kepada Taurat yang ada pada kami, dan bersaksi bahwa Taurat adalah benar-benar dari Allah SWT’ Lalu Rasulullah saw. bersabda, ‘Benar, tetapi kalian telah membuat-buat hal baru yang tidak memiliki dasar dalam Taurat, serta mengingkari apa yang terkandung di dalamnya berupa perjanjian yang telah dikukuhkan terhadap kalian. Kalian juga menyembunyikan apa-apa yang kalian diperintahkan untuk menjelaskannya kepada orang-orang, dan aku berlepas diri dari apa-apa yang kalian buat-buat itu.’ Mereka pun berkata, 'Jika begitu, sesungguhnya kami tetap memegang apa yang ada pada kami, kami berada di atas kebenaran dan petunjuk, kami tidak beriman kepadamu dan kami tidak mau mengikutimu.’ Lalu Allah SWT pun menurunkan ayat ini.
Ibnu Abbas mengatakan, "Ada sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah saw. lalu mereka berkata, 'Bukankah anda mengakui bahwasanya Taurat benar-benar dari sisi Allah?’ Rasulullah saw. berkata, ‘Ya.’ Mereka kembali berkata, 'Jika begitu, kami beriman kepada Taurat dan tidak beriman kepada yang lainnya." Lalu turunlah ayat ini, yaitu kalian wahai Ahlul Kitab sama sekali tidak berada di atas sesuatu dari agama hingga kalian mengamalkan apa yang terdapat dalam Taurat dan Injil berupa keimanan kepada Nabi Muhammad saw. serta mengimplementasikan apa yang menjadi implikasi dan tuntutan hal itu.
*FIQIH KEHIDUPAN ATAU HUKUM-HUKUM*
Ayat _tabliigh_ ini (۞ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ) mengandung pengertian yang mementahkan penilaian orang-orang yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw. menyembunyikan sesuatu dari perkara agama dengan tujuan _taqiyyah_ (melindungi diri). Ayat ini juga mengandung dalil yang menunjukkan kekeliruan pandangan seperti ini yang dilontarkan oleh sekte ar-Rafidhah.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. tidak pernah merahasiakan sesuatu dari perkara agama sedikit pun kepada seseorang. Makna ayat ini adalah wahai Rasul, sampaikanlah semua apa yang diturunkan kepadamu secara terang dan terbuka.
*Ibnu Abbas* mengatakan makna ayat ini adalah "Wahai Rasul, sampaikanlah semua apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika kamu menyembunyikan sesuatu dari apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu berarti kamu tidak menyampaikan risalahNya." Ini merupakan sebuah pendidikan bagi Nabi Muhammad saw. dan para pengemban amanah ilmu dari umat beliau untuk tidak menyembunyikan sesuatu dari perkara syari'at beliau. Allah SWT tentu sudah tahu dari perkara Nabi-Nya bahwa ia tidak menyembunyikan sesuatu apa pun dari wahyu-Nya.
Ayat (وَٱللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِ ۗ) mengandung bukti tentang kenabian Nabi Muhammad saw. Allah SWT menginformasikan bahwa beliau adalah makshum, dan barangsiapa yang Allah SWT. menjamin kemakshumannya, tidak mungkin ia meninggalkan sesuatu dari apa yang diperintahkan Allah SWT kepadanya.
Ayat (ٱلنَّاسِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ) menunjukkan bahwa orang-orang kafir terhalang dari mendapatkan taufik dari Allah SWT kepada kebaikan dan kebahagiaan. Mereka, disebabkan kekufuran mereka, telah menghalangi sendiri rahmat Allah SWT dari diri mereka.
Ayat (قُلْ يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ) menunjukkan bahwa umat Yahudi dan Nasrani sebenarnya mereka sama sekali tidak bisa dikatakan telah meneguhi sesuatu dari agama, hingga mereka benar-benar mengamalkan apa yang terdapat dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, sehingga mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw, juga hingga mereka mengamalkan apa yang menjadi implikasi dan konsekuensinya.
Barangsiapa yang kafir, Allah SWT menjadikannya semakin bertambah kekafirannya serta semakin melampaui batas dan intensif dalam kezaliman.
Pelajaran bagi seorang Muslim dari ayat ini adalah ia harus mengetahui dan menyadari bahwa ia sama sekali belum dianggap meneguhi sesuatu dari perkara agama, hingga ia menegakkan Al-Qur'an, menjalankan petunjuknya dan mematuhi batasannya.
Ayat (إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَادُوا۟ ) mengisyaratkan secara tersirat bahwa Ahlul Kitab tidak menegakkan agama Allah SWT, tidak menghapal dan memelihara nash-nash kitab-kitab suci yang diturunkan, tidak membiarkan apa yang ada pada mereka tetap apa adanya, tetapi mereka mentakwili, memplintir dan memberikan interpretasi dalam bentuk yang keliru dan rusak, tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, dan tidak pula mengerjakan amal-amal saleh.===
*Tafsir Al Munir*
KKTA Plus 4
Tim Kurikulum Evaluasi
2025/2026
